MAKKAH, KOMPAS.com - Penantian panjang Marsiyah Salim (105) untuk melihat Ka’bah secara langsung akhirnya terwujud. Jemaah haji berusia 105 tahun asal Desa Bulu, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri ini tiba di kawasan Masjidil Haram pada Sabtu (23/5/2026) dini hari, sekitar pukul 01.30 Waktu Arab Saudi (WAS).
Dia menunaikan tawaf menggunakan kursi roda yang didorong oleh putri keduanya, Maidah (63). Mereka diarahkan naik ke lantai dua Masjidil Haram, area khusus bagi jemaah berkursi roda yang berhadapan langsung dengan mataf dan Ka'bah.
Saat kursi roda bergerak perlahan mendekati jendela, Maidah segera mengarahkan pandangan ibunya. “Mak, iku (itu) lho, Ka’bah,” ucap Maidah sembari menunjuk ke arah kiri.
Marsiyah tertegun. Ia terdiam sesaat ketika menyadari bangunan persegi terbungkus kiswah hitam yang selama ini mewarnai doa malamnya benar-benar ada di hadapannya. Ia baru tersadar saat dipersilakan untuk mulai berdoa, dan senyumnya pun langsung merekah.
Baca juga: Haji 2026 Tetap Dipadati Jemaah meski Timur Tengah Memanas, Lebih dari 1,5 Juta Orang Tiba di Saudi
Perlahan, Marsiyah melantunkan doa yang telah ia hafal mati bertahun-tahun. Sesekali tangannya melambai dan mengecup telapak tangan saat melintasi sudut Hajar Aswad.
“Bismillahi Allahu Akbar, Bismillahi Allahu Akbar, Bismillahi Allahu Akbar,” ucapnya.
Satu setengah jam tawaf menempuh lintasan sepanjang 6,5 kilometer, nenek kelahiran 1 Juli 1921 ini tampak sangat tenang menikmati pengalaman spiritualnya. Usai menyelesaikan tawaf dan bersiap melaksanakan shalat sunah, rasa syukur yang mendalam terpancar dari wajahnya.
“Alhamdulillah, iso ndeleng (bisa melihat) Ka’bah,” ucapnya seraya tertawa bahagia.
Perjalanan suci jemaah tertua se-Indonesia ini bermula dari sebuah kaleng sederhana. Bertahun-tahun silam, warga Kabupaten Kediri ini rutin menyisihkan uang hasil berjualan bubur di depan rumahnya. Niatnya hanya satu: bisa melihat Kabah secara langsung.
"Menabung, saya jualan jenang (bubur). Nabung dikit-dikit di kaleng. Kadang Rp 5 ribu, Rp 2 ribu. Setelah terkumpul saya hitung, lalu ditambahi anak saya," kenang Marsiyah saat diwawancarai di bandara Jeddah.
Kondisi fisik Marsiyah memang terbilang sangat baik untuk ukuran manusia yang usianya sudah lebih dari satu abad. Untuk menjaga staminanya sebelum berangkat, ia punya rutinitas olahraga ringan, meski tak lagi bisa memaksakan diri. "Jalan-jalan saja di rumah, sebentar-sebentar saja, enggak kuat lama,” ungkapnya.
Baca juga: Kisah Jemaah Haji Asal Tegal yang Tetap Bersyukur Meski Harus Jalani Amputasi di Makkah
Sehari-hari, saat masih di Tanah Air, Marsiyah lebih banyak menghabiskan waktu beristirahat. "Sekarang tua enggak ada kegiatan. Enggak pernah ke rumah tetangga, di rumah saja," ucap nenek yang gemar minum susu ini.
Tahun ini, Marsiyah menunaikan ibadah haji dengan pendampingan anak keduanya, Muidah (62). Mereka mendaftar haji pada tahun 2021 dan langsung mendapat prioritas keberangkatan karena faktor usia lansia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang