KOMPAS.com - Di tengah dinamika hidup modern yang serba cepat, persoalan rezeki kerap dipahami sebatas hasil kerja keras dan strategi ekonomi semata.
Padahal dalam perspektif Islam, rezeki tidak hanya berbicara tentang kuantitas materi, tetapi juga kualitas keberkahan. Ada dimensi spiritual yang sering luput disadari, hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.
Di sinilah istighfar dan amalan membaca Surat Al-Waqiah menemukan relevansinya. Keduanya bukan sekadar ritual, melainkan praktik spiritual yang memiliki akar kuat dalam Al-Qur’an, hadis, serta tradisi keilmuan Islam.
Baca juga: Jelang UTBK 2026, Ini Doa Ibu untuk Anak agar Dimudahkan dan Lulus SNBT
Istighfar sering dipahami sebagai permohonan ampun atas dosa. Namun, dalam banyak ayat Al-Qur’an, istighfar juga dikaitkan langsung dengan kelapangan rezeki.
Allah SWT berfirman dalam QS Nuh [71]: 10–12:
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.”
Ayat ini menunjukkan relasi yang jelas antara istighfar dan keberlimpahan rezeki. Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa istighfar bukan hanya menghapus dosa, tetapi juga menjadi sebab turunnya nikmat duniawi, termasuk rezeki yang luas.
Dalam buku Al-Wabil ash-Shayyib, karya Ibn Qayyim al-Jauziyah, dijelaskan bahwa istighfar memiliki efek spiritual yang luas, membersihkan hati, membuka jalan keluar dari kesempitan, dan mendatangkan pertolongan Allah dalam bentuk yang tidak disangka-sangka.
Ia menegaskan bahwa dosa dapat menjadi penghalang rezeki, sementara istighfar adalah kunci pembukanya.
Lebih jauh, Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa memperbanyak istighfar, niscaya Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dari setiap kesempitan dan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR Ahmad dan Abu Dawud)
Secara empiris dalam kehidupan umat Muslim, praktik istighfar yang konsisten sering dikaitkan dengan ketenangan batin.
Ketika batin tenang, keputusan menjadi lebih jernih, peluang lebih mudah terlihat, dan usaha lebih terarah. Di sinilah dimensi spiritual bertemu dengan realitas sosial-ekonomi.
Baca juga: Bacaan Tahlil Lengkap Arab, Latin, dan Artinya, Disertai Doa Tahlil untuk Orang Meninggal
Surat Al-Waqiah dikenal luas sebagai “surat pembuka rezeki”. Tradisi ini berkembang dalam praktik keagamaan masyarakat Muslim, meskipun para ulama memiliki pandangan berbeda terkait kekuatan hadis yang mendasarinya.
Dalam sebuah riwayat disebutkan:
“Barang siapa membaca Surat Al-Waqiah setiap malam, maka ia tidak akan ditimpa kefakiran.”
Walaupun sebagian ulama menilai hadis ini memiliki kelemahan sanad, banyak ulama lain tetap menganjurkan pembacaannya sebagai bagian dari amalan yang baik (fadhail al-a’mal).
Dalam buku Fadhail al-Qur’an, karya Imam al-Qurthubi, dijelaskan bahwa membaca Al-Qur’an secara rutin, termasuk Surat Al-Waqiah, memiliki efek spiritual yang mendalam.
Bukan semata karena “janji kekayaan”, tetapi karena Al-Qur’an membentuk kesadaran tauhid, menguatkan ketergantungan kepada Allah, dan mengikis kecemasan terhadap dunia.
Secara tematik, Surat Al-Waqiah berbicara tentang kepastian hari kiamat, pembagian manusia dalam tiga golongan, serta gambaran balasan bagi masing-masing.
Pesan utamanya justru mengarahkan manusia untuk tidak terlalu bergantung pada dunia, melainkan pada Allah sebagai sumber segala rezeki.
Dengan demikian, membaca Surat Al-Waqiah bukanlah “formula instan” untuk kaya, tetapi proses membangun mentalitas tawakal dan keyakinan bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah.
Selain istighfar dan membaca Al-Waqiah, terdapat sejumlah amalan lain yang secara teologis dan empiris berkontribusi pada kelapangan rezeki:
Sedekah sering dipandang paradoksal: memberi justru menambah. Namun dalam Islam, ini adalah prinsip fundamental.
Dalam buku Keajaiban Sedekah, karya Yusuf Mansur, dijelaskan bahwa sedekah tidak hanya berdampak spiritual, tetapi juga sosial.
Ia membuka jaringan kebaikan, memperluas relasi, dan menghadirkan peluang baru yang tidak terduga.
Al-Qur’an sendiri menegaskan dalam QS Al-Baqarah [2]: 261 bahwa satu kebaikan dapat dilipatgandakan hingga 700 kali.
Syukur bukan hanya ucapan, tetapi sikap mental. Dalam konteks psikologi modern, rasa syukur terbukti meningkatkan kesejahteraan emosional dan optimisme.
Dalam buku Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa syukur adalah bentuk pengakuan atas nikmat Allah, yang jika dilakukan dengan benar, akan mengundang tambahan nikmat.
Allah berjanji dalam QS Ibrahim [14]: 7 bahwa syukur akan menambah nikmat. Ini bukan sekadar janji metafisik, tetapi juga realitas sosial, orang yang bersyukur cenderung lebih produktif dan positif.
Baca juga: Punya Utang? Amalkan Doa Pelunas Utang dari KH Achmad Chalwani, Pengasuh Ponpes An Nawawi
Rezeki tidak datang hanya dengan doa, tetapi juga usaha. Islam menekankan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal.
Dalam buku Fiqh al-Awlawiyat, karya Yusuf al-Qaradawi, dijelaskan bahwa umat Islam tidak boleh terjebak pada fatalisme.
Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan menyerahkan hasil setelah maksimal berikhtiar.
Pada akhirnya, pembahasan tentang istighfar dan Surat Al-Waqiah mengarah pada satu hal mendasar, bagaimana seorang Muslim memandang rezeki itu sendiri.
Rezeki bukan sekadar angka dalam rekening, tetapi mencakup kesehatan, ketenangan, keluarga yang harmonis, dan kemudahan dalam menjalani hidup. Dalam kerangka ini, amalan spiritual menjadi fondasi yang memperkuat usaha duniawi.
Istighfar membersihkan jalan, Al-Waqiah menguatkan keyakinan, sedekah memperluas keberkahan, dan syukur menjaga kesinambungan nikmat. Semua ini membentuk satu ekosistem spiritual yang saling terhubung.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, pendekatan ini justru menjadi relevan. Ia menawarkan stabilitas batin di saat dunia luar penuh fluktuasi.
Maka, mungkin pertanyaannya bukan lagi “bagaimana menambah rezeki?”, tetapi “bagaimana menjadikan rezeki itu berkah?”
Dan jawabannya, sering kali, dimulai dari sesuatu yang sederhana, istighfar yang tulus, ayat-ayat yang dibaca dengan hati, dan keyakinan bahwa Allah tidak pernah salah dalam memberi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang