Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gubernur NTB Puji Khofifah sebagai Teladan Perempuan, Ajak Muslimat NU Perkuat Ketahanan Keluarga

Kompas.com, 6 April 2026, 09:59 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal, memuji Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa, sebagai sosok teladan perempuan yang berperan besar dalam pembangunan sosial dan ketahanan keluarga.

Pujian tersebut disampaikan dalam acara pengukuhan 10 Pengurus Cabang (PC) Muslimat Nahdlatul Ulama se-NTB di Mataram, Minggu (5/4/2026).

Dalam kesempatan itu, Khofifah juga mengajak seluruh kader Muslimat NU untuk aktif membantu pemerintah daerah dalam mencegah pernikahan dini.

Baca juga: Cara Ulama Membaca Buku: Bukan Sekadar Banyak, Tapi Mendalam dan Bertahap

“Kita semua memiliki tanggung jawab untuk mencegah persoalan sosial, khususnya pernikahan usia dini. Peran ibu-ibu sangat besar, tetapi ini juga membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat,” kata Khofifah.

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menilai apa yang disampaikan Khofifah sejalan dengan tantangan sosial yang dihadapi daerah saat ini.

Ia menegaskan bahwa berbagai persoalan seperti pernikahan dini hingga penyalahgunaan narkoba tidak lepas dari melemahnya nilai-nilai keluarga.

Karena itu, ia mengajak Muslimat NU untuk menjadi garda terdepan dalam menjaga ketahanan keluarga di tengah perubahan sosial yang semakin kompleks.

Khofifah sendiri menekankan bahwa keluarga merupakan pilar utama menuju Indonesia Emas. Menurutnya, ketahanan keluarga menjadi benteng pertama dalam menjaga kekuatan bangsa.

“Keluarga adalah benteng pertama. Jika benteng ini rapuh, maka pertahanan bangsa juga akan goyah,” ujarnya.

Ia juga mendorong kader Muslimat NU untuk tetap menjaga nilai tradisi, sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan digital.

Kemandirian perempuan, menurut Khofifah, mencakup aspek berpikir, bertindak, ekonomi, serta perlindungan anak.

Dalam bidang dakwah, Khofifah mengingatkan pentingnya memperkuat pendekatan nyata atau dakwah bilhal.

Ia mencontohkan program vaksinasi yang telah berjalan di NTB dengan capaian hingga 97 persen melalui kerja sama dengan Global Alliance for Vaccination Indonesia (GAVI).

Selain itu, Muslimat NU juga mengembangkan gerakan lingkungan melalui penanaman pohon berbasis pesantren yang disebut sebagai “sedekah oksigen”.

Di sisi lain, Ketua PWNU NTB, Prof Masnun, turut mengapresiasi kiprah Khofifah yang dinilai sebagai sosok inspiratif bagi perempuan.

“Beliau adalah uswatun hasanah bagi kita semua. Kiprahnya membuktikan bahwa perempuan memiliki peran besar dan kesempatan yang sama dalam membangun peradaban,” ujarnya.

Baca juga: Surga Mawar Arab Saudi! Panen Taif Melimpah, Hasilkan Minyak Wangi Termahal Dunia

Menurutnya, perempuan memiliki posisi strategis dalam pembangunan dan tidak sekadar menjadi pelengkap, melainkan aktor utama dalam menciptakan perubahan sosial.

Pujian Gubernur NTB terhadap Khofifah menegaskan pentingnya peran perempuan dalam pembangunan bangsa.

Melalui Muslimat NU, perempuan diharapkan terus menjadi motor penggerak dalam menjaga ketahanan keluarga, mencegah persoalan sosial, serta mendorong terciptanya masyarakat yang lebih kuat dan berdaya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Aktual
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
Aktual
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Aktual
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Aktual
Menag: Imam Harus Jadi Jembatan Perdamaian dan Diplomat Komunitas
Menag: Imam Harus Jadi Jembatan Perdamaian dan Diplomat Komunitas
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar