Editor
KOMPAS.com – Majelis Ulama Indonesia menerima kunjungan silaturahim Duta Besar Iran untuk Indonesia, Yang Mulia Mohammad Boroujerdi, di Kantor MUI, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (6/4/2026).
Pertemuan ini membahas situasi terkini di Iran, termasuk penyerangan oleh Amerika Serikat dan Israel, serta upaya mendorong perdamaian dunia.
Silaturahim tersebut disambut langsung oleh jajaran pimpinan MUI, di antaranya Wakil Ketua Umum Cholil Nafis, Marsudi Syuhud, serta Sekretaris Jenderal Amirsyah Tambunan.
Wakil Ketua Umum MUI, KH Cholil Nafis, menjelaskan bahwa pertemuan tersebut menjadi ruang diskusi penting untuk memahami kondisi yang terjadi di Iran.
"Hari ini kami menerima tamu Duta Besar Iran untuk Indonesia Yang Mulia Mohammad Boroujerdi untuk mendiskusikan hal terkini di Iran dan penyerangan Amerika dan Israel," kata Kiai Cholil dilansir dari MUI Digital.
Ia menambahkan, berbagai informasi yang disampaikan Dubes Iran memberikan perspektif baru sekaligus membuka peluang solusi konflik dalam bingkai persahabatan.
"Banyak informasi yang bisa diserap dan memberi diskusi solusi konflik. Tentu itu dalam bingkai persahabatan," ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Boroujerdi juga menyampaikan komitmen Iran untuk mempererat hubungan dengan Indonesia.
"Termasuk mempermudah akses kapal tanker Indonesia yang melintasi Selat Hormuz," kata Kiai Cholil.
Sebelum pertemuan tersebut, MUI lebih dulu menggelar konferensi pers untuk menyampaikan seruan kepada umat Islam, bangsa Indonesia, dan masyarakat dunia agar menghentikan perang.
Dalam taujihat yang dibacakan para pimpinan MUI, ditegaskan bahwa ajaran agama menolak segala bentuk kerusakan dan menempatkan perdamaian sebagai jalan utama.
Wakil Ketua Umum MUI, KH Marsudi Syuhud, secara tegas menyebut pihak yang memulai konflik.
"Pernyataan yang disarankan adalah kalimat sederhana namun kuat, yakni: “Saya yang memulai perang, maka saya yang mengakhirinya.” Kalimat tersebut memiliki kekuatan moral dan wibawa untuk menjaga kehormatan Amerika Serikat dan Israel sekaligus berpotensi menghentikan konflik secara efektif," jelasnya.
Baca juga: 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon, MUI Serukan Shalat Ghaib dan Kecam Serangan Israel
MUI menegaskan bahwa penghentian agresi merupakan bagian dari perintah agama, sekaligus langkah penting untuk mencegah kerusakan yang lebih luas. Jika serangan terus berlanjut, maka perlawanan juga akan terus terjadi.
Karena itu, MUI mendorong pihak yang memulai konflik untuk mengambil tanggung jawab mengakhirinya demi terciptanya perdamaian dunia.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.