Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Pembebasan Al-Aqsa oleh Shalahuddin: Strategi 12 Hari

Kompas.com, 10 April 2026, 09:45 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Fajar itu datang pelan di langit Yerusalem. Udara masih menyisakan dingin malam ketika gema takbir perlahan menggantikan dentang lonceng yang selama puluhan tahun mendominasi kota suci tersebut.

Hari itu, Jumat 27 Rajab 583 Hijriah, menjadi penanda sebuah peristiwa besar dalam sejarah Islam, pembebasan Masjid Al-Aqsa oleh Shalahuddin Al-Ayyubi.

Namun kemenangan itu tidak lahir dalam semalam. Ia adalah puncak dari perjalanan panjang, strategi matang, dan kesabaran yang ditempa selama bertahun-tahun.

Dari Tikrit ke Panggung Sejarah Dunia

Lahir dengan nama lengkap Yusuf bin Ayyub pada 532 H/1137 M di Tikrit, Shalahuddin tumbuh dalam lingkungan militer sekaligus religius.

Ayahnya, Najmuddin Ayyub, merupakan pejabat penting, sementara pamannya, Asaduddin Syirkuh, adalah panglima perang yang berpengaruh.

Dalam buku Para Panglima Perang Islam karya Rizem Aizid, disebutkan bahwa sejak muda, Shalahuddin dikenal bukan hanya karena kecakapannya di medan perang, tetapi juga karena kecenderungannya pada ilmu agama dan akhlak yang lembut.

Ia bukan tipe penakluk yang haus darah, melainkan pemimpin yang menjadikan jihad sebagai jalan pembebasan, bukan penghancuran.

Karier militernya mulai menanjak saat mengikuti ekspedisi ke Mesir bersama pamannya. Dari sinilah ia kemudian menjadi wazir, lalu mendirikan Dinasti Ayyubiyah, sebuah kekuatan besar yang kelak menjadi fondasi pembebasan Al-Aqsa.

Baca juga: Asal Usul Hormuz hingga Duel Khalid bin Walid yang Mengubah Sejarah

Luka Panjang Perang Salib

Selama hampir 88 tahun, Yerusalem berada di bawah kekuasaan pasukan Salib sejak jatuhnya kota itu pada 1099 M dalam peristiwa berdarah Perang Salib Pertama.

Ribuan kaum Muslimin dan Yahudi dibantai, sementara Masjid Al-Aqsa diubah fungsi dan kehilangan kesuciannya.

Dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir menggambarkan betapa dalamnya luka umat Islam akibat peristiwa tersebut.

Yerusalem bukan sekadar kota, tetapi simbol spiritual yang mengikat sejarah kenabian dan peradaban Islam.

Kesadaran inilah yang perlahan tumbuh dalam diri Shalahuddin, bahwa pembebasan Al-Aqsa bukan hanya misi politik, tetapi panggilan iman.

Menyatukan Dunia Islam yang Terpecah

Salah satu langkah paling krusial yang dilakukan Shalahuddin bukanlah menyerang, melainkan menyatukan.

Dunia Islam saat itu terpecah dalam berbagai dinasti dan konflik internal. Tanpa persatuan, mustahil menghadapi kekuatan besar pasukan Salib.

Dalam buku Strategi Shalahuddin Al-Ayyubi dalam Penaklukan Baitul Maqdis karya Amir Sahidin, dijelaskan bahwa Shalahuddin memulai langkahnya dengan konsolidasi kekuasaan di Mesir dan Syam.

Ia membangun stabilitas politik, memperkuat ekonomi, serta menanamkan semangat jihad melalui dakwah para ulama.

Masjid, majelis ilmu, dan khutbah Jumat menjadi sarana membangkitkan kesadaran kolektif umat. Para ulama berperan sebagai motor spiritual, sementara militer disiapkan secara sistematis.

Ibnu Katsir mencatat bahwa ketika kabar rencana pembebasan Al-Aqsa tersebar, kaum Muslimin dari berbagai wilayah datang dengan sukarela. Mereka bukan tentara bayaran, tetapi orang-orang yang digerakkan oleh keyakinan.

Baca juga: Usianya Belum 22 Tahun, Al-Fatih Taklukkan Kota yang Dianggap Mustahil

Strategi Pengepungan: Mengunci dari Segala Arah

Alih-alih menyerang secara frontal, Shalahuddin memilih strategi yang lebih kompleks: pengepungan total. Ia memahami bahwa Yerusalem memiliki benteng kuat dan dukungan logistik dari laut.

Langkah pertama adalah menguasai wilayah-wilayah strategis di sekitar Yerusalem, termasuk daerah pesisir. Dengan ini, jalur bantuan pasukan Salib dari Eropa dapat diputus.

Armada laut dari Mesir dikerahkan untuk memblokade pergerakan kapal musuh. Ini menjadi langkah penting yang sering luput dari perhatian, karena menunjukkan bahwa Shalahuddin tidak hanya unggul di darat, tetapi juga memahami pentingnya dominasi laut.

Di darat, ia memobilisasi pasukan dari berbagai wilayah, Mesir, Syam, hingga Jazirah Arab. Mereka bergerak dalam satu komando, sebuah hal yang jarang terjadi sebelumnya.

Teknologi Perang dan Peran Para Insinyur

Kemenangan Shalahuddin juga tidak lepas dari pemanfaatan teknologi perang. Ia membawa berbagai alat berat seperti manjaniq (pelontar batu), bahan bakar, serta perlengkapan untuk meruntuhkan tembok kota.

Dalam catatan Amir Sahidin, disebutkan bahwa para insinyur memainkan peran vital. Mereka menganalisis struktur benteng, mencari titik lemah, dan menentukan posisi strategis untuk serangan.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa perang tidak hanya soal keberanian, tetapi juga ilmu dan perencanaan.

Kombinasi antara kekuatan militer, teknologi, dan strategi menjadi kunci keberhasilan pengepungan.

Dua Belas Hari yang Menentukan

Pengepungan Yerusalem berlangsung selama sekitar 12 hari. Tekanan demi tekanan membuat pasukan Salib yang dipimpin oleh Balian dari Ibelin semakin terdesak.

Namun yang menarik, di tengah situasi genting, Shalahuddin tetap membuka ruang negosiasi. Ia tidak menginginkan pertumpahan darah seperti yang terjadi pada 1099.

Akhirnya, Balian menyerah dengan syarat keselamatan bagi penduduk kota. Shalahuddin menerima syarat tersebut.

Ia bahkan memberikan jaminan keamanan bagi warga Kristen, serta membebaskan banyak tawanan.

Dalam buku The Life of Saladin karya Beha ad-Din Ibn Shaddad, disebutkan bahwa sikap ini mencerminkan akhlak kepemimpinan Shalahuddin yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Baca juga: Harta Rampasan Perang Khalid vs Hormuz: Fakta yang Jarang Dibahas

Kemenangan Tanpa Dendam

Saat memasuki Yerusalem, tidak ada pembantaian. Tidak ada balas dendam. Yang ada justru pembersihan Masjid Al-Aqsa dan pengembalian fungsinya sebagai tempat ibadah.

Karpet digelar, adzan kembali dikumandangkan, dan kota suci itu kembali hidup dalam nuansa spiritual Islam.

Peristiwa ini menjadi kontras tajam dengan tragedi 1099. Jika pasukan Salib masuk dengan pedang terhunus, Shalahuddin masuk dengan hati yang lapang.

Dalam perspektif sejarah, inilah salah satu contoh langka kemenangan yang tidak diwarnai kekejaman.

Warisan yang Melampaui Zaman

Pembebasan Al-Aqsa oleh Shalahuddin bukan hanya peristiwa militer, tetapi juga simbol peradaban.

Ia menunjukkan bahwa kekuatan sejati tidak hanya terletak pada senjata, tetapi pada persatuan, strategi, dan nilai moral.

Dalam kajian modern, banyak sejarawan melihat Shalahuddin sebagai figur yang mampu menggabungkan antara kepemimpinan militer dan spiritual. Ia bukan hanya penakluk, tetapi juga pembangun.

Warisan ini tetap relevan hingga hari ini. Di tengah dunia yang penuh konflik, kisah Shalahuddin menawarkan pelajaran tentang bagaimana kekuatan dapat digunakan dengan bijak.

Refleksi: Antara Sejarah dan Harapan

Kisah pembebasan Al-Aqsa adalah pengingat bahwa perubahan besar tidak terjadi secara instan. Ia membutuhkan proses panjang, kesabaran, dan keyakinan.

Shalahuddin tidak hanya memenangkan perang, tetapi juga memenangkan hati manusia. Ia membuktikan bahwa kemenangan sejati adalah ketika keadilan dan kemanusiaan berjalan beriringan.

Di balik tembok-tembok tua Yerusalem, sejarah itu masih berbisik. Tentang seorang pemimpin yang datang bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk membebaskan. Dan mungkin, di situlah letak kekuatan sejati sebuah peradaban.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Aktual
5 Tips Padu Padan 'Modest Wear' untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
5 Tips Padu Padan "Modest Wear" untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
Aktual
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Aktual
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
Doa dan Niat
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Aktual
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Aktual
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Aktual
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Doa Harian
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar