Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Pasutri Penjual Gudeg di Sleman, Menabung Sejak 2009 hingga Bisa Berangkat Haji 2026

Kompas.com, 16 April 2026, 19:19 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Pasangan suami istri (pasutri) penjual gudeg di Sleman, Rahudin Hasan (61) dan Siti Koringah (52), akhirnya berhasil berangkat haji 2026 setelah menabung sejak 2009.

Pasutri asal Sleman ini menabung dari hasil usaha sehari-hari yaitu berjualan gudeg untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Keterbatasan ekonomi tidak menghalangi tekad keduanya untuk menunaikan ibadah haji.

Dengan menyisihkan penghasilan secara bertahap, biaya haji akhirnya bisa dilunasi dan keberangkatan pun terwujud.

Baca juga: Kisah Dalimin, Calon Jemaah Haji Tertua Asal Klaten yang Keberangkatan Sempat Tertunda karena Sakit

Berawal dari Jualan Gudeg Bermodal Pinjaman

Rahudin Hasan, yang akrab disapa Udin, sebelumnya bekerja sebagai petugas kebersihan di salah satu sekolah dasar.

Ia mengaku penghasilannya saat itu tidak mencukupi kebutuhan bulanan.

Untuk menambah pemasukan, Udin memutuskan meminjam modal dan mulai berjualan gudeg sejak 2009. Ia memulai usaha dengan tenda sederhana di bawah pohon rambutan.

Baca juga: Digitalisasi Haji Terkendala Jemaah Lansia, Dirjen: Perlu Pendampingan Keluarga

Seiring waktu, gudeg buatannya diminati pembeli dan usahanya mulai berkembang. Dari hasil berjualan tersebut, ia dan istrinya mulai menyisihkan pendapatan untuk tabungan haji.

“Ya kemudian mulai menabung sedikit-sedikit, ya nggak mesti. Karena jualan dapatnya berapa, belanjanya berapa, dikurangi untuk tenaga, untuk sehari-hari, untuk kuliah anak, nah sisanya itu yang kami tabung. Kami nabung dari 2009, mendaftarkan haji tahun 2012,” terangnya saat ditemui di Jalan Tajem-Kadisoka 77, Maguwoharjo, Sleman, Kamis (16/4/2026).

Selain menjual gudeg, mereka juga menerima titipan jajan pasar untuk menambah penghasilan sekaligus mempercepat tabungan.

Telaten Menabung hingga Biaya Haji Lunas

Dari penghasilan yang tidak menentu, pasangan ini berhasil mengumpulkan tabungan sebesar Rp 25 juta.

Untuk memenuhi syarat pendaftaran haji, mereka kemudian mencari pinjaman sebesar Rp 25 juta.

Dengan niat kuat untuk beribadah, keduanya mengaku mendapatkan kemudahan hingga akhirnya mampu melunasi biaya haji.

Mereka akhirnya mendapat kepastian keberangkatan dan dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada 24 April 2026.

Persiapan Menjelang Keberangkatan

Menjelang keberangkatan, Udin mengaku merasakan campuran perasaan gugup dan siap.

“Rasanya deg-degan, tapi sudah siap. Sebelumnya sudah manasik haji, persiapan fisik juga susah. Kalau sore agak selo (senggang) itu jalan-jalan. Kan jualan ya udah olahraga. Terus belajar juga dari YouTube filosofi-filosofi sai, ya belajar untuk menambah wawasan,” ujarnya.

Selain persiapan fisik dan manasik haji, pasangan ini juga mengikuti perkembangan situasi global. Kondisi konflik di Timur Tengah sempat menimbulkan kekhawatiran.

Meski demikian, Udin memilih untuk tetap yakin dan berserah diri.

“Kekhawatiran ada, tapi ya kita pasrah saja pada Allah SWT. Niat kita ibadah, Allah yang mengatur,” lanjutnya.

Berangkat Haji Jadi Hadiah Ulang Tahun Istri

Sementara bagi sang istri, Siti Koringah, keberangkatan haji tahun ini menjadi momen istimewa. Tepat pada 9 April 2026, ia merayakan ulang tahunnya yang ke-52.

“Kami nggak pernah merayakan (ulang tahun), tapi ini (naik haji) jadi kado ulang tahun,” ungkapnya.

Ia mengaku sempat pesimis bisa berangkat haji karena keterbatasan ekonomi. Namun, keyakinan dan usaha yang konsisten akhirnya membuahkan hasil.

“Kita dulu pernah berpikir apa mungkin bisa ke sana, soalnya biayanya juga mahal. Terus kita itu cuma jualan kayak gini. Ya tidak menyangka, tapi Alhamdulillah Allah memberikan kemudahan. Karena niatnya ibadah, semuanya diberikan kelancaran. Tes kesehatan juga bagus semua, alhamdulillah,” imbuhnya.

Dalam keseharian, Siti menjalani rutinitas yang padat. Ia mulai memasak gudeg sejak pukul 16.30 hingga 23.00, kemudian beristirahat sejenak sebelum kembali bersiap berjualan pada dini hari.

Sekitar pukul 04.00, ia sudah berada di lokasi untuk menjual gudeg dan jajan pasar.

Meski aktivitas padat, ia tetap menjaga semangat dan kebahagiaan sebagai kunci menjalani usaha dan kehidupan.

“Alhamdulillah semuanya diberikan kemudahan. Kuncinya tu bahagia, kalau pas libur itu saya sama suami muter-muter, jalan-jalan keluar naik motor, ya sampai Kulon Progo. Pokoknya senang-senang saja. Kalau capek ya istirahat, paling ya pijet,” pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di TribunJogja.com dengan judul "Menabung Sejak 2009, Pasangan Penjual Gudeg di Sleman Berhasil Kumpulkan Biaya Naik Haji Tahun Ini".

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT



Terkini Lainnya
1.344 Calon Petugas Haji Ikuti Tes CAT Serentak di 35 Titik BKN
1.344 Calon Petugas Haji Ikuti Tes CAT Serentak di 35 Titik BKN
Aktual
Haedar Nashir Ungkap Alasan Muhammadiyah Tidak Memiliki Dewan Syuro
Haedar Nashir Ungkap Alasan Muhammadiyah Tidak Memiliki Dewan Syuro
Aktual
Doa Menghadapi Bencana: Gempa, Banjir, hingga Gunung Meletus
Doa Menghadapi Bencana: Gempa, Banjir, hingga Gunung Meletus
Doa Harian
Aktivis Muda NU Hendriyanto Attan Raih Gelar Kehormatan dari Keraton Surakarta
Aktivis Muda NU Hendriyanto Attan Raih Gelar Kehormatan dari Keraton Surakarta
Aktual
Dua Patung Bunda Maria Bernuansa Nusantara yang Memikat Putri Mahkota Swedia
Dua Patung Bunda Maria Bernuansa Nusantara yang Memikat Putri Mahkota Swedia
Aktual
Muhammadiyah Tangani 3.702 Korban Gempa NTT, ISPA Jadi Keluhan Terbanyak
Muhammadiyah Tangani 3.702 Korban Gempa NTT, ISPA Jadi Keluhan Terbanyak
Aktual
Pendidikan 24 Jam ala Pesantren Dinilai Relevan dengan Kebutuhan Zaman, Mengapa?
Pendidikan 24 Jam ala Pesantren Dinilai Relevan dengan Kebutuhan Zaman, Mengapa?
Aktual
Apa Itu Fikih Sosial KH Ali Yafie? Memahami Agama dari Persoalan Masyarakat
Apa Itu Fikih Sosial KH Ali Yafie? Memahami Agama dari Persoalan Masyarakat
Aktual
Menjaga Bumi Bisa Dimulai dari Bangunan, Ini Pentingnya Konsep Bangunan Hijau
Menjaga Bumi Bisa Dimulai dari Bangunan, Ini Pentingnya Konsep Bangunan Hijau
Aktual
Mengenang 100 Tahun KH Ali Yafie dan Warisan Islam Moderat untuk Indonesia
Mengenang 100 Tahun KH Ali Yafie dan Warisan Islam Moderat untuk Indonesia
Aktual
5 Rukun Islam: Pengertian, Urutan, Makna, dan Penerapannya
5 Rukun Islam: Pengertian, Urutan, Makna, dan Penerapannya
Doa dan Niat
Doa Nabi Yunus: Arab, Latin, Arti, Keutamaan, dan Cara Mengamalkannya
Doa Nabi Yunus: Arab, Latin, Arti, Keutamaan, dan Cara Mengamalkannya
Doa dan Niat
Tak Hanya Bantuan Pangan, ZISWAF Didorong Lindungi Kelompok Rentan
Tak Hanya Bantuan Pangan, ZISWAF Didorong Lindungi Kelompok Rentan
Aktual
Menag Ajak Siswa Seminari Doakan Korban Gempa Flores
Menag Ajak Siswa Seminari Doakan Korban Gempa Flores
Aktual
Solidaritas untuk Korban Gempa Flores, 20 Ton Beras hingga Ribuan Selimut Disalurkan
Solidaritas untuk Korban Gempa Flores, 20 Ton Beras hingga Ribuan Selimut Disalurkan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar