Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Kakek Usia 103 Tahun yang Jadi Jemaah Haji Tertua DIY, Berangkat untuk Tunaikan Wasiat Istri

Kompas.com, 17 April 2026, 15:24 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Seorang lansia asal Randusari-Karanganom, Kalurahan Sitimulyo, Kapanewon Piyungan, Kabupaten Bantul, tercatat sebagai calon jemaah haji tertua di Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2026.

Sosok tersebut adalah Mardijiyono Karto Sentono yang kini berusia 103 tahun yang dijadwalkan berangkat ke Arab Saudi pada 1 Mei 2026 untuk menunaikan ibadah haji.

Di usia yang sangat lanjut, semangat Mardijiyono tetap tinggi untuk menyempurnakan rukun Islam kelima.

Baca juga: Kisah Pasutri Penjual Gudeg di Sleman, Menabung Sejak 2009 hingga Bisa Berangkat Haji 2026

Cucu Mardijiyono, Dewi Rusmala (33), mengatakan sang kakek akan berangkat haji tanpa didampingi keluarga secara langsung.

Namun, selama menjalankan ibadah di Tanah Suci, Mardijiyono akan mendapat pendampingan khusus dari petugas haji karena faktor usia, gangguan pendengaran, dan keterbatasan berjalan.

"Mbah kan kakinya sakit karena sempat jatuh waktu lagi di rumah anaknya yang ada di Jakarta," ucapnya, saat dijumpai Tribun Jogja di rumahnya, Jumat (17/4/2026).

Baca juga: Kisah Suraya, Jemaah Haji Termuda Asal Ponorogo yang Didaftarkan Sejak Balita

Kondisi Kesehatan Mardijiyono Membaik dan Siap Berangkat

Dewi menjelaskan, sang kakek sempat dibawa ke dokter dan disarankan menjalani operasi.

Namun, keluarga memilih pengobatan alternatif karena khawatir masa pemulihan berlangsung lama.

Saat ini kondisi Mardijiyono disebut mulai membaik, meski masih membutuhkan bantuan walker saat berjalan.

Mardijiyono Berangkat Haji untuk Menjalankan Wasiat Istri

Keberangkatan Mardijiyono ke Tanah Suci tidak lepas dari pesan mendiang istrinya. Dewi menuturkan, pada akhir Desember 2019 neneknya jatuh sakit.

Sebelum wafat, sang nenek berwasiat agar Mardijiyono berangkat haji lebih dulu.

"Mbah putri enggak mau (ikut berangkat haji). Katanya Mbah Kakung saja yang berangkat. Waktu itu karena mungkin Mbah Putri sudah tidak sehat juga, sudah sakit-sakitan, tapi Mbah Kakung masih sehat," jelasnya.

Pesan tersebut kemudian diwujudkan oleh Mardijiyono dengan mendaftarkan diri haji pada tahun 2020.

Mardijiyono Dapat Prioritas Kuota Haji Lansia

Awalnya, Mardijiyono dijadwalkan berangkat pada tahun 2045. Namun, ia kemudian memperoleh prioritas kuota haji lansia sehingga bisa berangkat lebih cepat pada musim haji 2026.

"Waktu pendaftaran itu sempat jual sapi sekitar Rp10 juta. Terus kekurangannya berhasil ditambahin, jadi dapat kursi. Karena Mbah kan, dulu selain jadi petani juga beternak sapi. Tapi Mbah itu melihara sapi bareng dengan teman-temannya," ucap Dewi.

Persiapan Manasik dan Perlengkapan Haji

Keluarga terus mendampingi Mardijiyono dalam mengurus kebutuhan keberangkatan haji, termasuk saat mengikuti manasik haji.

Dewi bahkan ikut menggendong sang kakek saat latihan manasik haji di DIY.

"Persiapan Mbah terkait check-up dan sebagainya sudah dilakukan. Jadi, hanya keterbatasan jalan saja. Mbah juga sudah hafal ayat-ayat juga, karena tahun 2023 itu Mbah Mardijiyono sudah sempat melaksanakan ibadah umroh," ujar dia.

Selain pemeriksaan kesehatan, keluarga juga menyiapkan pakaian, sandal, hingga popok yang akan digunakan selama perjalanan ibadah haji.

Persiapan tersebut dibantu anak-anak Mardijiyono yang berjumlah delapan orang.

Cucu Berharap sang Kakek Menjadi Haji Mabrur

Dewi berharap sang kakek dapat menjalankan ibadah haji dengan lancar dan kembali ke Indonesia dalam keadaan sehat.

"Ya semoga Mbah Kakung bisa melaksanakan ibadah haji dengan lancar, selamat, dan kembali ke Tanah Air sebagai haji mabrur," harap Dewi.

Sementara itu, Mardijiyono mengaku bahagia karena bisa segera berangkat haji.

"Ya seneng wae (ya senang saja). Ya nanti doa apa saja yang penting didoa," tutur dia.

Artikel ini telah tayang di TribunJogja.com dengan judul “Kisah Mbah Mardijiyono: Usia 103 Tahun, Tunaikan Wasiat Istri Jadi Jemaah Haji Tertua DIY”. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
PUI: Jangan Jadikan Ayat Al-Qur’an Bahan Olok-olok untuk Promosi Miras
PUI: Jangan Jadikan Ayat Al-Qur’an Bahan Olok-olok untuk Promosi Miras
Aktual
Polemik Istiqlal Masuk Bursa: Menguak Fakta Wakaf Saham Syariah
Polemik Istiqlal Masuk Bursa: Menguak Fakta Wakaf Saham Syariah
Aktual
Bikin Lomba Agustusan Pakai Uang Pendaftaran? Begini Hukumnya
Bikin Lomba Agustusan Pakai Uang Pendaftaran? Begini Hukumnya
Aktual
Legitimasi Historis Tokoh Partai di Pucuk Pimpinan PBNU
Legitimasi Historis Tokoh Partai di Pucuk Pimpinan PBNU
Aktual
Cegah Kekerasan Seksual, Kemenag Wajibkan CCTV hingga Cabut Izin Pesantren Nakal
Cegah Kekerasan Seksual, Kemenag Wajibkan CCTV hingga Cabut Izin Pesantren Nakal
Aktual
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Aktual
5 Tips Padu Padan 'Modest Wear' untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
5 Tips Padu Padan "Modest Wear" untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
Aktual
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar