Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ribuan Jemaah Haji Tiba Bersamaan di Bandara Madinah, Petugas Terapkan Rekayasa Pergerakan

Kompas.com, 25 April 2026, 21:58 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber

KOMPAS.com - Derasnya arus kedatangan jemaah haji Indonesia di Bandara Internasional Prince Mohammad bin Abdulaziz, Madinah, menghadirkan tantangan besar bagi petugas haji.

Dalam waktu singkat, ribuan jemaah bisa tiba hampir bersamaan dari sejumlah kelompok terbang.

Kondisi ini menuntut kecepatan, ketepatan, dan koordinasi agar proses kedatangan tetap tertib.

Petugas di lapangan pun menerapkan skema khusus untuk mencegah penumpukan dan mempercepat pergerakan jemaah menuju bus.

Baca juga: Cerita Penjual Ikan Keliling di Gowa, Berangkat Haji dari Hasil Menabung Mulai Rp 30 Ribu per Hari

Jadwal Penerbangan Padat, Rekayasa Pergerakan Diterapkan

Kepala Daerah Kerja Bandara, Abdul Basir, mengakui, kepadatan jadwal penerbangan menjadi ujian utama, terutama ketika beberapa kloter mendarat dalam waktu berdekatan—bahkan bersamaan.

“Kedatangan di Fast Track maupun terminal lain sering beririsan. Ini jadi tantangan bagaimana kita mengatur agar jemaah bisa segera bergerak tanpa menimbulkan penumpukan,” ujarnya.

Baca juga: PPIH Madinah Imbau Jemaah Haji Indonesia Waspadai Cuaca Panas di Tanah Suci

Untuk mengurai kepadatan, petugas menerapkan skema rekayasa pergerakan. Jemaah dari satu kloter akan ditahan sementara, memberi ruang bagi kloter lain untuk bergerak menuju bus secara bergantian.

“Kita atur ritmenya. Kloter pertama berhenti dulu, lalu kloter berikutnya jalan. Bergantian dalam hitungan menit agar tidak saling bertabrakan,” jelasnya.

Langkah ini bukan tanpa alasan. Tanpa pengaturan ketat, jemaah berisiko tercampur antar-kloter, mengingat seragam yang dikenakan relatif seragam.

“Kalau tidak diatur, sangat mungkin jemaah masuk rombongan lain. Ini yang kita hindari,” tegas Basir.

Kloter Fast Track Hanya Punya Waktu 30 Menit

Tantangan makin kompleks di jalur Fast Track. Setiap kloter hanya memiliki waktu sekitar 30 menit untuk menyelesaikan seluruh proses kedatangan. Artinya, kecepatan dan koordinasi menjadi kunci utama.

Di tengah tekanan waktu, kerja kolektif menjadi penopang utama kelancaran layanan. Petugas tak bisa bekerja sendiri.

Peran ketua regu, ketua rombongan, hingga petugas haji daerah dinilai krusial dalam menjaga ketertiban jemaah.

“Kami butuh kolaborasi semua pihak, termasuk jemaah itu sendiri agar tetap tertib mengikuti arahan,” katanya.

Barang Jemaah yang Tertinggal akan Dicari dan Dikembalikan

Di sisi lain, potensi barang tertinggal juga meningkat seiring padatnya mobilitas. Namun Basir memastikan, setiap barang yang tercecer akan ditangani dengan cepat dan aman.

“Jemaah tidak perlu khawatir. Barang yang tertinggal pasti kami telusuri dan kembalikan. Kemarin ada cincin dan koper yang tertinggal, semuanya sudah kami serahkan kembali ke pemiliknya,” ungkapnya.

Maskapai akan melakukan penyisiran di dalam pesawat, sopir bus melaporkan temuan di kendaraan, sementara petugas bandara memantau area transit.

Jika jemaah baru menyadari kehilangan setibanya di hotel, laporan dapat disampaikan ke petugas sektor untuk diteruskan ke Daerah Kerja Bandara.

“Kalau ditemukan, akan kami serahkan melalui Daker Madinah dengan berita acara resmi,” katanya.

Di tengah padatnya gelombang kedatangan, satu hal tetap dijaga oleh petugas yaitu memastikan setiap jemaah tiba dengan aman, tertib, dan tetap merasa dilayani.

Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul "Gelombang Jemaah Memuncak, Bandara Madinah Putar Otak Atur Arus Kedatangan".

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Tak Cukup Zikir, Ini Cara Islam Menjaga Kesehatan Mental
Tak Cukup Zikir, Ini Cara Islam Menjaga Kesehatan Mental
Aktual
Rabu Wekasan 2026, Benarkah Hari Sial? Ini Penjelasan dan 4 Doa yang Bisa Dibaca
Rabu Wekasan 2026, Benarkah Hari Sial? Ini Penjelasan dan 4 Doa yang Bisa Dibaca
Doa dan Niat
MTQ Nasional 2026 Digelar September, Ini Daftar 162 Dewan Hakim dan Pengawas
MTQ Nasional 2026 Digelar September, Ini Daftar 162 Dewan Hakim dan Pengawas
Aktual
PUI: Jangan Jadikan Ayat Al-Qur’an Bahan Olok-olok untuk Promosi Miras
PUI: Jangan Jadikan Ayat Al-Qur’an Bahan Olok-olok untuk Promosi Miras
Aktual
Polemik Istiqlal Masuk Bursa: Menguak Fakta Wakaf Saham Syariah
Polemik Istiqlal Masuk Bursa: Menguak Fakta Wakaf Saham Syariah
Aktual
Bikin Lomba Agustusan Pakai Uang Pendaftaran? Begini Hukumnya
Bikin Lomba Agustusan Pakai Uang Pendaftaran? Begini Hukumnya
Aktual
Legitimasi Historis Tokoh Partai di Pucuk Pimpinan PBNU
Legitimasi Historis Tokoh Partai di Pucuk Pimpinan PBNU
Aktual
Cegah Kekerasan Seksual, Kemenag Wajibkan CCTV hingga Cabut Izin Pesantren Nakal
Cegah Kekerasan Seksual, Kemenag Wajibkan CCTV hingga Cabut Izin Pesantren Nakal
Aktual
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar