Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Orang Tua Ungkap Alasan Daftarkan Haji Tsurayya Sejak Usia 2 Tahun: Bekal Hidup Dunia Akhirat

Kompas.com, 25 April 2026, 23:53 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Keputusan orang tua mendaftarkan anak haji sejak usia dini menjadi sorotan di Ponorogo, Jawa Timur.

Langkah itu diambil pasangan Munif Arfawie dan Elfi Mua’awanah untuk menyiapkan bekal agama, mental, dan fisik bagi anak-anak mereka.

Akhirnya, putri mereka Tsurayya Ufairotummarwa kini menjadi jemaah haji termuda Ponorogo pada usia 15 tahun.

Kisah ini menarik perhatian karena masa tunggu haji yang panjang biasanya membuat jemaah berangkat saat usia lebih tua.

Baca juga: Cerita Tsurayya, Jemaah Haji Termuda Ponorogo yang Didaftarkan Sejak Usia 2 Tahun

Orang Tua Pilih Daftarkan Anak untuk Bekal Hidup

Elfi Mua’awanah, ibu dari Tsurayya Ufairotummarwa menjelaskan bahwa 2012 lalu dirinya ingin daftar haji kembali. Namun, suaminya belum berkenan.

“Karena haji wajibnya satu kali, akhirnya kami putuskan dialihkan ke anak-anak biar kuat agama lahir batin serta fisiknya sebagai bekal hidup dunia akhirat,” tegasnya.

Baca juga: Kisah Jemaah Haji Termuda RI Asal Pontianak, Berangkat di Usia 13 tahun untuk Doakan Mendiang Ibu

Pun, dia mendapatkan masukan dari salah satu kiai yang menyarankan untuk urusi akhirat dulu dari pada dunia.

“Sehingga mendaftarkan haji adalah salah satu urusan akhirat. Sehingga didahulukan untuk membekali anak-anak,” pungkasnya.

Tsurayya Jadi Jemaah Haji Termuda Ponorogo

pada musim haji 2026, Tsurayya Ufairotummarwaresmi menjadi jemaah haji termuda asal Ponorogo.

Di balik itu, ada kisah menarik yang terungkap, hingga Tsurayya Ufairotummarwa bisa menunaikan ibadah haji di usia 15 tahun.

Ternyata, ia diam-diam didaftarkan orang tuanya sejak 2012 silam atau saat dirinya berusia 2 tahun.

Tsurayya Ufairotummarwa sendiri tak menyangka bisa menunaikan ibadah haji di usia 15 tahun.

Padahal umumnya kesempatan menunaikan ibadah haji biasanya datang setelah usia menginjak telah senja. Namun, hal itu justru hadir sebagai kejutan bagi Tsurayya.

Remaja asal Desa Bajang, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo, Jatim itu bahkan baru mengetahui dirinya telah didaftarkan haji oleh orang tuanya pada 2012 silam, saat menerima kabar keberangkatan tahun lalu.

Sejak itu, rasa tak percaya perlahan berubah menjadi haru dan bahagia.

“Ya kaget pas tahun lalu diberitahu bakal berangkat haji 2026 ini,” ungkap Tsurayya.

Tsurayya Berangkat Bersama Tiga Kakaknya

Siswi kelas X Pondok Pesantren (PP) Al-Islam Joresan, Ponorogo ini tak berangkat sendirian.

Selain dirinya, ada ketiga kakaknya yang saat berangkat ke Tanah Suci nanti usianya pun masih dibawah 20 tahun.

Tiga saudaranya yang lain adalah Alifah Dzakiyatunauwah (19), Banif Hanifinasywa (18) dan Tabina Nabahatul Wasyfa (17).

Keempatnya akan berangkat dengan jemaah haji lain yang masuk dalam kloter 19 embarkasi Juanda Surabaya.

“Bareng tiga kakak, tidak ada yang dikasih tahu kalau sudah didaftarkan haji oleh orang tua, tahunya baru tahun lalu saat mendapat undangan berangkat,” kisahnya.

Kisah Tsurayya Siapkan Fisik dan Spiritual

Tsurayya menjelaskan meski berangkat di usia muda, namun rangkaian persiapan berhaji tetap dilaluinya. Mulai mengikuti manasik dan lain sebagainya.

Anak bungsu pasangan Munif Arfawie dan Elfi Mua’awanah tak lantas mengabaikan persiapan. Ia mulai menghafal doa-doa, mempelajari rangkaian ibadah haji, hingga menjaga kondisi fisik dengan rutin berolahraga.

Pagi hari, jogging menjadi kebiasaan barunya yang dijalani bersama saudara-saudaranya yang akan menemaninya ke tanah suci.

Didukung sekolah, izin juga diberikan tak mengikuti pembelajaran sepanjang ibadah mendatang.

“Teman-teman sekolah juga kaget, senang juga tahu kalau saya berangkat. Ya baru kali ini sih ada yang haji untuk siswa,” tuturnya.

Artikel ini telah tayang di TribunJatim.com dengan judul “Kisah Tsurayya, Remaja 15 Tahun Jadi Jemaah Haji Termuda Ponorogo, Didaftarkan Sejak Usia 2 Tahun”. 

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar