KOMPAS.com – Dalam pandangan Islam, bekerja bukan sekadar aktivitas ekonomi untuk bertahan hidup.
Lebih dari itu, kerja adalah bagian dari ibadah yang memiliki nilai spiritual tinggi. Karena itulah,
Islam menempatkan kaum buruh, mereka yang menggantungkan hidup dari kerja keras pada posisi yang mulia.
Di tengah peringatan Hari Buruh Internasional setiap 1 Mei, ajaran Islam justru sejak awal telah memberikan fondasi kuat tentang penghormatan terhadap pekerja, jauh sebelum konsep hak buruh modern berkembang.
Baca juga: Khutbah Jumat 1 Mei 2026: Menjaga Profesionalisme dan Integritas di Lingkungan Kerja
Dalam Islam, segala amal bergantung pada niat. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadis yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab ini menjadi dasar bahwa kerja seorang buruh bisa bernilai ibadah jika diniatkan untuk mencari ridha Allah, menafkahi keluarga, dan menjauhi kemiskinan.
Dalam buku Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali dijelaskan bahwa aktivitas duniawi dapat bernilai ibadah apabila dilandasi niat yang benar.
Islam memberikan perhatian besar pada tanggung jawab memberi nafkah. Rasulullah SAW bersabda:
دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ
“Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, satu dinar untuk memerdekakan budak, satu dinar untuk sedekah kepada orang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan kepada keluargamu yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan kepada keluargamu.” (HR Sahih Muslim)
Pesan ini menunjukkan bahwa kerja keras seorang buruh yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga memiliki nilai pahala yang sangat besar.
Baca juga: Keutamaan Bekerja Mencari Nafkah dalam Islam
Konsep jihad dalam Islam tidak terbatas pada peperangan. Rasulullah SAW bersabda:
وَمَا سَبِيلُ اللَّهِ إِلَّا مَنْ قُتِلَ؟ مَنْ سَعَى عَلَى وَالِدَيْهِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَمَنْ سَعَى عَلَى عِيَالِهِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَمَنْ سَعَى مُكَاثِرًا فَهُوَ فِي سَبِيلِ الشَّيْطَانِ
“Apakah di jalan Allah hanya orang yang terbunuh saja? Barangsiapa bekerja untuk kedua orang tuanya maka ia di jalan Allah, barangsiapa bekerja untuk keluarganya maka ia di jalan Allah, dan barangsiapa bekerja untuk bermegah-megahan maka ia di jalan setan.”
Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ini menegaskan bahwa kerja keras seorang buruh termasuk bagian dari jihad jika diniatkan untuk kebaikan.
Dalam buku Fiqh al-Jihad karya Yusuf Al-Qaradawi, dijelaskan bahwa jihad mencakup segala usaha menjaga kehidupan dan kesejahteraan manusia.
Islam juga memberikan jaminan spiritual bagi mereka yang menafkahi keluarganya dengan ikhlas. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ أَنْفَقَ عَلَى ابْنَتَيْنِ أَوْ أُخْتَيْنِ أَوْ ذَوَاتَيْ قَرَابَةٍ يَحْتَسِبُ النَّفَقَةَ عَلَيْهِنَّ حَتَّى يُغْنِيَهُنَّ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ
“Barangsiapa menafkahi dua anak perempuan, dua saudara perempuan, atau kerabat perempuan dengan mengharap pahala dari Allah hingga mereka tercukupi, maka itu akan menjadi penghalang baginya dari api neraka.” (HR Musnad Ahmad)
Hadis ini menunjukkan betapa besar keutamaan kerja keras yang digunakan untuk keluarga.
Baca juga: Peran Ayah Selain Mencari Nafkah Dalam Keluarga Menurut Islam
Islam juga mengatur hubungan kerja secara adil. Rasulullah SAW bersabda:
أَعْطُوا الْأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ
“Berikanlah upah kepada pekerja sebelum kering keringatnya.” (HR Ibnu Majah)
Hadis ini menjadi prinsip penting dalam perlindungan hak buruh agar tidak dizalimi.
Dalam buku The Economic System of Islam karya Taqiuddin An-Nabhani, dijelaskan bahwa Islam menekankan keadilan ekonomi dan melarang eksploitasi tenaga kerja.
Apa yang sering dianggap sebagai pekerjaan biasa, dalam Islam justru memiliki nilai luar biasa.
Buruh bukan sekadar pencari nafkah, tetapi juga pelaku ibadah yang setiap usahanya bernilai pahala.
Islam memandang kemuliaan bukan dari jenis pekerjaan, melainkan dari niat, keikhlasan, dan manfaat yang diberikan.
Di situlah letak penghormatan sejati terhadap kaum buruh, sebuah kemuliaan yang mungkin tak selalu terlihat di mata manusia, tetapi sangat tinggi nilainya di sisi Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang