Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Haji Tanpa Mahram, Apakah Muslimah Tetap Boleh Berangkat? Ini Penjelasan Ulama

Kompas.com, 7 Mei 2026, 19:23 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Pertanyaan mengenai boleh atau tidaknya perempuan pergi haji atau umroh tanpa mahram kembali ramai diperbincangkan menjelang musim haji 1447 Hijriah.

Di tengah semakin mudahnya akses perjalanan udara dan hadirnya rombongan ibadah resmi yang dinilai aman, banyak Muslimah mulai bertanya apakah wanita tetap wajib didampingi mahram saat berangkat ke Tanah Suci?

Isu ini bukan sekadar persoalan teknis perjalanan, melainkan menyangkut hukum fikih yang sejak lama menjadi pembahasan para ulama.

Sebagian kalangan berpegang pada hadis-hadis yang melarang perempuan bepergian jauh tanpa mahram.

Namun di sisi lain, sejumlah mazhab besar dalam Islam memandang keamanan perjalanan sebagai poin utama yang harus dipenuhi.

Lalu bagaimana sebenarnya pandangan Islam mengenai wanita yang pergi haji atau umroh tanpa mahram?

Apa yang Dimaksud dengan Mahram?

Dalam syariat Islam, mahram adalah orang yang haram dinikahi untuk selamanya karena hubungan nasab, persusuan, atau pernikahan.

Mahram karena hubungan darah misalnya ayah, saudara laki-laki, anak laki-laki, paman, kakek, hingga keponakan.

Sementara mahram karena pernikahan mencakup mertua dan anak tiri tertentu sesuai ketentuan syariat.

Dalam buku Ibadah Haji: Syarat-syarat Haji karya KH Ahmad Sarwat Lc dijelaskan bahwa keberadaan mahram bagi perempuan dalam perjalanan ibadah sejak dahulu dimaksudkan untuk menjaga keamanan dan kehormatan wanita selama perjalanan jauh.

Pada masa lampau, perjalanan menuju Makkah memerlukan waktu berbulan-bulan melewati padang pasir, kawasan rawan perampokan, dan medan berat. Karena itu, pendampingan mahram dianggap sangat penting.

Baca juga: Kemenag Minta Jemaah di Makkah dan Madinah Gunakan Aplikasi Kawal Haji untuk Kirim Aduan

Hadis tentang Larangan Wanita Bepergian Tanpa Mahram

Dasar utama pendapat yang mewajibkan mahram berasal dari sejumlah hadis Nabi Muhammad SAW.

Dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW bersabda:

“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali bersama mahramnya.”

Kemudian seorang sahabat berkata bahwa istrinya hendak pergi haji sementara dirinya dipanggil berjihad. Rasulullah SAW lalu bersabda:

“Pulanglah dan berhajilah bersama istrimu.” (HR Bukhari)

Dalam hadis lain disebutkan:

“Janganlah seorang wanita bepergian selama tiga hari kecuali bersama mahramnya.” (HR Ahmad)

Hadis-hadis ini menjadi landasan utama mayoritas ulama yang mewajibkan mahram bagi perempuan yang melakukan perjalanan jauh, termasuk ibadah haji dan umroh.

Mazhab Hanbali dan sebagian ulama Hanafiyah memandang keberadaan mahram sebagai syarat penting yang tidak boleh ditinggalkan.

Mengapa Sebagian Ulama Membolehkan Tanpa Mahram?

Meski demikian, tidak semua ulama memahami hadis tersebut secara mutlak.

Mazhab Syafi’iyah dan Malikiyah memiliki pandangan yang lebih longgar, khususnya untuk haji wajib pertama.

Menurut kedua mazhab ini, perempuan boleh menunaikan ibadah haji tanpa mahram selama perjalanan berlangsung aman dan dilakukan bersama rombongan terpercaya.

Dalam kitab Al-Majmu’ karya Imam Nawawi dijelaskan bahwa perempuan diperbolehkan berhaji apabila bersama rombongan wanita tsiqah atau kelompok perjalanan yang aman.

Pandangan serupa juga dijelaskan ulama Malikiyah. Mereka menilai inti larangan bukan semata-mata tidak adanya mahram, melainkan kekhawatiran terhadap keselamatan perempuan selama perjalanan.

Artinya, jika keamanan telah terjamin, maka alasan larangan dianggap tidak lagi kuat.

Baca juga: Kisah Abdul Hanan, Petani Lombok yang Berangkat Haji Berkat Bantuan Anak

Dalil tentang Keamanan Perjalanan

Pendapat ini juga didukung hadis riwayat Imam Bukhari dari Adi bin Hatim RA.

Rasulullah SAW bersabda:

“Jika umurmu panjang, engkau akan melihat seorang wanita bepergian dari Hirah hingga thawaf di Ka’bah tanpa rasa takut kepada siapa pun selain Allah.”

Hadis tersebut dipahami sebagian ulama sebagai isyarat bahwa suatu masa akan datang ketika perjalanan menjadi sangat aman, sehingga perempuan dapat bepergian tanpa rasa khawatir.

Dalam konteks modern, sebagian ulama kontemporer melihat kondisi perjalanan haji saat ini jauh berbeda dibanding masa lampau.

Transportasi udara, pengawasan ketat pemerintah, keberadaan petugas haji, hingga sistem rombongan resmi dinilai mampu memberikan keamanan yang dahulu hanya bisa dijamin melalui mahram.

Bagaimana dengan Umroh?

Pembahasan mengenai umroh tanpa mahram juga sering memunculkan perbedaan pendapat.

Sebagian ulama yang membolehkan haji wajib tanpa mahram tetap tidak memberikan kelonggaran yang sama untuk umroh sunnah atau haji kedua dan seterusnya.

Dalam buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa rukhsah atau keringanan tanpa mahram lebih banyak diberikan pada ibadah wajib karena berkaitan dengan kewajiban agama yang harus ditunaikan.

Karena itu, sebagian ulama tetap menganjurkan perempuan didampingi mahram ketika menjalankan umroh sunnah agar lebih terjaga dan terhindar dari fitnah.

Baca juga: 9 Titik Pos Petugas Haji Disiagakan di Masjidil Haram untuk Antisipasi Jamaah Tersesat, Ini Lokasinya

Praktik pada Masa Sahabat dan Istri Nabi

Ulama yang membolehkan perempuan berhaji tanpa mahram juga merujuk pada praktik para istri Nabi Muhammad SAW setelah wafatnya Rasulullah.

Mereka melakukan perjalanan dari Madinah menuju Makkah bersama rombongan kaum Muslimin tanpa didampingi suami.

Dalam beberapa literatur fikih dijelaskan bahwa perjalanan tersebut berlangsung bersama rombongan besar yang aman dan mendapat pengawalan.

Hal ini menjadi salah satu dasar bahwa keamanan kolektif dapat menjadi pengganti fungsi perlindungan mahram dalam kondisi tertentu.

Pandangan Ulama Kontemporer

Di era modern, sejumlah lembaga fatwa di berbagai negara Muslim mulai memberikan pandangan yang lebih kontekstual.

Sebagian ulama menilai bahwa keberangkatan perempuan bersama rombongan resmi haji atau umroh yang aman dapat diperbolehkan, terutama jika tidak ada mahram yang dapat mendampingi.

Namun demikian, sebagian ulama lain tetap mempertahankan pendapat kehati-hatian dengan menganjurkan keberadaan mahram sebagai bentuk mengikuti zahir hadis Nabi SAW.

Oleh karena itu, persoalan ini tetap menjadi wilayah ijtihad yang memiliki perbedaan pandangan di kalangan ulama.

Hikmah Pendampingan Mahram

Terlepas dari perbedaan pendapat, keberadaan mahram memiliki sejumlah hikmah penting.

Selain menjaga keamanan, mahram juga dapat membantu perempuan selama menjalankan ibadah yang cukup berat secara fisik, mulai dari perjalanan panjang, tawaf, sai, hingga mobilitas di tengah jutaan jamaah.

Dalam buku Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd dijelaskan bahwa syariat Islam pada dasarnya bertujuan menjaga keselamatan, kehormatan, dan kemaslahatan manusia.

Karena itu, keberadaan mahram dipandang sebagai bentuk perlindungan, bukan pembatasan terhadap perempuan.

Haji dan Umroh Bukan Sekadar Perjalanan

Ibadah haji dan umroh bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi perjalanan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Oleh karena itu, selain mempersiapkan biaya dan dokumen, jamaah juga dianjurkan memahami hukum, adab, dan ketentuan syariat sebelum berangkat.

Perbedaan pendapat ulama mengenai mahram menunjukkan keluasan fikih Islam dalam merespons perubahan zaman dan kondisi masyarakat.

Bagi Muslimah yang hendak berangkat haji atau umroh, memahami pendapat ulama secara utuh menjadi penting agar dapat menjalankan ibadah dengan tenang, aman, dan tetap sesuai tuntunan agama.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar