KOMPAS.com - Hari Raya Idul Adha tidak hanya identik dengan penyembelihan hewan kurban dan gema takbir di masjid.
Di berbagai daerah Indonesia, Idul Adha juga menjadi momentum lahirnya tradisi budaya yang diwariskan turun-temurun dan masih bertahan hingga sekarang.
Tradisi-tradisi tersebut tumbuh dari perpaduan nilai agama, budaya lokal, rasa syukur, hingga semangat kebersamaan masyarakat.
Tidak heran jika suasana Idul Adha di setiap daerah memiliki ciri khas berbeda yang selalu dinanti warga setiap tahun.
Bahkan beberapa tradisi khas Hari Raya Kurban kini menjadi daya tarik wisata budaya karena keunikannya. Ribuan wisatawan rela datang untuk menyaksikan langsung kemeriahan tradisi tersebut.
Mulai dari rebutan gunungan di Yogyakarta hingga tradisi saling berbagi makanan di Bali, berikut sederet tradisi Idul Adha khas Indonesia yang masih lestari sampai sekarang.
Dalam Islam, Idul Adha merupakan peringatan atas keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam menjalankan perintah Allah SWT.
Namun dalam perkembangannya, masyarakat di berbagai daerah Indonesia menghadirkan cara tersendiri untuk memaknai hari besar tersebut.
Tradisi lokal kemudian menjadi bagian dari syiar sekaligus sarana mempererat hubungan sosial antarmasyarakat.
Dikutip dari buku Tradisi-Tradisi Islam Nusantara karya M. Darori Amin, tradisi keagamaan lokal di Indonesia lahir dari proses panjang akulturasi budaya dan nilai Islam yang berlangsung selama ratusan tahun.
Oleh karena itu, banyak tradisi Idul Adha di Indonesia tidak hanya bernilai religius, tetapi juga mengandung pesan sosial, gotong royong, dan penghormatan terhadap budaya leluhur.
Baca juga: 3 Contoh Khutbah Idul Adha 2026 tentang Keikhlasan dan Pengorbanan
Salah satu tradisi Idul Adha paling terkenal berasal dari Yogyakarta, yaitu Grebeg Gunungan.
Tradisi yang digelar oleh Keraton Yogyakarta ini biasanya berlangsung di kawasan alun-alun dan Masjid Gedhe Kauman.
Dalam prosesi tersebut, keraton mengarak gunungan berisi hasil bumi, sayuran, makanan tradisional, hingga jajanan khas Jawa.
Setelah didoakan, masyarakat akan berebut isi gunungan karena dipercaya membawa berkah dan kemakmuran.
Tradisi Grebeg sudah berlangsung sejak masa Kesultanan Mataram Islam dan masih menjadi agenda budaya tahunan yang selalu dipadati warga maupun wisatawan.
Menurut buku Upacara Tradisional Jawa karya Purwadi, gunungan dalam tradisi Grebeg melambangkan rasa syukur masyarakat atas rezeki dan hasil panen yang diberikan Tuhan.
Selain bernilai religius, tradisi ini juga memperlihatkan kuatnya hubungan antara budaya Jawa dan syiar Islam di Yogyakarta.
Masyarakat Aceh memiliki tradisi khas bernama Meugang yang dilakukan menjelang Idul Adha dan Idul Fitri.
Dalam tradisi ini, warga biasanya membeli daging lalu memasaknya bersama keluarga besar di rumah.
Hidangan daging kemudian disantap bersama sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur menyambut hari raya.
Menjelang Meugang, suasana pasar di Aceh biasanya jauh lebih ramai dibanding hari biasa. Harga daging bahkan sering mengalami kenaikan karena tingginya permintaan masyarakat.
Bagi warga Aceh, Meugang bukan sekadar tradisi makan bersama, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap keluarga dan kerabat.
Dikutip dari buku Aceh dalam Tradisi dan Budaya karya Azhari Aiyub, tradisi Meugang telah berlangsung sejak masa Kesultanan Aceh dan menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Aceh hingga sekarang.
Tradisi Apitan masih dijaga oleh sebagian masyarakat di Semarang dan daerah sekitarnya saat Idul Adha tiba.
Apitan biasanya diisi doa bersama, kirab budaya, sedekah hasil bumi, hingga makan bersama warga kampung.
Masyarakat percaya tradisi ini menjadi simbol permohonan keselamatan dan perlindungan dari berbagai musibah.
Tidak jarang acara juga dimeriahkan pertunjukan seni tradisional seperti wayang kulit, kuda lumping, hingga pasar rakyat.
Yang menarik, seluruh warga biasanya terlibat langsung dalam persiapan acara. Mulai dari memasak, menghias kampung, hingga menyiapkan kegiatan budaya dilakukan secara gotong royong.
Oleh karena itu, Apitan menjadi salah satu tradisi yang memperkuat hubungan sosial masyarakat desa.
Baca juga: Idul Adha 27 Mei 2026, Cek Jadwal Libur 6 Hari dan Hitung Mundurnya
Di Desa Adat Kemiren, Banyuwangi, terdapat tradisi unik bernama Mepe Kasur.
Tradisi ini dilakukan dengan menjemur kasur merah-hitam milik warga secara bersamaan di depan rumah menjelang Idul Adha.
Masyarakat Osing percaya tradisi tersebut menjadi simbol membersihkan diri dari hal-hal buruk sekaligus menyambut datangnya hari besar keagamaan.
Suasana desa saat Mepe Kasur berlangsung terlihat sangat menarik karena deretan kasur memenuhi sepanjang jalan kampung.
Tidak sedikit wisatawan datang untuk mengabadikan momen unik tersebut setiap tahun.
Menurut buku Budaya Osing Banyuwangi karya Hasnan Singodimayan, warna merah dan hitam pada kasur masyarakat Osing melambangkan keberanian dan kekuatan hidup.
Tradisi ini menjadi bukti bahwa budaya lokal tetap bisa bertahan di tengah perkembangan zaman.
Menjelang Idul Adha, masyarakat Madura memiliki tradisi Toron atau pulang kampung.
Para perantau biasanya kembali ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga dan mengikuti pelaksanaan kurban bersama warga desa.
Suasana kampung di Madura saat Idul Adha biasanya menjadi jauh lebih ramai karena kedatangan keluarga dari berbagai kota.
Bagi masyarakat Madura, Idul Adha bukan hanya tentang ibadah kurban, tetapi juga momentum mempererat hubungan keluarga besar.
Tradisi Toron juga memperlihatkan kuatnya budaya kekeluargaan masyarakat Madura yang masih terjaga hingga sekarang.
Tradisi unik lainnya berasal dari Pasuruan, yaitu Manten Sapi.
Dalam tradisi ini, sapi kurban dihias layaknya pengantin sebelum dibawa menuju lokasi penyembelihan.
Hewan kurban biasanya diberi aksesori warna-warni, kalung bunga, hingga kain hias agar terlihat meriah.
Bagi masyarakat setempat, tradisi tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap hewan kurban sekaligus ungkapan rasa syukur.
Prosesi Manten Sapi biasanya menjadi tontonan menarik warga karena diiringi arak-arakan dan suasana meriah khas pedesaan.
Selain menjaga tradisi, kegiatan ini juga mempererat hubungan sosial antarmasyarakat menjelang Idul Adha.
Baca juga: Catat! Arab Saudi Resmi Tetapkan Hari Arafah 26 Mei dan Idul Adha 27 Mei 2026
Tradisi Ngejot menjadi salah satu simbol toleransi antarumat beragama di Bali.
Dalam tradisi ini, warga saling mengirim makanan kepada tetangga dan kerabat saat hari raya, termasuk ketika Idul Adha.
Menariknya, tradisi berbagi tersebut dilakukan lintas agama. Warga Muslim dan Hindu saling menghormati dan menjaga hubungan baik antarsesama.
Suasana toleransi yang kuat membuat tradisi Ngejot sering mendapat perhatian wisatawan maupun masyarakat luar daerah.
Dikutip dari buku Pluralisme dan Harmoni Sosial di Bali karya I Wayan Geriya, tradisi Ngejot menjadi simbol penting keharmonisan masyarakat Bali yang hidup dalam keberagaman.
Keberagaman tradisi Idul Adha di Indonesia menunjukkan bahwa nilai agama dapat berjalan berdampingan dengan budaya lokal.
Meski setiap daerah memiliki cara berbeda dalam merayakan Hari Raya Kurban, semuanya tetap memiliki pesan yang sama, yaitu rasa syukur, kebersamaan, dan kepedulian terhadap sesama.
Tradisi-tradisi tersebut juga menjadi pengingat bahwa Idul Adha bukan hanya tentang penyembelihan hewan kurban, tetapi juga tentang memperkuat hubungan sosial dan menjaga warisan budaya.
Di tengah modernisasi dan perkembangan zaman, keberadaan tradisi lokal seperti ini menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Indonesia yang patut dijaga bersama.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang