Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Haji 2026 Tetap Dipadati Jemaah meski Timur Tengah Memanas, Lebih dari 1,5 Juta Orang Tiba di Saudi

Kompas.com, 25 Mei 2026, 07:59 WIB
Farid Assifa

Editor

Sumber Arab News

MAKKAH, KOMPAS.com — Jumlah jemaah haji yang tiba di Arab Saudi tahun 2026 melampaui capaian tahun lalu meski kawasan Timur Tengah sempat diguncang perang dan gangguan penerbangan akibat konflik Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Otoritas Arab Saudi mencatat lebih dari 1,5 juta jemaah dari luar negeri telah tiba untuk menunaikan ibadah haji. Angka itu bahkan sudah melampaui jumlah kedatangan internasional pada musim haji tahun sebelumnya.

Komandan Pasukan Paspor Haji Arab Saudi, Saleh Al-Murabba, mengatakan total jemaah dari luar negeri yang tiba mencapai 1.518.153 orang hingga Jumat malam waktu setempat.

Jumlah tersebut diperkirakan masih akan terus bertambah dalam dua hari ke depan menjelang dimulainya rangkaian puncak ibadah haji pada Senin.

Sebagai perbandingan, total jemaah haji tahun lalu mencapai 1.673.320 orang, termasuk 1.506.576 jemaah dari luar Arab Saudi.

Baca juga: Mengintip Fasilitas Arafah 2 Hari Sebelum Puncak Haji

Lonjakan jemaah tahun ini terjadi di tengah situasi keamanan kawasan yang sempat memanas setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir Februari lalu. Konflik tersebut memicu serangan balasan Iran ke sejumlah target di Arab Saudi dan kawasan Teluk.

Situasi itu menyebabkan penutupan wilayah udara, pembatalan penerbangan, hingga kenaikan biaya perjalanan ke Timur Tengah.

Namun, maskapai-maskapai besar di kawasan Teluk seperti Uni Emirat Arab, Qatar, dan Bahrain perlahan memulihkan operasional penerbangan mereka setelah beberapa pekan terganggu.

Di tengah kekhawatiran tersebut, jutaan Muslim tetap memutuskan berangkat haji.

“Bahkan jika perang masih berlangsung, saya tidak akan membatalkan perjalanan ini,” ujar Fadel, warga Amerika Serikat berusia 49 tahun kepada AFP.

Ia menyebut Makkah sebagai “tempat paling aman di dunia” sambil mengutip ayat Al Quran.

Sentimen serupa juga disampaikan banyak jemaah asal negara Barat yang tetap datang ke Tanah Suci meski pemerintah mereka mengeluarkan peringatan perjalanan.

Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh sebelumnya meminta warganya mempertimbangkan kembali perjalanan haji tahun ini karena situasi keamanan dan gangguan perjalanan yang masih mungkin terjadi.

Pakar Timur Tengah dari University of Birmingham Inggris, Umer Karim, menilai risiko gangguan perjalanan tetap ada jika konflik kembali pecah.

“Mereka bisa terlantar dan itu akan menciptakan tantangan logistik tambahan,” katanya.

Meski demikian, banyak jemaah mengaku keyakinan spiritual mengalahkan rasa takut terhadap perang.

Sayed, jemaah asal Australia yang sudah tujuh kali berhaji, mengatakan dirinya tidak pernah ragu datang ke Makkah.

“Ketika Anda sudah berniat datang, Anda datang dengan tujuan ibadah dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan,” ujarnya di pelataran Masjidil Haram.

Sementara itu, jemaah asal Jerman Ibrahim Diab mengatakan kesempatan berhaji terlalu berharga untuk dilewatkan.

“Ini kesempatan yang mungkin hanya datang sekali seumur hidup,” katanya.

Baca juga: Jemaah Haji Diimbau Pakai Payung, Suhu Makkah Bisa Capai 47 Derajat Celsius

Meski suasana Makkah dipenuhi semangat ibadah, sebagian jemaah mengaku tetap sempat dihantui kecemasan akibat konflik kawasan.

“Saya sangat cemas,” ujar Imad Ahmad, akuntan asal Inggris berusia 36 tahun.

Perjalanannya sempat terganggu di Yordania setelah militer negara itu menembak jatuh drone misterius di wilayah udaranya.

Namun, ia tetap melanjutkan perjalanan menuju Makkah.

“Saya akan tetap datang dengan cara apa pun, insya Allah,” katanya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar