Editor
KOMPAS.com - Hari Raya Idul Adha selalu identik dengan gema takbir dan penyembelihan hewan kurban. Namun di balik kemeriahan tersebut, ada banyak amalan sunnah yang kerap terlupakan, padahal memiliki nilai ibadah dan pahala besar di sisi Allah SWT.
Momentum 10 Dzulhijjah bukan hanya tentang berkurban, tetapi juga kesempatan memperbanyak amal saleh dan menghidupkan sunnah Rasulullah SAW.
Mulai dari cara berpakaian, adab menuju tempat shalat, hingga kebiasaan sederhana sebelum menyantap makanan, semuanya menyimpan makna spiritual mendalam.
Baca juga: 7 Tradisi Idul Adha di Indonesia, Dari Grebeg Besar hingga Meugang
Berikut deretan amalan sunnah Idul Adha yang sayang jika dilewatkan.
Sebelum berangkat shalat Id, umat Islam dianjurkan mandi terlebih dahulu sebagai bentuk penyucian diri lahir dan batin. Setelah itu, gunakan pakaian terbaik yang dimiliki, bersih, rapi, dan sopan sesuai syariat.
Riwayat dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah SAW mandi sebelum berangkat shalat Id.
Selain itu, dalam kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik ada hadis anjuran memakai pakaian terbaik:
“Allah itu indah dan menyukai keindahan.” (HR Muslim)
Banyak ulama juga menganjurkan mengenakan pakaian berwarna putih karena identik dengan kesucian dan menjadi warna yang disukai Rasulullah SAW.
“Pakailah pakaian putih karena itu pakaian terbaik kalian.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Bagi laki-laki, sunnah ini bisa dilengkapi dengan memakai wewangian dan penutup kepala seperti peci atau serban. Sementara perempuan dianjurkan tetap tampil sederhana dan tidak menggunakan parfum mencolok saat keluar rumah.
Berbeda dengan Idul Fitri, pada Idul Adha umat Islam justru dianjurkan menunda makan hingga selesai melaksanakan shalat Id.
Hadis dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya:
“Rasulullah SAW tidak keluar pada hari Idul Fitri hingga makan terlebih dahulu, dan pada Idul Adha beliau tidak makan hingga pulang lalu makan dari hasil kurbannya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Sunnah ini mengandung makna mendalam, yakni agar makanan pertama yang disantap berasal dari daging kurban. Namun perlu dipahami, ini bukan puasa karena berpuasa pada hari raya hukumnya haram.
Tradisi sederhana ini menjadi simbol rasa syukur sekaligus penghormatan terhadap ibadah kurban.
Jika memungkinkan, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya berjalan kaki menuju lokasi shalat Id. Selain menambah pahala, berjalan kaki juga menjadi bentuk kerendahan hati dan syiar Islam di tengah masyarakat.
Hal itu sesuai dengan hadis:
“Termasuk sunnah adalah keluar menuju shalat Id dengan berjalan kaki." (HR. Tirmidzi)
Keterangan ini juga diperkuat para ulama fikih dalam kitab-kitab sunnah Idain.
Di sepanjang perjalanan, umat Islam dianjurkan memperbanyak takbir sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT.
Suasana pagi Idul Adha yang dipenuhi gema takbir sering kali menghadirkan rasa haru dan kebersamaan yang sulit dilupakan.
Salah satu sunnah yang jarang diketahui adalah melewati rute berbeda saat pergi dan pulang dari shalat Id.
Hadis dari Jabir bin Abdullah menyatakan bahwa “Nabi SAW apabila hari raya, beliau melewati jalan yang berbeda.” (HR Bukhari)
Menurut para ulama, hikmah sunnah ini adalah memperluas syiar Islam dan memperbanyak tempat yang menjadi saksi ibadah seorang muslim di akhirat kelak.
Meski terlihat sederhana, kebiasaan ini menjadi bagian dari teladan Rasulullah SAW yang masih relevan diamalkan hingga sekarang.
Bagi muslim yang berniat berkurban, terdapat sunnah untuk tidak memotong kuku maupun rambut sejak masuk 1 Dzulhijjah hingga hewan kurban disembelih.
Nabi SAW bersabda:
“Jika telah masuk 10 hari pertama Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin berkurban, maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya sedikit pun.” (HR Muslim)
Baca juga: Tata Cara Mandi Sunnah Idul Adha 2026 Lengkap dengan Niat & Waktunya
Anjuran ini menjadi simbol totalitas pengorbanan dan bentuk penghormatan terhadap ibadah kurban yang dijalankan.
Karena itu, banyak umat Islam mulai mempersiapkan diri sejak awal bulan Dzulhijjah agar dapat menjalankan sunnah ini dengan sempurna.
Waktu terbaik penyembelihan hewan kurban adalah setelah shalat Id dan khutbah selesai pada 10 Dzulhijjah.
Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim bersabda:
“Barang siapa menyembelih sebelum shalat Id, maka itu hanyalah daging biasa untuk keluarganya, bukan kurban.” (HR Bukhari dan Muslim)
Ibadah kurban bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga simbol ketakwaan dan kepedulian sosial. Daging kurban yang dibagikan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi masyarakat yang membutuhkan.
Semangat berbagi inilah yang membuat Idul Adha terasa begitu hangat dan penuh makna.
Kemeriahan Idul Adha tidak berhenti pada tanggal 10 Dzulhijjah. Pada hari Tasyrik, yakni 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, umat Islam dianjurkan memperbanyak dzikir dan doa.
Allah SWT berfirman:
“Dan berdzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.” (QS Al-Baqarah: 203)
Hari yang dimaksud oleh banyak mufasir adalah hari Tasyrik (11–13 Dzulhijjah).
Adapun larangan puasa pada hari Tasyrik berdasarkan hadis: “Hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah.” (HR Muslim)
Baca juga: Takbir Idul Adha 2026 Dimulai Malam Ini, Ini Bacaan & Amalan Sunnahnya
Hari-hari tersebut juga menjadi waktu menikmati rezeki Allah SWT sehingga umat Islam dilarang berpuasa.
Salah satu doa yang banyak diamalkan adalah doa sapu jagad:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Doa ini berisi permohonan kebaikan dunia dan akhirat sekaligus perlindungan dari siksa neraka.
Dengan menghidupkan sunnah-sunnah Idul Adha, perayaan hari raya tidak hanya menjadi momen berkumpul bersama keluarga, tetapi juga kesempatan memperkuat iman dan mendulang pahala.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang