Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Haru Jemaah Haji Indonesia, Menangis di Arafah hingga Rindu Peluk Keluarga

Kompas.com, 1 Juni 2026, 12:14 WIB
Pythag Kurniati,
Farid Assifa

Tim Redaksi

JEDDAH, KOMPAS.com - Empat puluh hari beribadah di Tanah Suci memberikan pengalaman spiritual yang mendalam bagi Andi Nurhidayat Husain (46).

Kini jemaah haji perempuan asal Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan ini sudah bersiap untuk terbang pada hari ini, Senin (1/6/2026) untuk kembali ke pelukan keluarganya.

Ibu dari tiga orang anak ini bercerita telah memulai penantiannya untuk berhaji selama 15 tahun.

Di Tanah Suci, dia menjalani ibadah dengan penuh perjuangan, terutama ketika fase puncak haji di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina).

Baca juga: Romo Syafi’i: Gagasan Prabowo Bentuk Kemenhaj Terbukti Bikin Layanan Haji 2026 Lebih Baik

Tangisnya pun pecah saat mengenang kembali detik-detik wukuf hingga melempar jumrah.

Rangkaian ibadah yang menguras fisik dan batin itu begitu membekas di hatinya.

“Di Arafah, menangis itu. Saya tidak bisa menjelaskan. Di Muzdalifah, kami murur. Di Mina, perjuangan. Betul-betul perjuangan di Mina,” ungkap Andi dengan air mata yang menetes.

Sebagai seorang istri dan ibu, doa tak pernah putus ia panjatkan di tempat-tempat mustajab selama di Mekkah maupun Madinah. “Pastinya ada untuk suami, orang tua, anak juga,” ungkap dia.

Ada harapan besar yang ia langitkan, terkhusus bagi sang ibunda tercinta yang kini telah menua.

Suaranya bergetar menahan haru saat menceritakan betapa ia ingin sekali ibunya bisa kembali melihat Baitullah.

“Mama saya sudah tua. Semoga dipanggil sama Allah kembali untuk berumrah. Bapak saya sudah meninggal. Sudah haji juga. Tapi ingin mama saya sekali pergi umrah. Mudah-mudahan ada rezeki. Dikasih bisa berumrah kembali bersama. Insya Allah," ucapnya.

Perjalanan spiritual selama lebih dari sebulan ini tak sekadar menggugurkan kewajiban rukun Islam kelima.

Momen ini menjadi titik tolak yang mengubah pandangan hidupnya.

Sekembalinya ke Tanah Air, Andi yang berprofesi sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) ini bertekad untuk menerapkan nilai-nilai luhur haji dalam kesehariannya. “Insya Allah akan mengabdi. Diberi amanah, akan menjalankan amanah secara baik dan benar,” tegasnya.

Di sela-sela persiapannya untuk pulang, tampak sebuah boneka unta terselip sebagai buah tangan istimewa.

Hadiah sederhana ini sengaja disiapkannya untuk mengobati kerinduan anak bungsunya di kampung halaman.

“Ini ikon dari Arab Saudi. Kayaknya ini bagus sekali kalau dibawa pulang,” ujar Andi dengan wajah berbinar.

Kini, hari kepulangan telah tiba.

Kerinduan untuk segera berkumpul dan memeluk kembali keluarganya sudah tak terbendung.

Lewat sebuah pesan singkat yang hangat, Andi menyampaikan salam rindu untuk orang-orang terkasih yang menunggunya di Soppeng.

“Buat mama saya, suami saya, dan anak-anak saya. Mama sudah akan pulang, nak. Insya Allah, Hari Selasa akan tiba di tanah air. Di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Tunggu mama, ya,” pungkasnya.

Untuk diketahui, fase pemulangan jemaah haji Indonesia ke Tanah Air dimulai pada 1 Juni 2026.

Baca juga: Usai Haji 2026, Arab Saudi Bongkar Tenda Mina dan Mulai Persiapan Besar untuk Musim Haji Berikutnya

Sebanyak 17 kloter dengan total jemaah sebanyak 6.798 orang dipulangkan pada hari pertama fase pemulangan.

Di hari pertama pelepasan kepulangan jemaah haji dilakukan langsung oleh Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf.

Gelombang pertama pemulangan dilakukan melalui Bandara King Abdul Aziz Jeddah pada 1 Juni 2026 hingga 15 Juni 2026.

Selanjutnya jemaah gelombang berikutnya dipulangkan melalui Bandara Madinah pada 16-30 Juni 2026.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar