Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Wasekjen PBNU: Jika Gus Dur Masih Hidup, Beliau Pasti Kritik NU Saat Ini

Kompas.com, 2 Juni 2026, 13:34 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Rahmat Hidayat Pulungan menilai almarhum Presiden keempat RI sekaligus tokoh besar Nahdlatul Ulama (NU), Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, kemungkinan besar akan melontarkan kritik terhadap kondisi NU saat ini yang dinilai semakin berjarak dari persoalan umat.

Pernyataan tersebut disampaikan Rahmat saat berbicara mengenai tantangan organisasi di tengah perubahan sosial masyarakat Indonesia dan menjelang Muktamar NU yang akan datang.

Menurut Rahmat, salah satu kekuatan utama Gus Dur selama memimpin dan menjadi tokoh NU adalah kedekatannya dengan warga serta kemampuannya menjaga konsolidasi di tingkat akar rumput. Hal itu dinilai berbeda dengan kondisi yang terjadi saat ini.

“Kalau beliau masih hidup, pasti beliau akan bilang kalian ini semakin berjarak dengan masalah, semakin berjarak dengan umat atau dengan jamaah,” kata Rahmat di Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Baca juga: Soal Konsesi Tambang, Gus Yahya Tegaskan PBNU Tak Mau Jadi Naga ke-10

Ia menilai Gus Dur merupakan figur yang tidak hanya memiliki ketokohan besar di tingkat nasional dan internasional, tetapi juga tetap menjaga hubungan dengan basis-basis NU di berbagai daerah.

“Gus Dur itu menurut saya luar biasa. Dengan ketokohannya yang luar biasa, dengan kekuatan pribadinya yang luar biasa, beliau masih punya waktu untuk terus melakukan konsolidasi di kantong-kantong atau di basis NU,” ujarnya.

Rahmat kemudian membandingkan kondisi tersebut dengan situasi yang menurutnya terjadi saat ini.

Ia menilai konsolidasi di kalangan elite organisasi lebih sering dilakukan menjelang agenda politik internal seperti Muktamar, sementara setelah agenda tersebut selesai aktivitas konsolidasi dengan warga menjadi berkurang.

“Kalau yang sekarang kan kalau kita lihat tokoh-tokoh NU ini melakukan konsolidasi karena mau muktamar. Setelah muktamar, tidak ada yang konsolidasi lagi, tidak ada yang mengurus lagi,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Rahmat juga menyoroti perubahan karakter masyarakat Indonesia yang menurutnya perlu dibaca secara serius oleh organisasi keagamaan, termasuk NU.

Ia menjelaskan bahwa komposisi masyarakat saat ini tidak lagi didominasi oleh masyarakat pedesaan seperti beberapa dekade lalu.

Baca juga: PBNU: Idul Adha Jadi Momentum Memperkuat Ketaatan dan Semangat Pengorbanan

Menurut dia, masyarakat Indonesia kini terdiri dari sekitar 20 persen masyarakat perkotaan, 40 persen masyarakat urban, dan 40 persen masyarakat desa.

Perubahan tersebut membawa konsekuensi terhadap cara organisasi membangun komunikasi dan pengaruh di tengah masyarakat.

Rahmat menilai NU belum memiliki langkah yang cukup sistematis untuk menjawab kebutuhan kelompok masyarakat urban yang jumlahnya terus meningkat.

Padahal kelompok tersebut memiliki karakter yang lebih kritis, lebih terbuka terhadap informasi, dan cenderung menilai organisasi berdasarkan kontribusi nyata yang diberikan.

Ia mengingatkan bahwa kondisi tersebut membuat NU tidak bisa lagi mengandalkan pola-pola lama dalam membangun kedekatan dengan masyarakat.

“PBNU atau NU secara umum tidak punya langkah-langkah strategis yang sistemik bagaimana eksis di masyarakat urban ini,” ucapnya.

Selain itu, Rahmat juga menyinggung dampak konflik internal yang kerap muncul ke ruang publik.

Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap organisasi.

Ia menilai anak-anak muda saat ini membutuhkan figur, keteladanan, dan panduan yang jelas. Karena itu, ketika mereka melihat konflik yang terus terjadi di ruang publik, minat untuk mendekat kepada organisasi dapat berkurang.

“Ketika melihat yang punya terlalu sering ribut, terlalu sering konflik di ruang publik, mereka jadi malas,” kata Rahmat.

Baca juga: Gus Yahya: Pemimpin Baru NU Masa Depan Harus Paham Isu Global

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa NU saat ini telah berkembang menjadi entitas publik yang tidak lagi hanya dinilai berdasarkan sejarah dan jasa para pendirinya.

Menurutnya, masyarakat kini lebih menaruh perhatian pada kontribusi nyata yang dapat diberikan organisasi kepada publik.

“NU itu sekarang sudah menjadi entitas publik. Bukan lagi menjadi entitas yang privat. Publik itu melihat apa yang sudah dikontribusikan, apa yang sudah dikerjakan,” ujarnya.

Rahmat menilai perubahan cara pandang tersebut harus menjadi perhatian serius bagi para pemimpin NU ke depan.

Ia mengatakan organisasi perlu menghadirkan program-program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini, termasuk di bidang pendidikan dan pemberdayaan ekonomi.

Dalam pandangannya, salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah memperkuat akses pendidikan berkualitas bagi masyarakat urban melalui pendirian sekolah-sekolah unggulan yang dapat dijangkau kalangan menengah.

Selain itu, ia juga mendorong lahirnya transformasi organisasi yang lebih terbuka terhadap gagasan-gagasan baru serta memberi ruang lebih besar kepada generasi muda.

Rahmat menegaskan bahwa semangat yang diwariskan Gus Dur tidak hanya berkaitan dengan pluralisme dan demokrasi, tetapi juga tentang keberanian untuk terus hadir di tengah persoalan masyarakat.

Karena itu, menurutnya, pelajaran penting yang dapat diambil dari kepemimpinan Gus Dur adalah menjaga kedekatan dengan umat serta memastikan organisasi tetap relevan dengan perubahan zaman.

“Jangan sampai kita semakin jauh dari masalah umat dan jamaah. Itu yang menurut saya akan selalu diingatkan oleh Gus Dur,” pungkas Rahmat.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar