Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gus Yahya: Digdaya Bukan Proyek Pribadi, Ini Program Transformasi NU

Kompas.com, 3 Juni 2026, 16:48 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, menegaskan bahwa platform Digdaya bukan proyek pribadi dirinya maupun kelompok tertentu di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU).

Menurutnya, Digdaya merupakan bagian dari ikhtiar besar PBNU untuk melakukan transformasi digital organisasi agar tata kelola jam’iyah menjadi lebih modern, transparan, dan akuntabel.

Gus Yahya menegaskan, Digdaya lahir sebagai jawaban atas kebutuhan organisasi yang semakin besar dan kompleks.

Sebagai organisasi keagamaan dengan jaringan kepengurusan yang tersebar hingga tingkat ranting dan anak ranting, NU membutuhkan sistem yang mampu mengintegrasikan data, layanan, serta proses administrasi secara lebih efektif.

"Digdaya bukan proyek pribadi Ketua Umum, bukan proyek pribadi PMO, dan bukan proyek bisnis kelompok tertentu. Digdaya adalah ikhtiar besar PBNU untuk menata organisasi dengan sistem digital," tegas Gus Yahya dalam keterangannya, Rabu (3/6/2026).

Baca juga: Gus Yahya Bantah Tambang NU untuk Kepentingan Pribadi: Ini Amanah Jamiyah

Ia menjelaskan, platform tersebut dirancang untuk mendukung berbagai kebutuhan organisasi, mulai dari persuratan, pengelolaan kepengurusan, kaderisasi, layanan pesantren, hingga integrasi dan visualisasi data dalam satu ekosistem digital.

Menurutnya, selama bertahun-tahun banyak proses organisasi masih bergantung pada dokumen manual, komunikasi informal, serta jaringan personal yang tidak selalu mudah ditelusuri dan diawasi.

Kondisi tersebut dinilai menyulitkan upaya modernisasi organisasi di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.

Oleh karena itu, PBNU mendorong transformasi digital melalui Digdaya agar berbagai proses administrasi dan layanan organisasi dapat berjalan lebih tertib, cepat, serta terdokumentasi dengan baik.

Gus Yahya mengatakan sistem persuratan digital yang dikembangkan melalui Digdaya memungkinkan dokumen organisasi tersimpan dan dikelola secara lebih efektif.

Selain itu, aplikasi kepengurusan yang menjadi bagian dari platform tersebut diharapkan dapat membantu pengelolaan organisasi secara berjenjang dari tingkat pusat hingga ranting.

"Digdaya hadir agar NU menjadi lebih terang, lebih rapi, dan lebih akuntabel. Ini bagian dari ikhtiar membangun tata kelola organisasi yang modern dan berorientasi pelayanan," ujarnya.

Di tengah berbagai kritik yang muncul, Gus Yahya menegaskan PBNU tidak menolak evaluasi terhadap Digdaya. Ia menyebut kritik dan masukan merupakan bagian penting dalam proses penyempurnaan sistem.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa evaluasi teknis tidak boleh langsung digiring menjadi tuduhan kriminal tanpa dasar yang jelas.

Menurutnya, perbedaan harus dibedakan antara kritik yang konstruktif dan upaya membangun opini negatif yang dapat merusak kepercayaan warga NU terhadap organisasi.

"Kalau ada kelemahan tata kelola, mari diperbaiki. Kalau ada celah keamanan, mari ditutup. Kalau SOP belum lengkap, mari dilengkapi. Tetapi melompat dari evaluasi teknis menjadi tuduhan kriminal adalah cara yang sembrono," kata Gus Yahya.

Baca juga: Tanpa Meritokrasi di NU, Gus Yahya: Semua Orang Bisa Lompat ke Puncak

Salah satu isu yang menjadi sorotan adalah pengelolaan data warga NU dalam platform Digdaya.

Menanggapi hal tersebut, PBNU memastikan bahwa data warga NU tidak diperjualbelikan maupun dimanfaatkan untuk kepentingan komersial pihak tertentu.

Gus Yahya menegaskan PBNU bertindak sebagai pengendali data pribadi dalam ekosistem Digdaya dan memiliki tanggung jawab untuk memastikan seluruh proses pengelolaan data berjalan sesuai ketentuan hukum yang berlaku, termasuk Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP).

Menurutnya, komitmen tersebut telah ditegaskan dalam dokumen pelindungan data pribadi Digdaya yang menyatakan bahwa PBNU tidak menjual, menyewakan, maupun memperdagangkan data pribadi warga NU kepada pihak ketiga untuk tujuan komersial.

"Ini harus dipahami oleh seluruh warga NU. Digdaya bukan alat eksploitasi data. Digdaya adalah alat konsolidasi, pelayanan, dan akuntabilitas organisasi," ungkapnya.

Sebagai bentuk keseriusan dalam memperkuat tata kelola digital, PBNU juga tengah menyiapkan sejumlah langkah pembenahan dan penguatan sistem.

Di antaranya audit keamanan informasi secara berkala, penyusunan standar operasional prosedur terkait pengelolaan data, penguatan fungsi Data Protection Officer, penerapan kontrol akses berbasis peran, hingga pencatatan aktivitas sistem secara menyeluruh.

Selain itu, PBNU juga akan memperkuat mekanisme pengaduan apabila terjadi insiden keamanan data serta menerapkan pakta integritas bagi seluruh pihak yang terlibat dalam pengelolaan platform Digdaya.

"PBNU tidak menutup mata. PBNU tidak anti-evaluasi. PBNU justru sedang menempatkan Digdaya pada jalur tata kelola yang lebih tertib," ujarnya.

Baca juga: Gus Yahya: Kritik Gus Dur Soal Keikhlasan Harus Membayangi Kader NU

Gus Yahya menilai transformasi digital merupakan kebutuhan yang tidak bisa dihindari oleh organisasi sebesar NU.

Dengan jumlah warga yang sangat besar dan jaringan kelembagaan yang luas, sistem digital menjadi instrumen penting untuk meningkatkan efektivitas pelayanan sekaligus memperkuat akuntabilitas organisasi.

Karena itu, PBNU memilih untuk terus melanjutkan pengembangan Digdaya sembari melakukan penyempurnaan tata kelola dan penguatan perlindungan data.

Menurut Gus Yahya, tantangan dalam proses digitalisasi harus dijawab dengan perbaikan dan pengawasan yang lebih baik, bukan dengan menghentikan program yang telah dirancang untuk kepentingan organisasi jangka panjang.

Ia berharap warga NU dapat melihat Digdaya sebagai bagian dari upaya membangun organisasi yang lebih modern dan responsif terhadap perkembangan zaman, sekaligus tetap berpegang pada prinsip transparansi, akuntabilitas, dan perlindungan terhadap hak-hak warga Nahdlatul Ulama.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar