Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Keajaiban Hidup Rabiah Al-Adawiyah, Wanita yang Bikin Malaikat Iri

Kompas.com, 3 Juni 2026, 18:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan dunia, ada sosok perempuan sufi yang namanya terus dikenang hingga berabad-abad setelah wafatnya.

Ia bukan seorang ratu, bukan pula tokoh yang memimpin pasukan atau menguasai wilayah luas.

Namun ketulusan ibadah dan kecintaannya kepada Allah SWT membuat namanya abadi dalam sejarah Islam.

Dialah Rabiah Al-Adawiyah, seorang perempuan salehah dari Basrah yang dikenal karena kezuhudan, keteguhan iman, dan cinta spiritualnya yang begitu mendalam kepada Sang Pencipta.

Salah satu kisah paling terkenal tentang dirinya adalah kabar yang diterimanya ketika masih menjadi budak.

Dalam kondisi penuh kesulitan, ia mendengar suara yang menenangkan hatinya dan menyampaikan bahwa kelak dirinya akan dimuliakan hingga para malaikat merasa iri terhadap kedudukannya.

Kisah tersebut dikutip dari buku 198 Kisah Haji Wali-Wali Allah karya Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny, yang memuat perjalanan hidup para wali dan orang-orang saleh yang dikenal karena kedekatannya dengan Allah SWT.

Terlahir dalam Kemiskinan dan Menjadi Yatim Sejak Kecil

Rabiah Al-Adawiyah lahir di Basrah, Irak, dari keluarga yang sangat sederhana. Ia merupakan anak keempat dari empat bersaudara. Karena itulah ia diberi nama Rabiah, yang dalam bahasa Arab berarti "yang keempat".

Masa kecil Rabiah tidak berjalan mudah. Ia kehilangan kedua orang tuanya ketika masih belia. Kesedihan itu semakin berat ketika Basrah dilanda bencana kelaparan yang membuat kehidupan masyarakat kacau.

Dalam situasi sulit tersebut, Rabiah terpisah dari saudara-saudaranya dan harus bertahan hidup seorang diri.

Nasibnya semakin berat ketika suatu hari ia diculik oleh seorang penjahat. Setelah ditangkap, ia dijual sebagai budak dengan harga hanya enam dirham.

Sejak saat itu, kehidupan Rabiah dipenuhi pekerjaan berat. Ia harus melayani majikannya setiap hari dengan tenaga yang terbatas.

Namun menariknya, penderitaan itu tidak membuatnya menjauh dari Allah. Justru di tengah kesulitan hidup, hatinya semakin dekat kepada Sang Pencipta.

Baca juga: Kisah Haru Penjual Sepatu yang Dapat Gelar Haji Mabrur Tanpa ke Makkah

Doa Seorang Budak yang Menggetarkan Langit

Suatu hari, ketika menjalankan pekerjaannya, Rabiah terjatuh hingga tangannya terkilir. Dalam keadaan kesakitan dan tidak memiliki siapa pun untuk mengadu, ia menengadahkan hati kepada Allah SWT.

Menurut kisah yang diriwayatkan dalam buku 198 Kisah Haji Wali-Wali Allah, Rabiah berdoa dengan penuh kepasrahan.

Ia mengeluhkan kesendiriannya sebagai anak yatim yang hidup jauh dari keluarga. Namun di balik semua penderitaan itu, ada satu hal yang terus menjadi pikirannya: apakah Allah ridha kepadanya atau tidak.

Bagi banyak orang, kehilangan keluarga, kebebasan, dan kesehatan mungkin menjadi alasan untuk mengeluh. Tetapi bagi Rabiah, yang paling penting justru keridhaan Allah.

Di saat itulah ia mendengar suara yang menenangkan dirinya. Suara itu mengatakan bahwa suatu hari nanti ia akan dimuliakan sedemikian rupa hingga para malaikat merasa iri terhadap kedudukannya.

Kalimat tersebut menjadi titik balik dalam hidup Rabiah. Sejak hari itu, ia semakin tekun beribadah.

Hidup dalam Ibadah Siang dan Malam

Meski harus bekerja keras sebagai budak, Rabiah tetap berusaha mengisi hidupnya dengan ibadah.

Pada siang hari ia berpuasa. Pada malam hari ia berdiri dalam shalat dan berdoa hingga larut. Kehidupan spiritualnya berjalan diam-diam tanpa diketahui banyak orang.

Hingga suatu malam, majikannya terbangun dari tidur dan secara tidak sengaja melihat pemandangan yang mengubah hidupnya.

Dari kejauhan ia menyaksikan Rabiah sedang bersujud dengan penuh khusyuk. Dalam doanya, Rabiah berkata bahwa seluruh hasrat hatinya hanya satu, yaitu memenuhi perintah Allah dan mengabdikan dirinya kepada-Nya.

Ia mengaku bahwa seandainya memiliki kebebasan, ia tidak akan berhenti beribadah walau sesaat.

Menurut kisah yang tercatat dalam buku tersebut, majikannya kemudian menyaksikan sesuatu yang luar biasa.

Di atas kepala Rabiah terlihat cahaya terang yang menerangi ruangan. Peristiwa itu membuat sang majikan ketakutan sekaligus tersentuh. Keesokan harinya, ia memanggil Rabiah dan membebaskannya tanpa syarat.

Baca juga: Satu-satunya dalam Sejarah, Kisah Pemulangan Jenazah Bung Tomo dari Makkah

Memilih Jalan Zuhud Setelah Merdeka

Setelah memperoleh kebebasan, Rabiah tidak memilih kehidupan mewah atau mencari kedudukan dunia.

Sebaliknya, ia justru memilih hidup sederhana dan mengabdikan seluruh waktunya untuk beribadah.

Nama Rabiah mulai dikenal masyarakat Basrah sebagai perempuan salehah yang memiliki kebijaksanaan dan kedalaman spiritual luar biasa.

Banyak orang datang untuk meminta nasihat dan mendengarkan petuahnya. Keistimewaan Rabiah bukan hanya karena banyaknya ibadah yang ia lakukan, melainkan karena ketulusan cintanya kepada Allah SWT.

Dalam berbagai riwayat, Rabiah sering digambarkan sebagai tokoh yang memperkenalkan konsep mahabbah, yakni beribadah karena cinta kepada Allah, bukan semata-mata karena takut neraka atau berharap surga.

Pandangan inilah yang kemudian membuat namanya sangat berpengaruh dalam perkembangan tasawuf Islam.

Perjalanan Haji yang Penuh Keajaiban

Salah satu kisah terkenal lainnya adalah perjalanan Rabiah menuju Tanah Suci. Rabiah berangkat menunaikan ibadah haji dengan bekal yang sangat sederhana.

Barang-barangnya diangkut menggunakan seekor keledai. Namun di tengah perjalanan melintasi padang pasir, keledai tersebut mati.

Beberapa orang dalam rombongan menawarkan bantuan untuk membawa barang-barangnya. Rabiah menolak dengan halus karena tidak ingin merepotkan orang lain.

Ketika ditinggalkan sendirian di tengah padang pasir, ia mengadukan kesulitannya kepada Allah SWT.

Belum lama setelah ia berdoa, terjadi peristiwa yang disebut sebagai karamah dalam kisah tersebut.

Keledai yang sebelumnya mati tiba-tiba bangkit kembali. Rabiah kemudian melanjutkan perjalanannya menuju Makkah.

Kisah ini menjadi salah satu cerita yang paling sering dikaitkan dengan kehidupan spiritual Rabiah Al-Adawiyah.

Baca juga: Kisah Ummu Mihjan, Marbot Perempuan di Masjid Nabawi yang Dimuliakan Rasulullah

Doa yang Terus Dikenang Sepanjang Zaman

Di antara warisan terbesar Rabiah adalah doa-doanya yang menggambarkan kecintaan luar biasa kepada Allah SWT.

Salah satu doa yang paling terkenal berbunyi:

"Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut kepada neraka, maka bakarlah aku di dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, maka jauhkanlah aku darinya. Tetapi jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, maka janganlah Engkau palingkan aku dari keindahan-Mu yang abadi."

Doa tersebut hingga kini sering dikutip dalam berbagai kajian tasawuf dan spiritualitas Islam.

Banyak ulama memandang doa itu sebagai gambaran puncak ketulusan seorang hamba dalam beribadah.

Wafat dengan Ketenangan yang Mengagumkan

Menjelang akhir hayatnya, Rabiah tetap menghabiskan waktu dengan dzikir dan ibadah.

Menurut kisah yang diriwayatkan dalam buku tersebut, saat ajal mendekat ia meminta orang-orang di sekitarnya meninggalkan kamarnya.

Tidak lama kemudian terdengar suara yang menyeru:

"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai."

Ketika para sahabatnya membuka pintu kamar, Rabiah Al-Adawiyah telah wafat.

Ia meninggalkan dunia yang selama hidupnya tidak pernah menjadi tujuan utama.

Mengapa Kisah Rabiah Masih Relevan Hari Ini?

Di zaman ketika ukuran kesuksesan sering diukur dari harta, jabatan, dan popularitas, kisah Rabiah Al-Adawiyah menghadirkan perspektif yang berbeda.

Ia memulai hidup sebagai anak yatim, menjadi budak, hidup dalam kemiskinan, dan tidak memiliki kekuasaan apa pun.

Namun justru dari kondisi itulah lahir seorang perempuan yang namanya dikenang selama lebih dari 1.200 tahun.

Kisah Rabiah menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang tidak selalu ditentukan oleh status sosial atau kekayaan, melainkan oleh ketulusan hati dan kedekatan kepada Allah SWT.

Barangkali itulah sebabnya kisahnya terus diceritakan dari generasi ke generasi.

Seorang perempuan sederhana dari Basrah yang hidup tanpa kemegahan dunia, tetapi namanya tetap hidup dalam sejarah Islam sebagai sosok yang disebut memiliki kedudukan begitu mulia hingga para malaikat pun iri kepadanya. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Aktual
5 Tips Padu Padan 'Modest Wear' untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
5 Tips Padu Padan "Modest Wear" untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
Aktual
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Aktual
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
Doa dan Niat
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Aktual
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Aktual
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Aktual
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Doa Harian
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar