Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Ija Suntana
Dosen

Pengajar pada Program Studi Hukum Tata Negara UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Hijrah dan Politik Unta

Kompas.com, 16 Juni 2026, 06:45 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

KETIKA Nabi Muhammad tiba di Madinah setelah menempuh perjalanan hijrah dari Mekkah, suasana kota dipenuhi kegembiraan. Penduduk Madinah dari berbagai suku berbondong-bondong menyambut.

Setiap suku berharap memperoleh kehormatan menjadi tuan rumah bagi Nabi Muhammad. Mereka menawarkan tempat tinggal, fasilitas, dan perlindungan.

Bagi masyarakat Madinah saat itu, menerima seorang nabi yang tinggal di rumah mereka bukan sekadar urusan tempat tinggal, melainkan simbol kehormatan sosial dan politik yang tinggi.

Namun, di balik antusiasme itu, Nabi Muhammad memahami realitas sosial Madinah dengan sangat hati-hati. Kota itu baru saja keluar dari sejarah panjang persaingan dan konflik antarsuku, terutama antara suku besar, yaitu Aus dan Khazraj.

Meski mereka telah mereda, sisa-sisa kebanggaan kesukuan, sensitivitas, dan ketegangan persaingan belum sepenuhnya hilang.

Dalam masyarakat seperti itu, langkah dan keputusan yang kurang perhitungan dapat menimbulkan konsekuensi besar.

Nabi Muhammad paham betul bahwa apabila dirinya memilih sendiri terhadap tawaran rumah salah satu keluarga dari suku di sana untuk menjadi tempat tinggalnya, maka keputusan tersebut berpotensi ditafsirkan sebagai bentuk keberpihakan.

Di satu sisi, kelompok yang dipilih akan merasa memperoleh kehormatan tinggi, sementara kelompok lain dapat merasa diabaikan.

Karena itu, Nabi Muhammad mengambil langkah yang penuh perhitungan. Ketika banyak orang memegang tali untanya, yang bernama Al-Qashwa, dan mempersilakan singgah di rumah mereka, Nabi Muhammad tidak menunjuk satu rumah pun.

Nabi Muhammad meminta agar mereka membiarkan untanya berjalan sampai berhenti di tempat yang diinginkannya.

Unta tersebut berjalan dengan sendirinya, hingga akhirnya berhenti di sebidang tanah yang berdekatan dengan rumah Abu Ayyub Al-Anshari—penduduk asli Madinah yang hidupnya sederhana, tapi cukup dikenal.

Dengan cara itu, masyarakat memahami bahwa tempat tinggal Nabi Muhammad tidak ditentukan oleh preferensi pribadinya, bukan karena kedekatan dengan suku tertentu, bukan pula karena pertimbangan politik tertentu. Yang menjadi penentu adalah berhentinya langkah kaki unta.

Nabi Muhammad ketika itu tidak memikirkan keputusan yang hanya benar, tetapi juga memikirkan bagaimana keputusan itu diterima oleh masyarakat.

Akibatnya, tidak ada kelompok yang merasa dikalahkan oleh keputusan Nabi Muhammad dan tidak ada kelompok yang dapat menuduh dirinya memihak kepada suku tertentu.

Mengelola Politik Persepsi

Andaikan ketika memasuki Madinah Nabi Muhammad langsung menunjuk salah satu rumah dan berkata, "Saya akan tinggal di sini," sangat mungkin keputusan itu menimbulkan konsekuensi yang tidak sederhana.

Suku yang memperoleh kehormatan menjadi tuan rumah seorang nabi tentu akan merasa bangga.

Dan, pada saat yang sama, kelompok lain akan bertanya-tanya: mengapa bukan kami? Apa kelebihan mereka? Apakah Muhammad lebih dekat dengan kelompok itu? Apakah kelompok itu akan memperoleh pengaruh lebih besar?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu mungkin tidak diucapkan secara terbuka, tetapi dapat hidup dalam percakapan-percakapan masyarakat dan bisikan-bisikan sosial. Bisikan-bisikan itu kemudian menjadi prasangka yang berkembang dari mulut ke mulut.

Nabi Muhammad memahami bahwa datang ke Madinah bukan sekadar sebagai seorang tamu. Dirinya datang membawa misi untuk membangun masyarakat baru yang keluar dari konflik yang sangat parah dan mengakar.

Misi sebesar itu memerlukan modal sosial yang sangat mahal, yaitu kepercayaan dari seluruh kelompok masyarakat.

Karena itu, sejak langkah pertama di Madinah, Nabi Muhammad menghindari segala tindakan yang dapat ditafsirkan sebagai keberpihakan.

Apabila Nabi Muhammad ketika itu memilih sendiri tempat tinggalnya, mungkin dirinya harus menghabiskan banyak energi untuk menjelaskan bahwa keputusan tersebut tidak mengandung motif politik. Dia harus terus-menerus meyakinkan kelompok lain bahwa dirinya tetap adil.

Sebagian waktu Nabi Muhammad akan tersita untuk mengelola kecurigaan, meredakan kecemburuan, dan menjawab prasangka-prasangka yang sebenarnya tidak perlu muncul.

Padahal, dirinya baru memasuki lingkungan yang membutuhkan seluruh energinya untuk agenda yang lebih besar.

Nabi Muhammad harus membangun persatuan, menyusun institusi, memperkuat solidaritas, dan menciptakan stabilitas sosial waktu itu.

Sementara itu, energi kepemimpinan adalah sumber daya yang terbatas. Semakin banyak energi yang habis untuk mengatasi persepsi negatif, semakin sedikit energi yang tersedia untuk membangun masa depan.

Keputusan Nabi Muhammad membiarkan unta yang bernama Al-Qashwa' berjalan hingga berhenti sendiri sesungguhnya merupakan “strategi politik”.

Dia mengalihkan sumber keputusan dari dirinya kepada sesuatu yang diterima oleh semua pihak sebagai proses yang netral.

Dengan cara itu, Nabi Muhammad tidak perlu menjelaskan keberpihakannya karena memang tidak ada keberpihakan yang dapat dituduhkan. Konflik persepsi dipadamkan olehnya sebelum sempat menyala.

Sebagai pendatang di Madinah, Nabi Muhammad tidak disibukkan oleh pertengkaran sosial akibat keputusan dirinya. Dirinya dapat segera memusatkan perhatian pada pekerjaan yang jauh lebih besar, yaitu membangun masyarakat, peradaban, dan sejarah yang bertahan hingga berabad-abad kemudian.

Dalam ilmu kepemimpinan modern, hal ini sering disebut sebagai pengelolaan persepsi publik dan pencegahan konflik sosial.

Keputusan yang secara substansi baik dapat menimbulkan masalah apabila proses pengambilannya dianggap tidak adil. Nabi memahami hal tersebut jauh sebelum teori-teori kepemimpinan modern lahir.

Pelajaran “politik unta” ini tetap relevan hingga hari ini. Dalam lembaga pemerintahan, organisasi, kampus, bahkan keluarga, konflik sering kali tidak muncul karena keputusan itu sendiri, melainkan karena munculnya persepsi bahwa pemimpin berpihak kepada kelompok tertentu.

Ketika seorang pemimpin terlalu menunjukkan preferensi personal dalam memilih orang, memberikan fasilitas, atau menentukan kebijakan, pihak lain dapat merasa diperlakukan tidak adil meskipun sebenarnya tidak demikian.

Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa pemimpin yang baik bukan hanya harus adil, tetapi juga harus mampu menghadirkan kesan keadilan di hadapan masyarakat.

Pemimpin harus memilih mekanisme yang diterima semua pihak dan menghilangkan ruang bagi prasangka serta kecemburuan.

Peristiwa berhentinya seekor unta yang bernama Al-Qashwa' di rumah Abu Ayyub Al-Anshari bukan sekadar kisah hijrah. Ia adalah pelajaran besar tentang seni memimpin masyarakat yang beragam.

Pemimpin harus sadar bahwa menjaga persatuan lebih penting daripada menunjukkan kehendak pribadi.

Pemimpin yang bijaksana tidak selalu menonjolkan haknya untuk menjatuhkan pilihan, tetapi harus memilih cara yang membuat semua pihak merasa dihargai dan diperlakukan secara setara.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Hilal Tak Terlihat, PBNU Tetapkan 1 Muharram Rabu 17 Juni 2026
Hilal Tak Terlihat, PBNU Tetapkan 1 Muharram Rabu 17 Juni 2026
Aktual
Presiden Jerman Terharu Lihat Istiqlal-Katedral, Menag: Sulit Ditemukan di Belahan Dunia Lain
Presiden Jerman Terharu Lihat Istiqlal-Katedral, Menag: Sulit Ditemukan di Belahan Dunia Lain
Aktual
Tahun Baru Islam 1448 H Dimulai, Kiswah Kabah Resmi Diganti 1 Muharram
Tahun Baru Islam 1448 H Dimulai, Kiswah Kabah Resmi Diganti 1 Muharram
Aktual
Tahun Baru Islam: Doa Akhir Tahun dan Doa Awal Tahun Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Tahun Baru Islam: Doa Akhir Tahun dan Doa Awal Tahun Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
Muharam 1448 H Tiba, Ini Keutamaan dan Amalan Sunnahnya
Muharam 1448 H Tiba, Ini Keutamaan dan Amalan Sunnahnya
Aktual
Pentingnya Shalat dalam Islam: Kunci Kesuksesan Abadi di Akhirat
Pentingnya Shalat dalam Islam: Kunci Kesuksesan Abadi di Akhirat
Aktual
Pemulangan Haji Gelombang I Berakhir, 95.178 Jemaah Diterbangkan
Pemulangan Haji Gelombang I Berakhir, 95.178 Jemaah Diterbangkan
Aktual
Sedekah Kolektif ASN Banyuwangi di Peringatan 1 Muharram, Wujud Ta’awun untuk Sesama
Sedekah Kolektif ASN Banyuwangi di Peringatan 1 Muharram, Wujud Ta’awun untuk Sesama
Aktual
Menangis Haru, Penjual Sayur Asal Kebumen: Orang seperti Saya Kok Bisa Berhaji
Menangis Haru, Penjual Sayur Asal Kebumen: Orang seperti Saya Kok Bisa Berhaji
Aktual
Hijrah dan Politik Unta
Hijrah dan Politik Unta
Aktual
Niat Puasa 1 Muharram Lengkap dengan Arab, Latin, Arti dan Keutamaannya
Niat Puasa 1 Muharram Lengkap dengan Arab, Latin, Arti dan Keutamaannya
Doa dan Niat
30 Prompt AI Kartu Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 1448 H untuk Dibagikan di Media Sosial
30 Prompt AI Kartu Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 1448 H untuk Dibagikan di Media Sosial
Aktual
Apa Perbedaan Malam 1 Suro dan 1 Muharram? Ini Penjelasan dan Sejarahnya
Apa Perbedaan Malam 1 Suro dan 1 Muharram? Ini Penjelasan dan Sejarahnya
Aktual
Pesantrenku Aman Hadir di Lampung, PBNU Perkuat Ekosistem Perlindungan Santri
Pesantrenku Aman Hadir di Lampung, PBNU Perkuat Ekosistem Perlindungan Santri
Aktual
Kemenag Rilis Posisi Hilal Awal Muharam 1448 H, Ini Hasilnya
Kemenag Rilis Posisi Hilal Awal Muharam 1448 H, Ini Hasilnya
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com