Editor
KOMPAS.com - Pondok Modern Darussalam Gontor genap memasuki usia satu abad pada 2026.
Momentum tersebut mendapat apresiasi dari Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafi'i yang menilai Gontor sebagai salah satu pesantren paling berpengaruh di Indonesia.
Menurutnya, kiprah Gontor tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga telah mendapat pengakuan di berbagai negara.
Baca juga: 100 Tahun Gontor, Ribuan Umat Hadiri Tabligh Akbar Bersama UAS dan Dasad Latif
Memasuki abad kedua, Gontor diyakini siap memperluas kontribusinya bagi Indonesia dan masyarakat internasional.
Dilansir dari laman Kemenag, Wamenag Romo Muhammad Syafi'i menyampaikan apresiasi tersebut usai membuka Sarasehan Kiai Pesantren Nasional yang digelar Forum Pesantren Alumni Gontor dan Forum Masyarakat Alumni Gontor dalam rangka Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, Sabtu (20/6/2026).
Baca juga: Pondok Gontor Larang Pengajar di Bawah 30 Tahun Naik Motor, Ini Aturan Lengkapnya
Menurutnya, nama Gontor sudah sangat melekat dengan identitas pesantren di Indonesia hingga dikenal di berbagai negara.
“Bahwa Gontor adalah salah satu pesantren legend Indonesia. Saya bertemu teman di luar negeri, kalau cerita tentang pesantren, mereka jawab Gontor. Artinya, Gontor untuk Indonesia itu dua hal yang sudah tidak bisa dipisahkan,” ujar Romo Syafi’i kepada awak media.
Romo Syafi'i mengatakan besarnya nama Gontor menunjukkan amanah besar yang diemban sebagai pesantren kepercayaan umat.
Ia menilai berbagai program yang dijalankan Gontor telah menjawab kebutuhan masyarakat dan sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren.
“Nama besar itu berarti Gontor mengembang amanah yang cukup besar menjadi pesantren kepercayaan umat di Indonesia. Apa yang saya saksikan di program-program yang ada di Gontor ternyata menjawab semua kebutuhan yang seharusnya hadir di Gontor. Karena Gontor sesuai dengan amanah Undang-Undang 18 Tahun 2019, tidak hanya lembaga pendidikan, tapi juga lembaga dakwah," kata Wamenag.
Selain menjalankan fungsi pendidikan dan dakwah, Gontor juga dinilai berhasil mendorong pemberdayaan masyarakat melalui kiprah para alumninya di berbagai bidang kehidupan.
"Bahkan pemberdayaan. Tidak banyak alumni Gontor yang berdaya di banyak bidang kehidupan. Dan itu memang kehadirannya sangat dibutuhkan oleh masyarakat,” sambungnya.
Menurut Wamenag, perjalanan Gontor selama 100 tahun telah melewati berbagai fase sejarah bangsa, mulai dari masa menjelang kemerdekaan hingga saat ini. Dalam rentang waktu tersebut, alumni Gontor telah mengisi berbagai posisi strategis di Indonesia.
Karena itu, memasuki abad kedua, Gontor diharapkan mampu mempertahankan prestasi sekaligus menjawab tantangan global yang semakin kompleks.
“Ke depan kita berharap Gontor bisa membangun peradaban untuk Indonesia, dan peradaban ini insya Allah akan mendunia. Saya yakin Gontor mampu menciptakan itu. Tantangan ke depan adalah, pertama mempertahankan prestasi itu, yang kedua menjawab tantangan ke depan yang semakin kompleks," tutur Wamenag.
Ia menegaskan, Gontor tidak lagi hanya berperan untuk Indonesia, tetapi juga dituntut memberikan kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat dunia di tengah semakin kuatnya hubungan antarnegera.
"Jadi Gontor tidak lagi hanya untuk Indonesia, tapi sudah harus mendunia. Karena interdependensi negara dengan negara itu sudah demikian kuat, dan saya melihat itu sudah mulai dirintis di Gontor. Jadi saya kira Gontor siap untuk menata dirinya, memberikan kontribusi kehidupan yang lebih baik, bukan hanya untuk Indonesia, tapi untuk masyarakat internasional,” tutupnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang