Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cak Imin: Santri Harus Punya Skill, Integritas, dan Taat Ilmu

Kompas.com, 29 Juni 2026, 13:06 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Ketua Umum DPP PKB sekaligus Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin) menekankan pentingnya kesiapan santri menghadapi tantangan masa depan.

Menurutnya, santri akan menjadi bagian dari generasi produktif yang berperan besar dalam menentukan arah pembangunan nasional pada era bonus demografi.

Karena itu, santri perlu dibekali kemampuan, integritas, serta kepatuhan terhadap ilmu pengetahuan agar mampu berkontribusi bagi bangsa.

Baca juga: Cak Imin Ajak Santri dan Alumni Pesantren Ambil Peran Jadi Solusi bagi Bangsa

Pesan tersebut disampaikan Cak Imin saat menghadiri Wisuda Kelas XII SMA dan MA Unggulan Bertaraf Internasional serta SMK Unggulan Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA), Cirebon, Jawa Barat.

Cak Imin Sebut Tiga Bekal Utama Santri Masa Depan

Cak Imin mengatakan santri masa depan harus memiliki tiga syarat utama agar mampu menjawab tantangan zaman sekaligus mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Baca juga: Kemenag Resmi Tutup Ponpes Ibadurrahman Kaltim, Bagaimana Nasib Santri?

Menurutnya, ketiga aspek tersebut menjadi fondasi penting bagi generasi santri dalam memanfaatkan bonus demografi yang dimiliki Indonesia.

"Santri harus memenuhi tiga syarat. Pertama memiliki skill dan kemampuan. Kedua memiliki integritas. Ketiga taat asas terhadap ilmu pengetahuan," kata Cak Imin, dalam keterangannya, Senin (29/6/2026).

Ia mengingatkan bahwa dalam beberapa tahun ke depan para santri akan memasuki usia produktif dan menjadi generasi yang memegang peran penting dalam pembangunan nasional.

"Kalau sekarang kalian lulus, berarti tahun 2030 kalian sudah mulai memegang kendali. Muhaimin Iskandar boleh gagal, tetapi lulusan BIMA tahun 2030 tidak boleh gagal. Modal kalian sangat besar, dan bonus demografi itu mutlak ada di tangan kalian," ucapnya.

Apresiasi Model Pendidikan Pesantren BIMA

Dalam kesempatan tersebut, Cak Imin mengapresiasi sistem pendidikan yang diterapkan Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA).

Menurutnya, pesantren yang diasuh KH Imam Jazuli memiliki konsep pendidikan yang visioner dan mampu menjawab kebutuhan zaman.

Ia mengaku pertama kali mengenal KH Imam Jazuli melalui media sosial sebelum akhirnya beberapa kali berkunjung langsung ke Pesantren BIMA.

"Saya kenal beliau bukan langsung bertemu, tetapi lewat Instagram. Saya melihat ada pesantren yang unik, bangunannya bagus, suasananya luar biasa. Saya sempat bertanya kepada Kiai Said Aqil Siradj, dan beliau mengatakan memang pesantren ini luar biasa. Akhirnya saya beberapa kali sowan ke BIMA dan semakin yakin bahwa pesantren ini memiliki visi, tahapan, dan model pendidikan yang sangat jelas," ungkap Cak Imin.

Kurikulum Pesantren Dinilai Menjawab Tantangan Masa Depan

Cak Imin juga mengungkapkan pernah berdiskusi dengan KH Imam Jazuli mengenai penyusunan kurikulum pesantren agar lebih efektif dalam menghadapi tantangan masa depan.

"Saya pernah bertanya kepada beliau, apakah pengalaman belajar puluhan tahun di Lirboyo bisa dipadatkan menjadi beberapa tahun. Beliau menjawab sangat bisa. Karena itu kurikulum yang disusun benar-benar menjawab kebutuhan dan tantangan zaman," ujarnya.

Sebagai Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Cak Imin optimistis semakin banyak lulusan pesantren akan berkontribusi dalam pembangunan nasional melalui berbagai bidang keahlian sekaligus memperkuat upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Pesantren BIMA Targetkan 2.000 Sarjana pada 2027

Sementara itu, Pengasuh Ponpes BIMA KH Imam Jazuli mengatakan target pesantren untuk melahirkan 1.000 sarjana di kampus internasional dan 1.000 sarjana di perguruan tinggi negeri diperkirakan tercapai lebih cepat dari target semula.

"Target kami tahun 2028 harus ada 1.000 sarjana di kampus internasional dan 1.000 sarjana di PTN nasional. Namun melihat perkembangan saat ini, insyaallah target tersebut akan tercapai pada tahun 2027," ungkapnya.

Menurut KH Imam Jazuli, pesantren perlu mempersiapkan generasi yang menguasai berbagai disiplin ilmu strategis sesuai kebutuhan bangsa, mulai dari bidang pertambangan hingga persenjataan.

"Saya ingin menggerakkan pesantren-pesantren secara nasional agar memiliki visi yang sama, bukan sekadar mencetak santri yang saleh, tetapi juga mencetak santri yang bermanfaat," tandasnya.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul "Muhaimin Dorong Kalangan Santri Miliki Skill dan Pengetahuan, Ambil Peran dalam Bonus Demografi".

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar