Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perang Uhud: Kisah Luka Nabi Muhammad di Kaki Jabal Uhud

Kompas.com, 30 Juni 2026, 09:53 WIB
Pythag Kurniati,
Farid Assifa

Tim Redaksi

MADINAH, KOMPAS.com - Menyelami jejak perjuangan Rasulullah pada saat Perang Uhud tak akan lengkap jika tidak berkunjung ke Goa Uhud dan Masjid Al-Fash di Jabal Uhud, Madinah, Arab Saudi.

Masjid Al-Fash juga dikenal dengan Masjid Uhud terletak di kaki Jabal Uhud.

Masjid ini berlokasi di ujung jalan menuju Al-Mihras yang dikenal dengan Sha'b Al Jerar.

Berdasarkan sejumlah sumber biografi, disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah shalat di tempat tersebut setelah Perang Uhud.

Pantauan Kompas.com di lokasi, masjid tersebut memiliki panjang sekitar enam meter dan lebar empat meter.

Masjid dilindungi atap dari kayu berwarna coklat.

Terdapat bebatuan yang tersusun tak penuh di sisi kanan dan kirinya.

Baca juga: Mencicipi Bakso Pak Omar di Jabal Uhud, Juga Digemari oleh Warga Saudi

Tak jauh dari lokasi, terdapat Goa Uhud berada di celah bebatuan Jabal Uhud setinggi kurang lebih tiga meter.

Goa tersebut hanya berukuran kecil yang memuat sekitar tiga orang saja.

Letaknya sekitar 500 meter dari Bukit Rumat dan makam syuhada Uhud.

Disebutkan bahwa Rasulullah sempat berlindung di goa tersebut saat terluka dalam pertempuran Uhud.

Secara historis, bangunan awal Masjid Al-Fash diyakini didirikan pada era kekhalifahan Bani Umayyah, tepatnya pada masa pemerintahan Gubernur Madinah, Umar bin Abdul Aziz, antara tahun 86–93 Hijriah (705–712 Masehi).

Masjid ini awalnya dibangun menggunakan batu basal hitam yang menjadi ciri khas wilayah tersebut, yang kemudian diperkuat dengan plester kapur.

Masjid ini telah mengalami beberapa kali restorasi, yang terakhir dilakukan pada masa kejayaan Saudi, di masa pemerintahan Raja Salman bin Abdulaziz.

Sejarah Singkat Perang Uhud

Dikutip dari buku Sejarah Peradaban Islam Terlengkap: Periode Klasik, Pertengahan, dan Modern oleh Rizem Aizid, Perang Uhud adalah pertempuran bersejarah yang pecah antara kaum muslim dan kafir Quraisy pada tanggal 22 Maret 625 Masehi atau bertepatan dengan 7 Syawal 3 Hijriah.

Nama pertempuran ini diambil dari lokasi terjadinya bentrokan yang berdekatan dengan sebuah bukit bernama Bukit Uhud, yang terletak sekitar empat mil dari Masjid Nabawi di kawasan Madinah.

Secara geografis, bukit ini berketinggian seribu kaki dari permukaan tanah dengan bentangan panjang mencapai lima mil.

Peristiwa pertumpahan darah ini terjadi kurang lebih setahun lebih seminggu setelah peristiwa Perang Badar.

Kekalahan kaum Quraisy Mekkah dalam Perang Badar sebelumnya menyebabkan mereka menyimpan dendam dan bersumpah untuk segera membalasnya.

Selain dipicu oleh api dendam, penyerangan ini juga mengemban misi penting untuk menyelamatkan jalur bisnis kaum Quraisy ke Syam.

Mereka juga sangat berharap bisa memusnahkan kekuatan kaum muslim sebelum berkembang menjadi sebuah ancaman besar bagi keberadaan kaum Quraisy.

Saat pertempuran akhirnya meletus, sebanyak tujuh ratus orang tentara Islam maju ke medan laga di bawah pimpinan langsung Nabi Muhammad SAW.

Pasukan muslim tersebut harus berjuang menghadapi kekuatan yang jauh lebih besar, yakni tiga ribu orang tentara kafir yang dipimpin oleh Abu Sufyan.

Pertempuran di medan Uhud ini berlangsung dengan sangat sengit hingga menelan banyak korban jiwa.

Perang ini pada akhirnya selesai dengan tewasnya sekitar dua puluh tiga hingga tiga puluh orang musuh dan gugurnya tujuh puluh orang dari pasukan kaum muslim.

Paman Nabi Muhammad SAW yang bernama Hamzah bin Abdul Muthalib turut menjadi salah satu pahlawan yang gugur dalam perang ini.

Sementara itu, Nabi Muhammad SAW sendiri terdesak dan mengalami luka-luka parah yang menyebabkan gigi beliau patah.

Meskipun pasukan Quraisy berhasil mendesak kaum muslimin, mereka ternyata tidak menuntaskan serangan tersebut.

Baca juga: 4 Perang Besar di Bulan Syawal dalam Sejarah Islam, dari Perang Uhud hingga Thaif

Abu Sufyan beserta seluruh pasukannya justru memilih untuk menarik diri dari area peperangan dan segera bertolak kembali menuju Mekkah.

Seusai pertempuran, Nabi Muhammad SAW memerintahkan pasukannya yang masih terluka untuk bangkit dan mengejar musuh hingga ke daerah Hamra al-Asad.

Keputusan pengejaran ini sukses menjatuhkan mental kaum Quraisy sehingga mereka batal menyerbu Madinah dan memilih kabur menyelamatkan diri.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Bikin Lomba Agustusan Pakai Uang Pendaftaran? Begini Hukumnya
Bikin Lomba Agustusan Pakai Uang Pendaftaran? Begini Hukumnya
Aktual
Legitimasi Historis Tokoh Partai di Pucuk Pimpinan PBNU
Legitimasi Historis Tokoh Partai di Pucuk Pimpinan PBNU
Aktual
Cegah Kekerasan Seksual, Kemenag Wajibkan CCTV hingga Cabut Izin Pesantren Nakal
Cegah Kekerasan Seksual, Kemenag Wajibkan CCTV hingga Cabut Izin Pesantren Nakal
Aktual
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Aktual
5 Tips Padu Padan 'Modest Wear' untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
5 Tips Padu Padan "Modest Wear" untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
Aktual
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Aktual
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
Doa dan Niat
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar