Editor
KOMPAS.com - Kemajuan teknologi informasi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mengubah cara masyarakat memperoleh pengetahuan agama.
Akses terhadap informasi keagamaan kini semakin mudah melalui media sosial dan berbagai aplikasi berbasis AI.
Namun, tidak semua informasi yang beredar memiliki dasar keilmuan yang benar, utuh, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Baca juga: Kemenag: Penyuluh Agama Harus Aktif Berdakwah di Media Sosial
Karena itu, Kementerian Agama (Kemenag) menegaskan peran Penyuluh Agama Islam kini semakin penting sebagai pembimbing masyarakat dalam menyaring informasi dan meluruskan pemahaman keagamaan di era digital.
Pesan tersebut disampaikan Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, Muchlis M. Hanafi, saat memberikan pembinaan kepada Penyuluh Agama Islam se-Kalimantan Timur di Samarinda.
Baca juga: Dari Penyuluh Agama Jadi Kepala KUA, Buah Manis Pengabdian Uun Kurniasih Selama 26 Tahun
Kegiatan yang diselenggarakan secara hybrid oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Timur itu diikuti 50 penyuluh secara luring dan 102 peserta secara daring.
Turut hadir Kepala Kantor Wilayah Kemenag Kalimantan Timur H. Abdul Khaliq, Kabag TU H. Murdi, dan Kabid Bimas Islam H. Rudi Kartono.
“Di era media sosial dan AI, tantangan penyuluh bukan hanya menyampaikan ajaran agama, tetapi juga membimbing masyarakat agar mampu membedakan mana pengetahuan agama yang otoritatif dan mana yang hanya viral. Penyuluh harus menjadi fact checker keagamaan — namun bukan fact checker biasa, melainkan yang berpijak pada sanad keilmuan,” ujarnya di Samarinda, Selasa (30/6/2026).
Muchlis mengatakan, belakangan ini semakin banyak masyarakat menjadikan media sosial maupun aplikasi AI sebagai rujukan utama untuk mencari jawaban atas persoalan agama.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah pola belajar masyarakat secara signifikan.
Menurut dia, AI memang mampu menyajikan informasi dengan cepat, tetapi tidak memiliki landasan keilmuan dan tanggung jawab sebagaimana ulama maupun penyuluh agama.
“AI dapat membantu mencari informasi dengan sangat cepat. Namun AI tidak memiliki sanad keilmuan, tidak memiliki tanggung jawab moral, dan tidak mampu memahami konteks sosial masyarakat sebagaimana seorang ulama maupun penyuluh agama,” katanya.
Karena itu, penyuluh agama perlu menghadirkan nilai yang tidak dapat digantikan oleh teknologi, seperti keteladanan, empati, pendampingan, kemampuan membaca kondisi masyarakat, serta kebijaksanaan dalam memberikan bimbingan keagamaan.
Muchlis juga mengingatkan bahwa dunia saat ini tengah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ketegangan geopolitik, tekanan ekonomi global, disrupsi teknologi, perubahan pola komunikasi, hingga perkembangan kecerdasan buatan.
Menurutnya, berbagai perubahan tersebut turut memengaruhi cara masyarakat memahami ajaran agama.
Dalam kondisi tersebut, penyuluh agama dituntut memperkuat penguasaan fiqh al-waqi' atau pemahaman terhadap realitas, serta fiqh at-tahawwulāt atau pemahaman terhadap perubahan sosial.
Ia menilai dakwah yang efektif tidak hanya bertumpu pada penguasaan dalil, tetapi juga kemampuan memahami perkembangan zaman agar pesan-pesan agama tetap relevan dan mampu menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Penyuluh harus memahami apa yang sedang terjadi di tengah masyarakat, sekaligus mampu memprediksi arah perubahan yang akan datang. Dakwah tidak boleh tertinggal oleh perubahan zaman,” tegasnya.
Muchlis turut mengapresiasi dedikasi para Penyuluh Agama Islam yang selama ini menjadi garda terdepan pelayanan keagamaan pemerintah hingga ke pelosok daerah.
Menurutnya, keberhasilan berbagai program pembinaan keagamaan sangat bergantung pada kerja nyata para penyuluh yang hadir langsung di tengah masyarakat.
Ia juga mengajak seluruh penyuluh untuk terus meningkatkan kompetensi, baik dalam penguasaan ilmu agama, kemampuan komunikasi, literasi digital, maupun pemanfaatan teknologi secara bijaksana.
“Teknologi akan terus berkembang, AI akan semakin cerdas. Tetapi masyarakat tetap membutuhkan sosok yang mampu membimbing, mendengarkan, dan menghadirkan nilai-nilai agama secara arif. Di situlah peran penyuluh menjadi semakin penting, bukan semakin berkurang,” pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang