Penulis
KOMPAS.com – Menteri Agama Nasaruddin Umar mengingatkan bahwa tujuan utama mempelajari Al-Qur'an bukan sekadar menambah pengetahuan, melainkan sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Menurutnya, ilmu yang dipelajari tanpa landasan spiritual berpotensi kehilangan arah.
Pesan itu disampaikan Menag saat menghadiri Wisuda Akbar Program I'dadi, Tahsin, dan Tahfidz Pondok Pesantren Al-Qur'an dan Sains Nurani Tahun Ajaran 2025–2026 di Ronatama Convention Hall, Depok, Jawa Barat, Sabtu (11/7/2026).
"Dalam Islam itu ilmu bukan untuk ilmu, tetapi ilmu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena itu ayat pertama berbunyi Iqra' bismi rabbika, bukan sekadar iqra' saja," ujar Nasaruddin Umar.
Menag menjelaskan, frasa Iqra' bismi rabbika mengandung makna bahwa aktivitas membaca, meneliti, dan mencari ilmu harus selalu dilandasi kesadaran akan kehadiran Allah. Menurutnya, pendidikan yang hanya mengejar aspek intelektual tanpa nilai ketuhanan dapat kehilangan orientasi.
"Kalau pendidikan tanpa bismillahirrahmanirrahim, itu berbahaya. Di pesantren ada iqra' dan ada bismillahirrahmanirrahim. Artinya ilmu selalu dikaitkan dengan Allah," katanya.
Baca juga: Pertemuan dengan Dubes Arab Saudi, Menag Bahas Rencana Konferensi Imam Dunia 2026 di Jakarta
Dalam kesempatan itu, Nasaruddin juga mengajak para santri memahami Al-Qur'an secara lebih mendalam. Ia menilai menghafal Al-Qur'an merupakan langkah awal yang sangat mulia, tetapi tidak boleh berhenti pada hafalan semata.
"Anda menghafal Al-Qur'an jangan berhenti pada hafalan. Teruslah belajar agar memahami makna, isyarat, hingga hikmah yang terkandung di dalamnya," ujarnya.
Menurut Menag, Al-Qur'an memiliki lapisan makna yang sangat luas. Karena itu, seorang muslim perlu terus belajar agar mampu menangkap pesan-pesan ilahiah yang lebih dalam, bukan hanya memahami makna tekstualnya.
Ia mengutip pandangan ulama yang menyebut Al-Qur'an memiliki tingkatan pemahaman, mulai dari makna lahiriah hingga hakikat yang lebih mendalam. Oleh sebab itu, proses belajar Al-Qur'an tidak boleh berhenti setelah seseorang mampu membaca atau menghafalnya.
Dalam sambutannya, Nasaruddin juga mengulas makna ayat pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW, yakni Surat Al-'Alaq ayat 1-5. Ia menjelaskan bahwa perintah iqra' menunjukkan pentingnya tradisi membaca dalam Islam.
Namun, menurutnya, Al-Qur'an tidak hanya memerintahkan membaca dalam arti akademik, tetapi membaca dengan kesadaran spiritual melalui kalimat bismi rabbika.
"Jangan dipahami hanya iqra' saja, tetapi Iqra' bismi rabbika. Membaca atas nama Tuhanmu. Itu yang membedakan pendidikan Islam dengan pendidikan yang hanya mengejar ilmu pengetahuan semata," jelasnya.
Pada bagian lain sambutannya, Menag menyebut Al-Qur'an sebagai kitab suci yang hingga kini menjadi salah satu buku dengan jumlah pembaca, pencetakan, dan penyebaran terbesar di dunia.
Ia mengatakan, ketertarikan terhadap Al-Qur'an tidak hanya datang dari kalangan muslim, tetapi juga dari banyak ilmuwan dan masyarakat nonmuslim yang ingin memahami kandungannya.
"Al-Qur'an adalah rahmat bagi seluruh alam. Peminat Al-Qur'an bukan hanya umat Islam, tetapi juga banyak dari kalangan nonmuslim yang mempelajarinya," ujar Menag.
Menutup sambutannya, Nasaruddin Umar meminta para santri yang diwisuda untuk terus melanjutkan perjalanan belajar Al-Qur'an. Ia juga mengajak mereka senantiasa mendoakan kedua orang tua yang telah berjuang membiayai pendidikan anak-anaknya.
"Jangan pernah berhenti belajar Al-Qur'an. Doakan juga orang tua agar diberikan kesehatan, kekuatan, dan rezeki sehingga bisa terus mendukung pendidikan kalian sampai setinggi-tingginya," pesannya.
Baca juga: Menag Nasaruddin Umar Kunjungi KH Imam Jazuli Bahas soal Masa Depan NU
Wisuda Akbar Program I'dadi, Tahsin, dan Tahfidz Pondok Pesantren Al-Qur'an dan Sains Nurani tahun ajaran 2025–2026 tersebut diikuti para santri yang telah menyelesaikan jenjang pembelajaran Al-Qur'an, mulai dari tahap persiapan membaca, tahsin hingga tahfidz. Acara juga dihadiri Pemimpin Pondok Pesantren Tahfidz Nurani (PPQS Nurani) KH M Ilyas Marwal, Direktur Pesantren Kementerian Agama Basnang Said, para pengasuh pesantren, ulama, tokoh masyarakat, serta orangtua santri.
Meta Deskripsi (±150 karakter):
Menag Nasaruddin Umar menegaskan tujuan mempelajari Al-Qur'an bukan sekadar menambah ilmu, tetapi untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Alternatif Meta Deskripsi:
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak santri tidak berhenti menghafal Al-Qur'an, tetapi terus memahami makna dan hikmah yang terkandung di dalamnya.