Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jelang Muktamar NU ke-35, Empat Kandidat Ketua Umum Sudah Silaturahmi ke PCNU Palangka Raya

Kompas.com, 15 Juli 2026, 19:56 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, komunikasi antara para kandidat Ketua Umum PBNU dengan pengurus cabang di berbagai daerah terus berlangsung.

Seperti diketahui, Muktamar NU ke-35 dijadwalkan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026.

PCNU Palangka Raya mengungkapkan bahwa hingga pertengahan Juli 2026, sudah ada empat kandidat yang menjalin silaturahmi dan komunikasi menjelang pelaksanaan muktamar.

Baca juga: Presiden Prabowo Dijadwalkan Membuka Muktamar NU ke-35 di Jombang

Pengurus cabang menegaskan akan berhati-hati menentukan pilihan dengan mengutamakan figur pemersatu organisasi.

PCNU Palangka Raya Utamakan Figur Pemersatu

Ketua PCNU Palangka Raya, HM Syahrun, mengatakan seluruh pengurus cabang dan warga Nahdliyin berharap Muktamar NU menghasilkan kepemimpinan yang mampu membawa perbaikan bagi organisasi.

Baca juga: Ketua Umum PBNU: Muktamar Ke-35 NU Siap Digelar, Bahas Kepentingan dan Kemaslahatan Bangsa

Menurutnya, kehati-hatian dalam menentukan pilihan menjadi penting karena sosok Ketua Umum PBNU akan menentukan arah organisasi pada masa mendatang.

"Jangan sampai terjadi hal-hal yang sudah terjadi pada saat ini," ujar Syahrun saat ditemui TribunKalteng.com di Sekretariat PCNU Palangka Raya, Rabu (15/7/2026).

Syahrun menilai perbedaan pandangan maupun dinamika dalam organisasi merupakan hal yang wajar selama tidak menimbulkan dampak yang merugikan.

"Tetapi tidak sampai merugikan," kata dia.

Ia berharap peserta Muktamar NU dapat memilih pemimpin yang mampu menghadirkan kedamaian, saling memahami, serta tidak mengedepankan sikap saling mengintimidasi.

PCNU Palangka Raya Koordinasi dengan Ulama Sebelum Menentukan Sikap

Syahrun menjelaskan PCNU Palangka Raya akan berkoordinasi dengan Rais Syuriah dan para ulama di Kalimantan Tengah sebelum menentukan pilihan pada Muktamar NU ke-35.

Menurutnya, masukan para ulama menjadi pertimbangan penting dalam menentukan sikap organisasi.

"Selalu kita mengikuti dan meminta nasihat dan jalan kepada mereka sebelum kita menentukan pilihan," ucapnya.

Ia mencontohkan langkah serupa yang dilakukan Wakil Ketua Umum MUI, KH Masrudi Syuhud, yang belum lama ini bersilaturahmi dengan ulama kharismatik Banten, Abuya Muhtadi Dimyathi.

Pertemuan tersebut, menurut Syahrun, juga membahas peran strategis NU dalam menjaga persatuan bangsa.

Empat Kandidat Ketua Umum PBNU Sudah Bangun Komunikasi

Syahrun mengungkapkan hingga saat ini sudah ada empat kandidat Ketua Umum PBNU yang membangun komunikasi dengan PCNU Palangka Raya menjelang Muktamar NU ke-35.

Keempat kandidat tersebut yakni:

  1. KH Abdussalam Shohib (Gus Salam)
  2. KH Zulfa Mustafa
  3. KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf)
  4. Prof Nasaruddin Umar

Untuk Prof Nasaruddin Umar, komunikasi dilakukan melalui perantara.

"Prof Nazaruddin tidak datang langsung tetapi melalui Gus Ipul," bebernya.

Gus Yahya Dijadwalkan Hadiri Silaturahmi di Kalteng

Selain empat kandidat tersebut, Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, juga dijadwalkan menghadiri agenda silaturahmi bersama PCNU se-Kalimantan Tengah dan PWNU Kalimantan Tengah di Pangkalan Bun pada 22 Juli 2026.

Syahrun mengatakan kehadiran peserta dari berbagai daerah masih akan menyesuaikan kondisi masing-masing.

"Itu undangannya se Kalteng yang di Kobar itu, tapi nanti yang datang ya mungkin tergantung nanti kondisi," tandasnya.

Artikel ini telah tayang di Tribunkalteng.com dengan judul “Daftar 4 Kandidat Calon Ketum Nahdlatul Ulama Sudah Silaturahmi ke NU Palangka Raya jelang Muktamar”. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Aktual
5 Tips Padu Padan 'Modest Wear' untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
5 Tips Padu Padan "Modest Wear" untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
Aktual
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Aktual
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
Doa dan Niat
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Aktual
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Aktual
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Aktual
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Doa Harian
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar