Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kapan Membacakan Talqin yang Sesuai Sunnah? Ketahui Waktu untuk Menuntun Bacaan “La Ilaha Illallah”

Kompas.com, 27 Juli 2026, 22:17 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Talqin merupakan amalan yang sering dikaitkan dengan seseorang yang akan meninggal dunia.

Namun, waktu pelaksanaan talqin masih menjadi pertanyaan di kalangan umat Islam karena terdapat perbedaan praktik di masyarakat.

Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menjelaskan bahwa talqin dilakukan ketika seseorang sedang menghadapi sakaratul maut, bukan setelah meninggal dunia atau usai dimakamkan.

Baca juga: Jejak Kehangatan Kak Bund, dari Kantin sampai Sujud di Nabawi…

Penjelasan tersebut didasarkan pada hadis-hadis Nabi Muhammad SAW mengenai anjuran membimbing orang yang sedang menghadapi ajal mengucapkan kalimat tauhid.

Talqin Dilakukan Saat Seseorang Menghadapi Sakaratul Maut

Secara istilah, talqin berarti membimbing seseorang yang sedang sekarat untuk mengucapkan kalimat syahadat. Dasar amalan ini adalah hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri:

"Talkinlah seorang yang 'wafat' di antara kalian dengan kalimat 'La ilaha illallah'." (HR. Muslim).

Baca juga: Amalan Setelah Memakamkan Jenazah Sesuai Sunnah Rasulullah SAW

Lebih lanjut, menurut Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Arifudin, yang dimaksud dalam hadis tersebut bukanlah mentalqin orang yang telah meninggal, melainkan orang yang sedang berada dalam kondisi sakaratul maut.

Penjelasan itu diperkuat oleh hadis Nabi SAW:

"Siapa pun yang akhir ucapannya (ketika menjelang ajal) kalimat La ilaha illallah maka ia masuk surga." (HR. Abu Dawud).

Tujuan Talqin agar Mengakhiri Hidup dengan Kalimat Tauhid

Arifudin menjelaskan bahwa talqin bertujuan membantu seseorang mengakhiri hidupnya dengan mengucapkan kalimat La ilaha illallah sebagai salah satu tanda husnul khatimah.

“Salah satu tanda seseorang mendapatkan husnul khatimah dan mendapatkan surga, maka sunnahnya adalah kita mentalqin sebelum orang tersebut wafat, tujuannya agar mau mengucap kalimat tahlil sebelum menghadap Allah,” terang Arifudin dalam kajian yang diselenggarakan Masjid KH. Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada Kamis (16/03).

Karena itu, talqin dipahami sebagai amalan yang dilakukan sebelum seseorang meninggal, bukan setelah kematiannya.

Keluarga Dianjurkan Mendampingi Orang yang Sekarat

Arifudin yang juga seorang dokter mengatakan mengucapkan kalimat La ilaha illallah ketika sakaratul maut bukan perkara mudah.

Menurutnya, kemampuan seseorang mengucapkan kalimat tersebut dipengaruhi oleh amal ibadah yang telah dijalani selama hidup.

Oleh sebab itu, keluarga dianjurkan mendampingi anggota keluarganya yang sedang berada dalam kondisi kritis.

Kehadiran keluarga dapat membantu membimbing orang yang sedang sakaratul maut untuk mengingat Allah dan mengucapkan syahadat.

“Mengucapkan kalimat Laa ilaha illallah di kala sekarat jangan dikira mudah. Penelitian menyebutkan bahwa pasien yang bisa mengucap kalimat itu tidaklah banyak, justru lebih banyak yang berteriak. Makanya kita harus mendampingi keluarga kita tatkala sekarat,” ujar Arifudin.

Waktu Pelaksanaan Talqin Menurut Muhammadiyah

Berdasarkan penjelasan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, waktu pelaksanaan talqin yang sesuai tuntunan sunnah adalah ketika seseorang sedang menghadapi sakaratul maut.

Tujuannya agar orang tersebut dapat mengakhiri hidupnya dengan kalimat tauhid sebagai bekal terbaik saat menghadap Allah SWT.

Dalam pandangan ini, talqin tidak dilakukan setelah seseorang meninggal dunia, melainkan sebelum wafat saat masih mampu mendengar dan dibimbing mengucapkan syahadat.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar