Penulis
KOMPAS.com – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjaga persatuan dan kerukunan di tengah keberagaman Indonesia. Menurutnya, Indonesia merupakan anugerah Tuhan yang harus dijaga bersama dan tidak boleh dirusak oleh perpecahan.
Pesan tersebut disampaikan Menag saat memberikan sambutan pada Zikir dan Doa Kebangsaan Tingkat Kenegaraan 1448 H/2026 M di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Sabtu (1/8/2026) malam.
Dalam pidatonya, Nasaruddin menggambarkan Indonesia sebagai bangsa yang memiliki keunikan karena dihuni masyarakat dari berbagai agama, suku, budaya, dan latar belakang.
"Indonesia adalah lukisan Tuhan yang paling indah di muka bumi ini, maka itu tidak boleh ada yang mengacak-acaknya," tegas Nasaruddin di hadapan ribuan peserta Zikir dan Doa Kebangsaan.
Baca juga: Menag: Tunjangan Guru Naik 700 Persen, Tertinggi Sepanjang Sejarah
Menurutnya, keberagaman yang dimiliki Indonesia bukanlah sumber perpecahan, melainkan kekuatan yang harus terus dirawat demi masa depan bangsa.
Menag menilai pelaksanaan Zikir dan Doa Kebangsaan menjadi bukti nyata bahwa kerukunan antarumat beragama hidup dan tumbuh di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.
Ia menyebut ribuan peserta dari berbagai latar belakang agama berkumpul dalam satu majelis untuk memanjatkan doa terbaik bagi bangsa.
"Malam ini adalah bukti bahwa kerukunan merupakan realitas sosial yang hidup di masyarakat Indonesia yang majemuk," ujarnya.
Menurut Nasaruddin, perbedaan keyakinan tidak menghalangi seluruh anak bangsa untuk memiliki tujuan yang sama, yakni menjaga Indonesia tetap damai dan bersatu.
"Kita boleh berbeda keyakinan, tetapi kita dipersatukan oleh cinta yang sama kepada Indonesia," katanya.
Dalam kesempatan itu, Menag juga mengungkapkan bahwa upaya menjaga kerukunan terus menunjukkan hasil positif.
Ia menyebut Indeks Kerukunan Umat Beragama meningkat dari 76,47 pada 2024 menjadi 77,89 pada 2025, sekaligus menjadi capaian tertinggi sejak indeks tersebut diukur.
Tak hanya itu, Indeks Kesalehan Umat Beragama juga meningkat menjadi 84,20 pada 2025.
Menurut Nasaruddin, capaian tersebut tidak lepas dari kontribusi para tokoh agama yang terus membina umat dan memperkuat kehidupan beragama yang damai.
"Secara khusus kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh tokoh agama yang terus konsisten dalam membina umat hingga kerukunan bangsa tetap terawat. Ini penting karena kerukunan adalah modal dasar pembangunan," ujarnya.
Di tengah dinamika global, Menag optimistis Indonesia memiliki peluang besar menjadi salah satu episentrum peradaban dunia.
Menurutnya, stabilitas ekonomi, kehidupan sosial, dan kondisi politik nasional yang relatif kondusif menjadi modal penting bagi Indonesia dibandingkan sejumlah negara yang masih dilanda konflik.
Baca juga: Link Live Streaming Zikir dan Doa Kebangsaan HUT ke-81 RI di Monas
Ia menegaskan bahwa semangat persatuan harus terus dipelihara agar cita-cita tersebut dapat terwujud.
"Bagi kami, bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh kekuatan ekonomi, kemajuan teknologi, atau ketangguhan politik. Bangsa yang besar juga dibangun oleh kekuatan doa, keluhuran akhlak, dan kokohnya kerukunan antarsesama," kata Menag.
Melalui Zikir dan Doa Kebangsaan yang diikuti sekitar 100.000 peserta dari berbagai daerah dan agama, Menag berharap doa-doa yang dipanjatkan menjadi ikhtiar batin untuk memperkuat persatuan serta membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih damai, maju, dan sejahtera.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang