Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dari Iqra hingga Jurnalisme, Haedar Nashir: Islam Punya Tradisi Literasi yang Kuat

Kompas.com, 14 Agustus 2026, 13:22 WIB
Reni Susanti

Editor

KOMPAS.com — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir menyebut profesi wartawan sebagai pekerjaan mulia karena memiliki tanggung jawab menghadirkan informasi yang benar, baik, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Menurut Haedar, tugas tersebut memiliki keterkaitan dengan tradisi literasi dalam Islam.

Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW bahkan diawali dengan perintah iqra atau membaca dalam Surah Al-Alaq ayat 1.

"Islam hadir melalui iqra, melalui Surah Al-Alaq ayat 1. Artinya, Islam mempunyai tradisi literasi yang profetik," kata Haedar dalam Peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026 di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).

"Dunia wartawan, dunia pers adalah dunia yang mulia," lanjutnya dikutip dari Suara Muhammadiyah. 

Baca juga: Cerita Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir 42 Tahun Jadi Jurnalis hingga Kantongi Kartu Wartawan Utama

Pers Harus Tetap Menyajikan Kebenaran

Haedar mengatakan, pers memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan alternatif narasi dan informasi yang dapat dipercaya sekaligus memberikan arah bagi kehidupan masyarakat.

Namun, ia mengakui tugas tersebut tidak mudah. Pers harus bergerak di tengah berbagai kepentingan, mulai dari ekonomi, politik, hingga tuntutan publik.

Haedar mengibaratkan kondisi tersebut seperti mengayuh di antara banyak karang.
Kendati demikian, ia meyakini kecerdasan, kepiawaian, dan profesionalitas insan pers dapat membuat media tetap mampu menjalankan perannya.

"Dengan kecerdasan, dengan kepiawaian kita, dunia pers untuk tetap menyajikan informasi yang terbaik bagi masyarakat, bagi publik, sesulit apa pun kita akan bisa menampilkan kebenaran," ujarnya.

Baca juga: Muhammadiyah Luncurkan MSUS, Haedar Nashir Sebut Akan Tambah Daya Tampung

Menurut Haedar, keberadaan pers juga dibutuhkan oleh pemerintah dan lembaga-lembaga negara.

Eksekutif, legislatif, yudikatif, TNI, Polri, maupun institusi lainnya membutuhkan informasi, masukan, dan kritik yang disampaikan melalui media massa.

Ia menilai kritik dan keberagaman informasi justru diperlukan agar kehidupan suatu bangsa dapat terus berkembang.

"Bangsa akan menjadi lebih maju," kata Haedar.

Karena itu, Haedar berharap para elite memiliki keterbukaan dan kepedulian untuk berbagi informasi kepada masyarakat.

Pada saat yang sama, pers harus tetap menjalankan fungsi kritik dengan berpegang pada etika dan kepentingan bangsa.

Perbedaan Tak Harus Berujung Perpecahan

Haedar kemudian mengaitkan peran pers dengan kehidupan kebangsaan. Menurut dia, sebuah bangsa dapat bertahan karena memiliki kehendak bersama.

Perbedaan pandangan tidak harus menjadi sumber perpecahan karena Indonesia telah memiliki titik temu melalui Pancasila dan UUD 1945.

"Kebangsaan punya persepsi masing-masing dan di situlah bangsa bisa hidup. Bangsa dihidupkan oleh kehendak bersama," ujarnya.

Kehendak bersama tersebut, kata Haedar, harus diarahkan untuk mewujudkan Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat, adil, dan makmur.

Karena itu, seluruh elemen masyarakat, termasuk organisasi kemasyarakatan, akademisi, dan pers memiliki peran dalam menjaga arah kehidupan kebangsaan.

Dewan Pers Ingatkan Pentingnya Tabayyun

Sementara itu, Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat menyoroti tantangan jurnalisme di tengah derasnya arus informasi.

Menurut Komaruddin, profesi wartawan harus dijalankan dengan tanggung jawab, integritas, dan kompetensi, bukan sekadar sebagai pekerjaan.

Ia mengatakan, tradisi Islam mengenal konsep tabayyun atau verifikasi untuk memastikan kebenaran sebuah informasi.

"Berita itu dalam tradisi Islam punya tradisi untuk dilakukan tabayyun atau verifikasi," kata Komaruddin.

Ia mencontohkan tradisi verifikasi dalam sejarah transmisi Al-Qur'an dan hadis, termasuk penggunaan mekanisme sanad untuk memastikan keabsahan informasi.

Prinsip tersebut dinilai semakin relevan ketika perkembangan teknologi digital membuat masyarakat terus-menerus terhubung dengan arus informasi melalui perangkat digital.

Peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026 di UMJ pun menjadi momentum untuk memperkuat tradisi literasi dan profesionalisme jurnalistik di tengah tantangan era digital dan kecerdasan buatan (AI).

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Kuota Haji Pakistan 2027 Skema Pemerintah Sudah Penuh, 107.526 Jemaah Terdaftar
Kuota Haji Pakistan 2027 Skema Pemerintah Sudah Penuh, 107.526 Jemaah Terdaftar
Aktual
Qariah NTB Khairunnisa Wakili Indonesia di MTHQA ke-66 Malaysia 2026
Qariah NTB Khairunnisa Wakili Indonesia di MTHQA ke-66 Malaysia 2026
Aktual
Menag Ajak ASN Kemenag Jadi Agen Perlinsos: Panggilan Iman dan Persaudaraan
Menag Ajak ASN Kemenag Jadi Agen Perlinsos: Panggilan Iman dan Persaudaraan
Aktual
Kemenag Dukung Percepatan Pendaftaran Perlinsos 2027, Libatkan Penyuluh dan Penghulu
Kemenag Dukung Percepatan Pendaftaran Perlinsos 2027, Libatkan Penyuluh dan Penghulu
Aktual
Doa Sebelum Belanja Online agar Terhindar dari Perilaku Boros
Doa Sebelum Belanja Online agar Terhindar dari Perilaku Boros
Aktual
Hukum Memakai Parfum bagi Wanita, Benarkah Dilarang dalam Islam? Ini Penjelasannya
Hukum Memakai Parfum bagi Wanita, Benarkah Dilarang dalam Islam? Ini Penjelasannya
Aktual
Agen Perlinsos: Cara Daftar, Syarat, dan Perannya dalam Pendataan Bansos
Agen Perlinsos: Cara Daftar, Syarat, dan Perannya dalam Pendataan Bansos
Aktual
Gus Nabil Dorong Federasi Pencak Silat Hong Kong, Libatkan Warga Lokal
Gus Nabil Dorong Federasi Pencak Silat Hong Kong, Libatkan Warga Lokal
Aktual
Menag Nasaruddin Umar Jelaskan 5 Sumber Ilmu dalam Tradisi Keislaman
Menag Nasaruddin Umar Jelaskan 5 Sumber Ilmu dalam Tradisi Keislaman
Aktual
Mana yang Didahulukan, Ilmu atau Adab? Ini Penjelasan Ulama
Mana yang Didahulukan, Ilmu atau Adab? Ini Penjelasan Ulama
Aktual
LPPOM MUI Perkuat Kolaborasi di Bengkulu Jelang Wajib Halal Oktober 2026
LPPOM MUI Perkuat Kolaborasi di Bengkulu Jelang Wajib Halal Oktober 2026
Aktual
Tema dan Logo Hari Santri 2026 Versi Kemenag serta PBNU
Tema dan Logo Hari Santri 2026 Versi Kemenag serta PBNU
Aktual
Pangandarun 2026, Berlari untuk Kebugaran dan Semangat Beribadah
Pangandarun 2026, Berlari untuk Kebugaran dan Semangat Beribadah
Aktual
PBNU Luncurkan Tema dan Logo Hari Santri 2026, Tekankan Tradisi dan Keutuhan Negeri
PBNU Luncurkan Tema dan Logo Hari Santri 2026, Tekankan Tradisi dan Keutuhan Negeri
Aktual
Kisah Abu Umamah Al-Bahili, Sahabat Nabi yang Gemar Bersedekah
Kisah Abu Umamah Al-Bahili, Sahabat Nabi yang Gemar Bersedekah
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar