Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Unsur Islam di Balik Pemilihan Tanggal Proklamasi 17 Agustus 1945

Kompas.com, 17 Agustus 2026, 11:18 WIB
Puji Sri Rahayu,
Reni Susanti

Tim Redaksi

Sumber Kompas.com

KOMPAS.com — Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan Soekarno pada Jumat, 17 Agustus 1945. Di balik pemilihan tanggal tersebut, ternyata Soekarno mempertimbangkan keyakinan dan simbol-simbol dalam Islam. 

Hari itu, Soekarno didampingi Mohammad Hatta membacakan teks Proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta.

Peristiwa tersebut menjadi penanda lahirnya Indonesia sebagai negara merdeka.

Proklamasi berlangsung pada bulan Ramadhan. Para tokoh yang merumuskan teks Proklamasi bahkan bekerja hingga menjelang pagi sebelum kemerdekaan diumumkan.

Lantas, mengapa Soekarno memilih 17 Agustus 1945 untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia?

Baca juga: HUT RI, Menag Ajak Umat Bantu Korban Gempa: Agama Tak Hanya Bicara Langit

Golongan Muda Desak Proklamasi Segera Dilakukan

Menjelang Proklamasi, terjadi perbedaan pandangan antara Soekarno-Hatta dan golongan muda mengenai waktu menyatakan kemerdekaan.

Golongan muda menginginkan Proklamasi segera dilakukan setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945.

Mereka khawatir kemerdekaan Indonesia akan dipandang sebagai pemberian Jepang apabila Proklamasi tidak segera dilakukan secara mandiri.

Pada malam 15 Agustus 1945, sejumlah pemuda mendatangi kediaman Soekarno dan mendesaknya segera memproklamasikan kemerdekaan.

Namun, Soekarno dan Hatta belum menyetujui desakan tersebut.

Baca juga: HUT ke-81 RI, Ini Dalil Cinta Tanah Air dalam Al-Quran dan Hadis

Keesokan harinya, 16 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta dibawa kelompok pemuda ke Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat.

Langkah tersebut dilakukan agar kedua tokoh itu tidak terpengaruh oleh Jepang sekaligus untuk mendesak agar kemerdekaan segera diproklamasikan.

Setelah melalui perundingan, Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta.

Naskah Proklamasi Disusun hingga Menjelang Subuh

Setelah kembali dari Rengasdengklok, Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ahmad Soebardjo menyusun naskah Proklamasi di rumah Laksamana Tadashi Maeda, Jalan Imam Bonjol Nomor 1, Jakarta.

Perumusan berlangsung sejak tengah malam hingga menjelang pagi.

Sejumlah tokoh turut berada di lokasi, antara lain Sudiro, B.M. Diah, dan Sukarni.

Dalam proses penyusunan, Ahmad Soebardjo mengusulkan rumusan kalimat pertama, sedangkan Mohammad Hatta berperan dalam perumusan kalimat kedua.

Setelah rumusan disepakati, naskah diketik Sayuti Melik.

Sukarni kemudian mengusulkan agar naskah Proklamasi ditandatangani Soekarno dan Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia.

Beberapa jam kemudian, Jumat, 17 Agustus 1945 pukul 10.00, Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta.

Mengapa Soekarno Memilih 17 Agustus?

Soekarno ternyata memiliki pertimbangan khusus mengenai tanggal Proklamasi.

Di tengah desakan agar kemerdekaan diumumkan secepat mungkin, Soekarno memilih Jumat, 17 Agustus 1945.

Angka 17 memiliki arti tersendiri bagi Soekarno. Ia menghubungkannya dengan sejumlah hal yang memiliki makna dalam kehidupan umat Islam.

Tanggal tersebut jatuh pada hari Jumat di bulan Ramadhan. Soekarno juga mengaitkan angka 17 dengan waktu yang diperingati sebagian besar umat Islam di Indonesia sebagai Nuzulul Quran, yakni 17 Ramadhan.

Selain itu, jumlah rakaat salat fardu yang dikerjakan umat Islam dalam sehari semalam juga berjumlah 17 rakaat.

"Jumat yang berbahagia, Jumat suci. Al-Quran diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia," kata Soekarno.

Pertimbangan tersebut menjadi salah satu alasan Soekarno mempertahankan tanggal 17 Agustus sebagai hari untuk menyatakan kemerdekaan Indonesia.

Dengan demikian, 17 Agustus 1945 bukan sekadar tanggal yang muncul dari rangkaian peristiwa politik menjelang berakhirnya Perang Dunia II.

Bagi Soekarno, tanggal tersebut juga memiliki makna yang berkaitan dengan keyakinannya, di tengah momentum besar bangsa Indonesia untuk menyatakan kemerdekaan.

(Sumber: Kompas.com/Fatimah Az Zahra, Editor: Albertus Adit)

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT



Terkini Lainnya
Mendaki Gunung Bukan Sekadar Mengejar Puncak, Bisa Jadi Ruang Muhasabah
Mendaki Gunung Bukan Sekadar Mengejar Puncak, Bisa Jadi Ruang Muhasabah
Aktual
Unsur Islam di Balik Pemilihan Tanggal Proklamasi 17 Agustus 1945
Unsur Islam di Balik Pemilihan Tanggal Proklamasi 17 Agustus 1945
Aktual
HUT ke-81 RI, MUI Ajak Masyarakat Perkuat Moral dan Ketahanan Keluarga
HUT ke-81 RI, MUI Ajak Masyarakat Perkuat Moral dan Ketahanan Keluarga
Aktual
HUT RI, Menag Ajak Umat Bantu Korban Gempa: Agama Tak Hanya Bicara Langit
HUT RI, Menag Ajak Umat Bantu Korban Gempa: Agama Tak Hanya Bicara Langit
Aktual
Menko Polkam Sebut Bendera Merah Putih Wajib Dihormati, Bagaimana Pandangan Islam?
Menko Polkam Sebut Bendera Merah Putih Wajib Dihormati, Bagaimana Pandangan Islam?
Aktual
Kisah Umar bin Khattab, Menolak Kenikmatan yang Tak Dirasakan Rakyat
Kisah Umar bin Khattab, Menolak Kenikmatan yang Tak Dirasakan Rakyat
Aktual
Gempa M 7,7 NTT, Cerita Mahasiswa KKN UMY yang Putar Haluan Jadi Relawan
Gempa M 7,7 NTT, Cerita Mahasiswa KKN UMY yang Putar Haluan Jadi Relawan
Aktual
Suntiang dan Songket Minangkabau Hiasi Perlengkapan Ibadah pada HUT RI
Suntiang dan Songket Minangkabau Hiasi Perlengkapan Ibadah pada HUT RI
Aktual
Kisah Adzra, Siswi Madrasah yang Lari 3 Km Setiap Hari demi Jadi Paskibraka Nasional
Kisah Adzra, Siswi Madrasah yang Lari 3 Km Setiap Hari demi Jadi Paskibraka Nasional
Aktual
HUT ke-81 RI, Ini Dalil Cinta Tanah Air dalam Al-Quran dan Hadis
HUT ke-81 RI, Ini Dalil Cinta Tanah Air dalam Al-Quran dan Hadis
Aktual
Bukan Cocoklogi, Kenali Integrasi Islam dan Sains Ala Muhammadiyah
Bukan Cocoklogi, Kenali Integrasi Islam dan Sains Ala Muhammadiyah
Aktual
Ketua Komisi Fatwa MUI KH Junaidi Wafat, MUI Sampaikan Duka Mendalam
Ketua Komisi Fatwa MUI KH Junaidi Wafat, MUI Sampaikan Duka Mendalam
Aktual
Apakah Istri Wajib Taat pada Suami yang Bergaji di Bawah UMR? Ini Penjelasan Muhammadiyah
Apakah Istri Wajib Taat pada Suami yang Bergaji di Bawah UMR? Ini Penjelasan Muhammadiyah
Aktual
Malam Tirakatan HUT Ke-81 RI 17 Agustus 2026: Pengertian, Makna, Susunan Acara, dan Doa
Malam Tirakatan HUT Ke-81 RI 17 Agustus 2026: Pengertian, Makna, Susunan Acara, dan Doa
Aktual
Muhammadiyah Sampaikan Duka atas Gempa NTT, MDMC dan Lazismu Diturunkan untuk Bantu Korban
Muhammadiyah Sampaikan Duka atas Gempa NTT, MDMC dan Lazismu Diturunkan untuk Bantu Korban
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar