Editor
KOMPAS.com — Umar bin Khattab dikenal sebagai salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang teguh menjaga keadilan dan kesederhanaan, termasuk setelah menjadi khalifah.
Di tengah kekuasaan yang dimilikinya, Umar justru dikenal berhati-hati terhadap berbagai fasilitas dan pemberian yang datang karena kedudukannya.
Salah satu kisahnya terjadi ketika Umar menerima kiriman makanan istimewa dari Utbah bin Farqad, Gubernur Azerbaijan.
Kisah tersebut diceritakan dalam buku Nyala Obor Integritas: Kisah Ulama Melawan Korupsi yang diterbitkan Kementerian Agama Republik Indonesia, dengan merujuk riwayat sejarawan Al-Balazuri.
Baca juga: Kisah Umar bin Abdul Aziz, Teladan Pemimpin yang Bisa Memisahkan Fasilitas Negara dan Hak Pribadi
Kala itu, seorang utusan bernama Suhaim datang menemui Umar dengan membawa dua keranjang anyaman yang dibungkus kain wol dan kulit.
Umar kemudian menanyakan isi keranjang tersebut.
"Apa yang engkau bawa ini, wahai Suhaim? Apakah ini emas atau perak?" tanya Umar dikutip dari laman Kemenag, Senin (17/8/2026).
Suhaim membuka bungkusan itu. Isinya ternyata bukan emas ataupun perak, melainkan khabish, hidangan manis yang dibuat dari campuran kurma, gandum, dan lemak.
Umar sempat mencicipinya.
"Sungguh, ini sangat nikmat," katanya.
Namun, kenikmatan makanan itu justru memunculkan pertanyaan lain dari Umar.
"Apakah semua kaum Muhajirin di daerahmu sudah memakan hidangan senikmat ini hingga mereka kenyang?"
Suhaim menjawab bahwa makanan tersebut tidak dinikmati semua orang.
"Tidak, wahai Amirul Mukminin. Ini adalah sesuatu yang khusus disiapkan oleh Utbah sang gubernur untuk Anda," jawabnya.
Mendengar jawaban tersebut, Umar berhenti menyantap makanan itu.
Baca juga: Ketika Umar bin Khattab Menggaji Guru Rp 95 Juta: Pelajaran tentang Martabat Pendidik dalam Islam
Umar kemudian menulis surat kepada Utbah bin Farqad.
"Sesungguhnya nikmat ini bukanlah hasil jerih payahmu, bukan pula hasil lelah ayah dan ibumu. Aku bersumpah, kami tidak akan memakan sesuatu kecuali jika kaum Muslimin di rumah-rumah mereka juga telah memakannya hingga kenyang."
Makanan tersebut kemudian dikirim kembali kepada sang gubernur bersama surat Umar.
Sikap itu memperlihatkan standar yang diterapkan Umar terhadap dirinya sendiri sebagai seorang pemimpin.
Persoalannya bukan sekadar nilai makanan yang diterimanya. Umar mempertanyakan alasan mengapa dirinya memperoleh sesuatu yang tidak dapat dinikmati masyarakat lainnya.
Dalam konteks sekarang, kisah tersebut dapat dibaca sebagai pelajaran mengenai gratifikasi dan integritas pejabat publik.
Pemberian yang diterima seseorang karena jabatan perlu dilihat secara berbeda dengan pemberian yang muncul dari hubungan personal yang setara.
Kedudukan tidak seharusnya menjadi jalan bagi seorang pemimpin untuk memperoleh berbagai keistimewaan yang tidak dimiliki masyarakat yang dipimpinnya.
Sikap Umar terhadap pemberian bukan satu-satunya kisah mengenai ketegasannya menjaga harta publik.
Syamsul Anwar dan kawan-kawan dalam kajiannya mencatat kisah Muz'in ibn Za'idah yang melakukan pemalsuan stempel baitul mal untuk mengambil sebagian harta di dalamnya.
Umar memberikan hukuman kepada Muz'in atas perbuatannya tersebut.
Dalam kisah lainnya, Umar pernah menegur seorang pemungut zakat yang menerima hadiah dari seorang muzakki. Ia kemudian memerintahkan agar hadiah tersebut diserahkan kepada baitul mal.
Prinsipnya serupa: jabatan publik tidak boleh digunakan untuk memperoleh keuntungan pribadi.
Umar juga membangun mekanisme pengawasan terhadap para pejabatnya.
Sejarawan Al-Thabari mencatat bahwa pada musim haji, Umar meminta para gubernur berkumpul.
Momentum tersebut digunakan untuk mengawasi para pejabat sekaligus membuka ruang terhadap persoalan yang muncul dalam pemerintahan mereka.
Cara tersebut menjadi salah satu bentuk kontrol Umar terhadap para pejabat agar kekuasaan tidak digunakan secara sewenang-wenang.
Kisah-kisah tersebut menunjukkan bahwa bagi Umar bin Khattab, menjaga integritas tidak hanya berarti tidak mengambil harta negara.
Integritas juga menyangkut keberanian menolak keuntungan dan keistimewaan yang muncul karena seseorang sedang memegang kekuasaan.
Umar seolah membuat batas yang tegas antara apa yang menjadi hak pribadi dan apa yang diperoleh karena jabatan.
Bahkan, makanan yang nilainya jauh lebih kecil dibandingkan emas atau harta benda tetap menjadi persoalan ketika diberikan secara khusus kepada seorang pemimpin karena kedudukannya.
Pesan tersebut tetap relevan dalam kehidupan modern.
Korupsi tidak selalu bermula dari pengambilan uang negara dalam jumlah besar. Persoalan integritas dapat dimulai ketika seseorang terbiasa menerima fasilitas, pemberian, atau keistimewaan karena jabatan yang dimilikinya.
Kisah Umar bin Khattab mengingatkan bahwa kekuasaan bukan jalan untuk memperoleh lebih banyak keistimewaan.
Sebaliknya, semakin besar kekuasaan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menjaga batas antara kepentingan pribadi dan kepentingan publik.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT