Penulis
KOMPAS.com — Mendaki gunung tak melulu tentang menaklukkan puncak, menguji kekuatan fisik, atau mengejar pemandangan dari ketinggian.
Perjalanan menuju gunung juga dapat menjadi ruang untuk beristirahat, melakukan refleksi, hingga mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Mountaineering Advisor dan Eiger Adventure Service Team (EAST) Manager Galih Donikara mengatakan, cara pandang tersebut dapat mengubah bagaimana seseorang memperlakukan gunung ketika melakukan pendakian.
Ia menceritakan pandangan sejumlah pemandu gunung di Nepal yang memaknai perjalanan menuju gunung sebagai sebuah ziarah.
"Menurut teman-teman guide di Nepal, naik gunung itu ziarah. Jadi mendaki gunung itu niatkan ziarah," ujar Galih kepada Kompas.com, belum lama ini.
Baca juga: 50 Ucapan Tahun Baru Islam 1448 H Penuh Doa, Harapan, dan Muhasabah
Menurut dia, apabila perjalanan dimaknai sebagai ziarah, seseorang akan mempersiapkan dirinya dengan cara berbeda.
"Kalau ziarah mah harus bersuci. Suci hati, suci pikiran, bening pikiran. Semuanya dilakukan dengan baik, persiapan dengan baik karena kan mau ziarah," tuturnya.
Mountaineering Advisor dan EAST Manager Galih Donikara.Galih mengatakan, perjalanan ke gunung juga dapat diniatkan sebagai ruang pendidikan dan muhasabah atau introspeksi diri.
Pendaki tidak harus selalu memandang perjalanan berdasarkan seberapa cepat mencapai puncak atau berapa banyak pos yang berhasil dilewati.
Menurut dia, gunung sejak dahulu juga menjadi tempat manusia mencari ketenangan.
Jika dikaitkan dengan psikologi pendakian, Galih menyebut salah satu tujuan perjalanan ke alam adalah rest atau beristirahat.
"Istirahat pikiran, istirahat mental, istirahat fisik. Jadi datang ke gunung. Orang dulu kan ke gunung itu untuk mencari ketenangan," katanya.
Baca juga: Khutbah Jumat Dzulqadah: Keutamaan Bulan Haram dan Momentum Muhasabah Diri
Karena itu, perjalanan mendaki seharusnya dijalani dengan kesadaran terhadap proses yang dilewati.
Bagi seorang Muslim, Galih mengibaratkannya dengan konsep tartil, yakni menjalani perjalanan secara perlahan, teratur, dan penuh perhatian.
"Sehingga dengan demikian kita mendaki itu dengan penuh, kalau orang Muslim mah, tartil ya. Tartil," ucap Galih.
Dengan cara pandang tersebut, pendakian tidak lagi sekadar perjalanan menuju puncak, tetapi juga kesempatan untuk mengenali diri sendiri dan kembali dengan membawa perubahan.
Galih bahkan menggunakan istilah "mabrur" untuk menggambarkan perjalanan yang memberikan dampak baik setelah seseorang pulang dari gunung.
"Sehingga kalau naik gunung, kegiatan itu jadi pulangnya teh mabrur," katanya.
Menghormati Alam Bagian dari Pendakian
Pemaknaan spiritual tersebut, menurut Galih, juga berkaitan dengan bagaimana pendaki memperlakukan alam.
Ia mengingatkan bahwa gunung merupakan ruang alam yang tidak dapat sepenuhnya diprediksi. Kemampuan fisik dan pengalaman mendaki tidak otomatis membuat seseorang kebal terhadap risiko.
"Gunung mah unpredictable," katanya.
Karena itu, pendaki perlu memperhatikan cuaca, musim, kondisi jalur, serta berbagai tanda alam sebelum dan selama perjalanan.
Pengalaman pendakian yang panjang sekalipun tidak boleh membuat seseorang kehilangan kewaspadaan.
Galih mencontohkan bagaimana pendaki dengan kemampuan dan pengalaman luar biasa tetap dapat menghadapi risiko ketika berada di lingkungan pegunungan dengan kondisi yang sulit diprediksi.
"Karena tetap saja bahwa respect pada alam mah penting. Memperhatikan cuaca, memperhatikan musim," ujarnya.
Selain mengandalkan informasi formal, Galih mengingatkan pentingnya mendengarkan masyarakat yang tinggal di sekitar gunung.
Menurut dia, masyarakat setempat memiliki pengalaman panjang dalam memahami karakter alam di wilayahnya.
Pendaki dapat bertanya mengenai karakter gunung, jalur, cuaca, hingga kebiasaan masyarakat ketika menghadapi perubahan kondisi alam.
"Karena yang paling tahu alam di sana kan mereka," katanya.
Menurut Galih, hal tersebut terkadang terlupakan ketika pendakian hanya berorientasi mengejar pos demi pos hingga mencapai puncak.
Ia juga menyinggung konsep "pamali" yang hidup dalam berbagai masyarakat tradisional.
"Saat ini mah kelihatannya mereka sudah tidak tahu apa itu pamali. Sudah tidak tahu mereka apa itu pamali," ujarnya.
Terlepas dari bentuk kepercayaannya, berbagai larangan lokal dapat menjadi bagian dari pengetahuan masyarakat yang terbentuk dari pengalaman panjang hidup berdampingan dengan alam.
Karena itu, pendaki perlu menghargai aturan maupun pengetahuan masyarakat setempat selama tidak bertentangan dengan ketentuan yang berlaku.
Galih menegaskan, pendakian harus dipersiapkan secara matang dengan memperhatikan keselamatan, kesehatan, dan kelestarian alam.
"Persiapan dengan matang, penuhi semua kaidahnya. Lakukan dengan baik dan benar. Jaga keselamatan, kesehatan, sama jaga alamnya," katanya.
Pengelola kawasan juga memiliki peran penting. Menurut Galih, pendaki harus mematuhi keputusan pengelola ketika jalur dinyatakan tidak aman atau ditutup akibat kondisi cuaca.
Sebaliknya, pengelola perlu berani menghentikan aktivitas pendakian apabila kondisi membahayakan.
"Kalau misalnya membahayakan ya mohon maaf, umumkan jauh-jauh hari tanggal sekian dan sekian ditutup sementara karena cuaca lagi enggak bagus," ujarnya.
Keselamatan, kata dia, tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan mengejar pemasukan dari tiket pendakian.
Pada akhirnya, memandang gunung sebagai ruang ziarah dan muhasabah juga membawa konsekuensi terhadap perilaku pendaki selama berada di alam.
Seseorang yang datang dengan niat untuk menjernihkan hati dan pikiran semestinya tidak meninggalkan kerusakan ketika pulang.
Salah satu bentuk paling sederhana adalah menjaga kebersihan.
"Terus beberesih, beberesih diri, beberesih lingkungan. Teu nyampah, tidak akan buang sampah ke sana," kata Galih.
Dengan demikian, perjalanan menuju gunung tidak berhenti pada keberhasilan mencapai puncak.
Pendakian dapat menjadi kesempatan untuk beristirahat dari hiruk-pikuk kehidupan, melakukan muhasabah, menghormati alam, dan pulang dengan sikap yang lebih baik.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT