Editor
KOMPAS.com — Musibah kerap dipahami sebagai peristiwa buruk yang menimpa seseorang, mulai dari bencana alam, kehilangan harta, sakit, hingga kematian orang terdekat.
Namun, Ustaz Adi Hidayat menjelaskan bahwa dalam Islam, musibah tidak selalu berbentuk kesulitan atau sesuatu yang tidak menyenangkan.
Menurut Adi Hidayat, berbagai peristiwa yang dialami manusia dalam kehidupan pada hakikatnya dapat menjadi ujian dari Allah SWT.
Tak hanya kehilangan dan kesedihan, kenikmatan seperti bertambahnya harta, mendapatkan jabatan, hingga memperoleh ilmu juga dapat menjadi ujian bagi manusia.
“Sifat manusia itu menyadari ada masalah atau musibah diasosiasikan selalu pada hal yang tidak disukai saja. Padahal semua yang kita alami pada hakikatnya adalah musibah—dua-duanya ujian untuk menguji siapa di antara kita yang bisa memaksimalkan potensi kebaikannya di hadapan Allah,” kata Adi Hidayat, dikutip dari kanal YouTube Adi Hidayat Official.
Baca juga: Ujian Hidup: Belajar dari Sangkar Emas dan Burung Hantu
Adi Hidayat menjelaskan, ujian dalam kehidupan dapat hadir melalui dua keadaan, yakni sesuatu yang menyenangkan maupun sesuatu yang sulit.
Ujian yang menyenangkan dapat berupa jabatan, bertambahnya kekayaan, maupun ilmu yang dimiliki seseorang.
Kenikmatan tersebut, menurut dia, terkadang membuat manusia lupa bahwa apa yang dimilikinya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT.
Sementara ujian dalam bentuk kesulitan dapat berupa kehilangan, kematian, berkurangnya harta, hingga munculnya rasa takut.
Karena itu, manusia tidak seharusnya hanya menyadari keberadaan ujian ketika menghadapi sesuatu yang tidak disukai. Kenikmatan juga menjadi ujian mengenai bagaimana seseorang menggunakan apa yang telah diberikan kepadanya.
Baca juga: Bacaan Doa agar Lancar Menjawab saat Sidang Skripsi dan Ujian Lisan
Adi Hidayat juga menjelaskan hubungan antara musibah dan perbuatan manusia sebagaimana disinggung dalam Surat Asy-Syura ayat 30.
Allah SWT berfirman:
“Musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri dan (Allah) memaafkan banyak (kesalahanmu).”
Menurut Adi Hidayat, bentuk ujian yang dihadapi seseorang dapat berkaitan dengan pilihan dan jalan hidup yang ditempuhnya.
Seseorang yang memilih profesi dokter, misalnya, akan berhadapan dengan berbagai ujian dalam dunia kedokteran. Demikian pula seseorang yang memilih jalan sebagai ulama akan menghadapi dinamika dan ujian yang berkaitan dengan aktivitas keulamaan.
Perbuatan buruk juga dapat membawa konsekuensi bagi pelakunya. Korupsi, misalnya, dapat mendatangkan persoalan sebagai akibat dari pilihan dan tindakan seseorang.
Dengan demikian, menurut Adi Hidayat, manusia perlu memahami bahwa sebagian keadaan yang dihadapi dalam kehidupan dapat berkaitan dengan pilihan yang telah dibuat sebelumnya.
Adi Hidayat kemudian menjelaskan cara menghadapi musibah dengan merujuk pada iman kepada qada dan qadar.
Langkah pertama adalah menerima ketetapan Allah. Menurut dia, seseorang perlu menghindari terus-menerus mempertanyakan mengapa suatu peristiwa harus terjadi pada dirinya.
Penerimaan terhadap ketetapan tersebut dapat membantu seseorang menenangkan hati sebelum menentukan tindakan selanjutnya.
Dikutip dari majelistabligh.id, setelah menerima keadaan, seseorang perlu mencari jalan keluar yang baik dan produktif sesuai dengan persoalan yang dihadapi.
“Cara paling gampang mengatasi musibah itu: pasrah dan serahkan semua itu dengan menerima sebagai ketetapan Allah, apa pun bentuknya. Lalu cari solusi yang baik sesuai petunjuk. Itulah isi sabar yang sesungguhnya,” ujar Adi Hidayat.
Dengan demikian, sabar dalam menghadapi musibah tidak berarti berhenti berusaha. Setelah menerima sesuatu yang telah terjadi sebagai ketetapan Allah, seseorang tetap perlu berikhtiar mencari solusi terbaik.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT