Editor
KOMPAS.com - Maulid atau hari kelahiran Nabi Muhammad SAW disebut jatuh pada hari Senin, 12 Rabiul Awal 571 M.
Dilansir dari laman Kemenag, Waktu kelahiran tersebut memiliki hikmah tersendiri, termasuk alasan mengapa Nabi Muhammad SAW tidak dilahirkan pada hari atau bulan yang dianggap memiliki keutamaan khusus dalam Islam.
Baca juga: Kapan Libur Maulid Nabi 2026? Cek Tanggal dan Status Liburnya
Maulid Nabi Muhammad SAW diperingati setiap tahun oleh umat Islam di berbagai penjuru dunia.
Peringatan tersebut menjadi momentum untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus meneladani budi pekerti dan nilai-nilai luhur yang beliau ajarkan.
Baca juga: Maulid Nabi 2026 Tanggal Berapa? Cek Jadwal Libur, Cuti Bersama, dan Long Weekend
Keterangan mengenai hari kelahiran Nabi Muhammad SAW juga dikaitkan dengan hadis tentang keutamaan puasa Senin. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ, وَبُعِثْتُ فِيهِ, أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ
Artinya: “Itu (puasa Senin) hari aku dilahirkan, aku diutus, atau hari wahyu diturunkan kepadaku,” (HR Muslim).
Berdasarkan keterangan tersebut, kelahiran Nabi Muhammad SAW disebut terjadi pada hari Senin.
Adapun bulan kelahirannya adalah Rabiul Awal, yang secara umum disebut bertepatan dengan 12 Rabiul Awal.
Allah tidak memilih kelahiran Nabi Muhammad SAW pada malam Lailatul Qadar, malam Nishfu Sya’ban, hari Jumat, ataupun malam Jumat.
Kelahiran beliau juga tidak terjadi pada bulan Ramadan, yakni bulan ketika Al-Qur’an diturunkan, maupun pada asyhurul hurum atau bulan-bulan yang dimuliakan dalam Islam.
Pilihan waktu kelahiran tersebut dinilai memiliki hikmah. Jalaluddin As-Suyuthi menjelaskan sejumlah hikmah tersebut dalam karyanya Husnul Maqshid fi Amalil Mawlid dengan mengutip pendapat Ibnul Haj Al-Abdari Al-Maliki Al-Fasi.
Ibnul Haj, sebagaimana dikutip Jalaluddin As-Suyuthi, menyebut empat hikmah di balik kelahiran Nabi Muhammad SAW pada hari Senin dan bulan Rabiul Awal.
Penjelasan tersebut tercantum dalam Husnul Maqshid fi Amalil Mawlid (Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: tanpa tahun), halaman 67-68.
Hikmah pertama berkaitan dengan hari Senin. Menurut Ibnul Haj, Senin merupakan hari ketika Allah menciptakan pohon.
Penciptaan pohon tersebut kemudian dikaitkan dengan berbagai sumber makanan dan rezeki manusia.
Hari Senin menjadi pengingat atas penciptaan makanan pokok, rezeki, aneka buah, serta berbagai kebaikan yang menjadi kebutuhan manusia dan memberikan kesenangan bagi hati.
Dengan demikian, kelahiran Nabi Muhammad SAW pada hari Senin dipandang memiliki keterkaitan dengan berbagai bentuk kenikmatan dan kebaikan yang diberikan Allah kepada makhluk-Nya.
Hikmah kedua berkaitan dengan nama bulan Rabiul Awal. Secara etimologi, kata “Rabi” berarti musim semi.
Makna tersebut dipandang sebagai isyarat dan optimisme. Dalam konteks ini, Abu Abdirrahman As-Shaqli mengatakan, “Setiap orang memiliki ‘nasib’ (baik) dari namanya.”
Nama Rabi yang bermakna musim semi kemudian dikaitkan dengan suasana tumbuh, berkembang, dan hadirnya berbagai kebaikan. Kelahiran Nabi Muhammad SAW pada bulan tersebut dipandang memiliki makna yang baik dalam penjelasan Ibnul Haj.
Hikmah ketiga masih berkaitan dengan makna Rabi sebagai musim semi. Musim semi dinilai sebagai musim yang paling pas, adil, dan terbaik.
Gambaran tersebut kemudian dikaitkan dengan syariat yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Syariat Nabi Muhammad SAW dipandang sebagai syariat yang paling adil dan paling toleran.
Dengan demikian, waktu kelahiran Nabi Muhammad SAW pada bulan Rabiul Awal dipahami memiliki kesesuaian simbolis dengan ajaran yang beliau bawa.
Hikmah keempat berkaitan dengan kemuliaan waktu kelahiran Nabi Muhammad SAW. Menurut Ibnul Haj, Allah memang menghendaki waktu tersebut menjadi mulia karena kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Jika Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada waktu yang sebelumnya telah dikenal sebagai waktu yang mulia, menurut penjelasan tersebut, manusia dapat mengira bahwa kemuliaan Nabi Muhammad SAW berasal dari waktu kelahirannya.
Karena itu, kelahiran Nabi Muhammad SAW pada hari dan bulan tersebut justru menunjukkan bahwa waktu itu menjadi mulia karena kelahiran beliau.
Empat hikmah yang dijelaskan Ibnul Haj memberikan perspektif mengenai pemilihan hari Senin dan bulan Rabiul Awal sebagai waktu kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Penjelasan tersebut mencakup makna hari Senin, arti Rabi sebagai musim semi, kesesuaian musim semi dengan keadilan syariat, serta kemuliaan waktu yang dikaitkan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Kelahiran Nabi Muhammad SAW pada Senin 12 Rabiul Awal menjadi momentum yang setiap tahun dikenang oleh umat Islam.
Peringatan Maulid Nabi juga dapat menjadi kesempatan untuk memahami kembali keteladanan dan ajaran yang dibawa Rasulullah SAW.
Empat hikmah tersebut menunjukkan bahwa pembahasan mengenai waktu kelahiran Nabi Muhammad SAW tidak hanya berkaitan dengan tanggal, tetapi juga dengan makna dan nilai yang dikaitkan dengannya.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT