Editor
KOMPAS.com — Upaya perlindungan gajah Sumatera mendapat dukungan berupa lima unit ambulans khusus satwa atau animal ambulance serta upaya pencegahan Elephant Endotheliotropic Herpesvirus (EEHV).
Lima ambulans tersebut disiapkan untuk membantu proses evakuasi dan penanganan medis awal terhadap satwa liar, khususnya gajah.
Kendaraan dilengkapi fasilitas untuk menunjang penanganan medis dan pekerjaan dokter hewan di lapangan, termasuk ketika menangani satwa di daerah terpencil dan sulit dijangkau.
Baca juga: Arab Saudi Buka Wisata Safari Satwa Liar, 10.000 Hewan Dilepas ke Alam
Dukungan tersebut merupakan bagian dari kerja sama konservasi yang melibatkan Kementerian Kehutanan, Vantara dari India, dan Faunaland Indonesia.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni memberikan apresiasi terhadap kolaborasi tersebut dalam rangkaian peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026.
Tema HKAN tahun ini, "Konservasi Alam: Kerja Bersama Merawat Alam Indonesia", menekankan pentingnya keterlibatan berbagai pihak dalam menjaga keanekaragaman hayati Indonesia.
Selain dukungan ambulans satwa, upaya perlindungan gajah Sumatra juga diarahkan pada pencegahan Elephant Endotheliotropic Herpesvirus atau EEHV.
EEHV merupakan virus yang dapat menyebabkan penyakit serius pada gajah.
Kerja sama dalam penanganan kesehatan gajah telah dilakukan sejak 2025.
Pada akhir tahun tersebut, Kementerian Kehutanan bekerja sama dengan tim dokter hewan spesialis gajah dari Vantara untuk melakukan pemeriksaan kesehatan dan langkah pencegahan terhadap ancaman EEHV pada gajah Sumatra.
Baca juga: Way Kambas Kebakaran, Bagaimana Nasib Gajah dan Siapa yang Diduga Membakar?
Tim dokter hewan juga melakukan pemeriksaan awal untuk mempelajari kondisi kesehatan dan kesejahteraan gajah di Indonesia.
Selanjutnya, dukungan pencegahan EEHV direncanakan dilakukan melalui penyediaan vaksin.
Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas penanganan kesehatan gajah sekaligus membantu mencegah risiko penyakit pada satwa tersebut.
Dalam perspektif Islam, menjaga kelestarian satwa juga berkaitan dengan tanggung jawab manusia terhadap bumi dan makhluk hidup di dalamnya.
Al-Qur'an dalam Surat Al-An'am ayat 38 menyebut hewan yang ada di bumi dan burung yang terbang sebagai "umat-umat seperti kamu".
Ayat tersebut menunjukkan bahwa hewan merupakan bagian dari ciptaan Allah yang memiliki kehidupan dan komunitasnya sendiri.
MUI dalam fatwanya menyebut manusia diciptakan Allah SWT sebagai khalifah di bumi yang mengemban amanah dan tanggung jawab untuk memakmurkan bumi beserta seluruh isinya.
Satwa langka, termasuk gajah, juga memiliki peran dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Karena itu, manusia memiliki kewajiban untuk menjaga kelestarian lingkungan dan mencegah terjadinya kerusakan.
MUI dalam fatwa tersebut juga menyatakan bahwa membunuh, menyakiti, menganiaya, memburu, maupun melakukan tindakan yang mengancam kepunahan satwa langka hukumnya haram, kecuali terdapat alasan yang dibenarkan secara syariat.
Fatwa tersebut turut merekomendasikan pemerintah untuk melakukan perlindungan dan pelestarian satwa langka, mencegah perburuan dan perdagangan ilegal, mengatasi konflik antara manusia dan satwa, serta menjaga kesejahteraan hewan.
Upaya perlindungan satwa membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, lembaga konservasi, akademisi, hingga mitra internasional.
CEO Faunaland Danny Gunalen mengatakan, kerja sama dibutuhkan untuk memperkuat kemampuan Indonesia dalam melakukan konservasi satwa.
"Kami percaya konservasi tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan kerja bersama, pertukaran pengetahuan, serta dukungan teknologi dan keahlian agar upaya perlindungan satwa di Indonesia semakin kuat dan berkelanjutan," ujar Danny.
Kolaborasi tersebut diharapkan tidak hanya membantu penanganan kesehatan gajah, tetapi juga memperkuat upaya jangka panjang dalam menjaga kelestarian satwa liar dan keseimbangan ekosistem.
Dalam perspektif Islam, ikhtiar tersebut sejalan dengan amanah manusia untuk memperlakukan makhluk hidup dengan baik dan menjaga bumi dari kerusakan.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT