Editor
KOMPAS.com - Sebagai manusia biasa yang juga diutus sebagai teladan bagi seluruh umat, Nabi Muhammad SAW tidak lepas dari emosi, termasuk marah.
Namun, cara beliau mengekspresikan kemarahan sangat berbeda dari kebanyakan orang, yakni terkendali, bertujuan jelas, dan hampir selalu bukan untuk kepentingan pribadi.
Bagaimana sebenarnya sosok Rasulullah SAW ketika sedang marah?
Islam tidak pernah menggambarkan Nabi Muhammad SAW sebagai sosok yang mustahil marah.
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW sendiri bersabda, "Ya Allah, sesungguhnya Muhammad adalah manusia, dapat marah sebagaimana manusia marah."
Baca juga: Nabi Muhammad Menjadi Yatim Sejak dalam Kandungan, Begini Masa Kecil Rasulullah
Pengakuan ini menegaskan bahwa marah adalah bagian dari fitrah manusia yang juga dimiliki oleh seorang nabi.
Sekaligus menjadi dasar bahwa umat Islam tidak perlu memaksakan diri untuk sepenuhnya menekan rasa marah, melainkan belajar mengelolanya dengan bijak sebagaimana yang dicontohkan.
Dalam tradisi bahasa Arab, marah dikenal dengan istilah ghadhab, yang merupakan lawan kata dari ridha atau kerelaan.
Dikutip dari NU Online, marah tidak selalu bermakna negatif. Dalam konteks tertentu, marah justru dapat menjadi bentuk reaksi positif, terutama ketika didasarkan pada pembelaan terhadap nilai-nilai agama dan kebenaran.
Sebaliknya, marah yang tercela adalah marah yang tidak terkendali dan didasari oleh hawa nafsu semata.
Baca juga: Nama 25 Nabi dan Rasul Beserta Mukjizatnya, Lengkap dengan Ulul Azmi
Meski Rasulullah SAW pernah marah, ekspresi kemarahannya sangat jarang terjadi dan tidak pernah berlebihan.
Gambaran umum tentang bentuk kemarahan Rasulullah biasanya terlihat lewat perubahan raut wajah yang menunjukkan ketidaksenangan, bukan melalui luapan kata-kata kasar atau tindakan kekerasan.
Salah satu riwayat yang masyhur diceritakan oleh Abu Hurairah RA. Suatu ketika seorang laki-laki meminta nasihat kepada Nabi SAW. Beliau hanya menjawab singkat, "Jangan marah."
Orang tersebut mengulangi permintaannya berkali-kali, namun jawaban Nabi tetap sama, "Jangan marah" (HR Bukhari).
Dalam kesempatan lain, Rasulullah SAW juga bersabda bahwa orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, melainkan orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah (HR Bukhari).
Pesan-pesan ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW sangat menekankan pentingnya pengendalian diri, bukan berarti melarang manusia untuk merasakan emosi marah sama sekali.
Salah satu ciri paling menonjol dari kemarahan Rasulullah SAW adalah bahwa hal itu tidak pernah dipicu oleh kepentingan pribadinya.
Sebagaimana diulas NU Online, konteks marahnya Rasulullah bukan karena beliau dihina atau direndahkan secara personal, melainkan karena kebenaran yang dilanggar atau ajaran Allah yang didustakan.
Kemarahan Rasulullah semata-mata karena Allah (lillah), bukan karena ego atau kepentingan golongan.
Salah satu kisah yang menggambarkan hal ini adalah peristiwa permintaan keringanan hukuman untuk seorang perempuan bangsawan Quraisy yang tertangkap mencuri pada masa Fathu Makkah.
Ketika Usamah bin Zaid, sahabat yang sangat dicintai Rasulullah, mencoba meminta keringanan, raut wajah Nabi SAW berubah menandakan ketidaksenangan.
Rasulullah bersabda, "Apakah engkau meminta syafaat untuk pelanggaran terhadap ketentuan hukum Allah?" Rasul kemudian menegaskan dalam khutbahnya bahwa kehancuran umat-umat terdahulu disebabkan oleh ketidakadilan, yakni ketika orang-orang terpandang dibiarkan lolos dari hukum sementara rakyat kecil dihukum dengan tegas.
Rasulullah bahkan bersumpah bahwa seandainya putrinya sendiri, Fatimah binti Muhammad, yang mencuri, beliau tetap akan menegakkan hukum yang sama.
Selain soal penegakan hukum, Rasulullah SAW juga pernah menunjukkan kemarahan ketika menyaksikan perpecahan di kalangan umat Islam.
Dikisahkan dalam riwayat Sa'ad bin Abi Waqqash, ketika sekelompok pasukan Muslim berselisih pendapat dan sebagian di antaranya bertindak sendiri tanpa berkoordinasi, Rasulullah SAW menegur keras perpecahan tersebut.
Beliau mengingatkan bahwa kehancuran umat-umat terdahulu juga disebabkan oleh perpecahan di antara mereka sendiri.
Contoh lain datang dari riwayat yang disampaikan KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), yang menceritakan kemarahan sahabat-sahabat Nabi ketika salah seorang dari mereka membunuh seseorang yang sudah mengucapkan kalimat syahadat di tengah peperangan.
Peristiwa ini menjadi pelajaran bahwa penegakan prinsip dan nilai kemanusiaan dalam Islam tidak bisa dikompromikan, bahkan dalam situasi genting sekalipun.
Kajian yang termuat dalam buku "Ketika Rasul Marah: Memahami Hikmah dan Etika di Balik Kemarahan Nabi SAW" karya Muhammad Ali Utsman Mujahid, mencatat setidaknya 61 kisah kemarahan Rasulullah SAW yang dilengkapi penjelasan dari ulama-ulama besar seperti Ibnu Katsir, Imam an-Nawawi, dan Ibnu Hajar al-Asqalani.
Dari kisah-kisah tersebut, tergambar jelas bahwa kemarahan Rasulullah bukan ekspresi kepentingan pribadi atau ego kelompok, melainkan bentuk ketegasan dalam menjaga prinsip-prinsip Islam dan memperbaiki hubungan sosial.
Kemarahan beliau selalu terarah pada waktu, tempat, dan cara yang tepat, sehingga berfungsi sebagai mekanisme untuk mencegah kemungkaran sekaligus melindungi kebaikan.
Melalui teladan ini, umat Islam diajak memahami bahwa marah bukan sekadar luapan emosi yang harus dihindari sepenuhnya, melainkan dapat diarahkan menjadi kekuatan positif apabila disertai kebijaksanaan dan pengendalian diri.
Sikap Rasulullah SAW ketika marah menjadi pelajaran penting bagi umat Islam di masa kini.
Marah bukanlah hal yang harus ditekan mati-matian, tetapi harus dikelola dengan penuh kesadaran, ditujukan untuk kebenaran, dan tidak dilampiaskan secara berlebihan yang justru merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT