Editor
YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir mengungkapkan alasan kenapa struktur kepemimpinan Muhammadiyah tidak memiliki Dewan Syuro.
Haedar mengatakan, fungsi otoritas spiritual (spiritual authority) dan otoritas instrumental (instrumental authority) melekat dalam diri ketua di setiap tingkat kepemimpinan.
Konsep tersebut berlaku mulai dari Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah, Pimpinan Daerah, hingga Pimpinan Cabang Muhammadiyah.
Baca juga: Apa Itu Zuhud? Haedar Nashir: Bukan Hidup Serba Kekurangan
Penjelasan itu disampaikan Haedar dalam Training High Impact Leader and Manager yang diselenggarakan Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) PP Muhammadiyah di Hotel Grand Rohan, Yogyakarta, dikutip dari majelistabligh.id, Sabtu (5/9/2026).
“Kami menyatukan seluruh fungsi tersebut. Siapa pun yang dipercaya memimpin di lingkungan PP Muhammadiyah hingga PWM, pada dasarnya adalah seorang pemimpin yang wajib memiliki kemampuan manajerial,” kata Haedar.
Menurut Haedar, kepemimpinan di Muhammadiyah tidak cukup hanya mengandalkan wibawa spiritual.
Ketika seseorang terpilih atau memperoleh amanah sebagai ketua, ia juga dituntut menguasai tata kelola organisasi. Dengan demikian, peran sebagai pemimpin keagamaan dan manajer organisasi berada dalam satu figur kepemimpinan.
Integrasi kedua fungsi tersebut membuat seorang ketua Muhammadiyah harus mampu memberikan arah dan keteladanan sekaligus memastikan program organisasi berjalan secara efektif.
Baca juga: 6 Prinsip dan Karakter Kepemimpinan Muhammadiyah Menurut Haedar Nashir
Selain menjelaskan konsep kepemimpinan, Haedar membagikan pengalamannya dalam menyusun kerangka kebijakan dan program kerja Muhammadiyah.
Ia mengatakan, sejak masa kepemimpinan Din Syamsuddin, penyusunan program di Muhammadiyah dilakukan dengan menggunakan pendekatan ilmiah dan kajian akademik.
Pada masa itu, PP Muhammadiyah juga menghadirkan Andrew E.B. Tani, penulis buku Get Real: Berdayakan Manager-Leader dalam Diri Anda, untuk memperkaya perspektif dalam perumusan program organisasi.
Namun, menurut Haedar, Muhammadiyah tidak serta-merta mengadopsi seluruh teori kepemimpinan dan manajemen dari Barat. Berbagai teori tersebut dikaji dan disaring untuk menentukan gagasan yang sesuai dengan kebutuhan organisasi.
“Kebijakan dan desain format program di PP Muhammadiyah merupakan hasil kerja-kerja keilmuan, bukan asal dirumuskan,” ujar Haedar.
Muhammadiyah, lanjut dia, terbuka terhadap perkembangan teori kepemimpinan dan manajemen modern. Namun, teori tersebut tetap perlu dipadukan dengan pengalaman nyata di lapangan.
Perpaduan antara kajian keilmuan dan pengalaman praktis itu menjadi landasan Muhammadiyah dalam merumuskan kebijakan serta menjalankan program organisasi.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT