Editor
KOMPAS.com — Zuhud kerap dipahami sebagai sikap menjauhi kehidupan dunia dengan memilih hidup serba kekurangan. Padahal, zuhud bukan berarti seseorang harus hidup dalam kesusahan atau nestapa.
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, zuhud justru menempatkan kesederhanaan secara proporsional, yakni tidak berlebihan tetapi juga tidak berkekurangan.
Pandangan tersebut disampaikan Haedar dalam peluncuran buku "Fakih yang Zahid di Era Pudarnya Kepakaran: 70 Tahun Prof. Syamsul Anwar", Senin (31/8/2026).
Baca juga: 6 Prinsip dan Karakter Kepemimpinan Muhammadiyah Menurut Haedar Nashir
Menurut Haedar, pemahaman yang menyamakan zuhud dengan kehidupan serba kekurangan masih banyak ditemukan di tengah masyarakat, baik di Indonesia maupun di dunia Islam.
Ia tidak sepakat apabila kehidupan yang serba kekurangan kemudian diagungkan seolah-olah menjadi puncak kebaikan akhlak. Pandangan semacam itu dapat menimbulkan kesan bahwa semakin seseorang hidup dalam kesusahan, semakin baik pula kualitas dirinya.
Padahal, zuhud tidak mengharuskan seorang Muslim meninggalkan kehidupan dunia ataupun menolak tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya.
Haedar mencontohkan sikap tersebut melalui pengalaman sejumlah pimpinan Muhammadiyah yang pada awalnya tidak berkeinginan menduduki jabatan organisasi.
Keengganan mengejar jabatan, menurut dia, tidak berarti seseorang harus menolak ketika mendapatkan amanah yang dapat memberikan manfaat.
"Sebenarnya semua kita ini tidak ingin, tetapi amanah baik itu jika ditunaikan oleh orang baik, dan lebih baik itu kan jadi amal jariyah yang utama," ujar Haedar.
Dengan demikian, sikap zuhud tidak identik dengan menarik diri dari tanggung jawab. Amanah justru dapat menjadi jalan untuk melakukan kebaikan selama dijalankan dengan tujuan yang benar.
Baca juga: Muhammadiyah Ucapkan Selamat ke Pimpinan Baru PBNU, Haedar: Perkuat Ukhuwah
Haedar juga mengingatkan agar pemaknaan terhadap zuhud tidak membuat seseorang terjebak dalam fatalisme.
Fatalisme merupakan pandangan yang menganggap segala sesuatu telah ditentukan oleh nasib sehingga manusia seolah tidak memiliki ruang untuk berikhtiar dan melakukan perubahan.
Menurut Haedar, sikap zuhud tetap harus berjalan beriringan dengan kehidupan yang dinamis, termasuk dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
"Sebagaimana tokoh-tokoh Muhammadiyah, terlebih dalam aspek keilmuan. Tetapi dinamis, bahkan progresif itu tetap dalam Muhammadiyah itu selalu ada bingkainya," tuturnya.
Sikap dinamis dan progresif tersebut, menurut Haedar, tetap membutuhkan pedoman agar tidak kehilangan arah.
Dikutip dari laman Muhammadiyah, Haedar menyebut terdapat tiga bingkai yang menjadi pedoman dalam Muhammadiyah, yakni Al Quran, As Sunnah, dan ijtihad.
Ketiganya penting karena kemampuan dan pengetahuan manusia memiliki keterbatasan.
Karena itu, perkembangan pemikiran dan ilmu pengetahuan tidak semestinya membuat manusia merasa paling mengetahui segala sesuatu atau menempatkan dirinya melampaui tuntunan Al Quran dan Sunnah Nabi.
Dengan pemahaman tersebut, zuhud bukan berarti meninggalkan dunia ataupun memilih hidup dalam kekurangan.
Sikap zuhud justru menempatkan kehidupan dunia secara proporsional sembari tetap menjalankan amanah, mengembangkan ilmu, dan melakukan ikhtiar untuk menghadirkan kebaikan.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT