Editor
KOMPAS.com - Asosiasi Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) membentuk kanal komunikasi khusus bagi tour leader yang tengah mendampingi jamaah umrah di tengah gangguan penerbangan akibat sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau.
Langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat koordinasi dan memastikan penanganan jamaah yang terdampak berjalan optimal.
Baca juga: Erupsi Anak Krakatau, Kemenhaj: Penyelenggara Umrah Jangan Paksa Keberangkatan
Dilansir dari Antara, Ketua Umum Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (Himpuh) Muhammad Firman Taufik mengatakan pihaknya sedang mendata anggota yang terdampak gangguan penerbangan.
Himpuh juga memperkuat komunikasi dengan berbagai pihak untuk memastikan kebutuhan jamaah dapat ditangani.
Baca juga: Biro Umrah Diminta Tak Telantarkan Jemaah yang Terdampak Erupsi Anak Krakatau
"Saat ini Himpuh sedang mendata anggota kami yang terdampak, membuat kanal komunikasi khusus untuk para tour leader yang sedang membersamai jamaah, dan melakukan komunikasi intens dengan pihak-pihak terkait," ujar Firman di Jakarta, Senin (7/9/2026).
Menurut Firman, kanal komunikasi tersebut dibutuhkan untuk mempercepat penyampaian informasi kepada anggota yang berada langsung bersama jamaah.
Informasi tersebut mencakup kondisi jamaah yang masih berada di Indonesia, dalam perjalanan, maupun yang tertahan di Arab Saudi.
Koordinasi penanganan gangguan penerbangan juga dilakukan bersama Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj).
Kemenhaj telah membentuk kanal komunikasi khusus dengan asosiasi penyelenggara umrah yang melibatkan sejumlah pemangku kepentingan.
Koordinasi tersebut mencakup maskapai penerbangan dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub).
Langkah ini dilakukan untuk menyelaraskan informasi dan penanganan terhadap jamaah yang terdampak perubahan operasional penerbangan.
Firman mengatakan sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau berpotensi menimbulkan kerugian dan biaya tambahan bagi jamaah umrah.
Kondisi tersebut terutama dapat terjadi ketika sejumlah fasilitas yang telah menjadi bagian dari paket perjalanan ikut terdampak.
Jamaah dapat menghadapi risiko akibat penerbangan yang tertunda atau dialihkan.
Dampaknya antara lain berkaitan dengan fasilitas hotel, visa, hingga tiket pesawat yang telah termasuk dalam paket umrah.
"Risiko buat jamaah, kehilangan fasilitas hotel, visa, pesawat yang merupakan bagian dari paket umrah, bisa juga risiko biaya karena ada fasilitas dadakan yang harus mereka tanggung secara mandiri," kata dia.
Firman menjelaskan gangguan penerbangan dapat berdampak kepada jamaah dalam beberapa kondisi.
Pertama, jamaah yang hendak berangkat ke Arab Saudi tetapi masih berada di bandara keberangkatan yang operasionalnya ditutup akibat kondisi penerbangan.
Kedua, jamaah yang masih berada di Arab Saudi, baik di Jeddah maupun Madinah, dan mengalami penundaan keberangkatan menuju Indonesia. Kondisi tersebut dapat terjadi ketika bandara tujuan di Tanah Air mengalami penutupan atau pembatasan operasional.
Ketiga, jamaah yang berada di negara transit dalam perjalanan menuju Indonesia juga berpotensi terdampak. Hal itu terjadi apabila penerbangan lanjutan mereka mengalami gangguan.
"Keempat, jamaah yang mendarat tidak di bandara tujuan. Misalnya tujuan awalnya Jakarta, tetapi kemudian dialihkan ke Malaysia, Singapura, Aceh, Kertajati, dan lainnya," kata Firman.
Senada dengan Firman, Ketua Umum Sarikat Penyelenggara Umrah Haji Indonesia (Sapuhi) Syam Resfiadi mengatakan penyesuaian jadwal penerbangan menjadi salah satu persoalan yang cukup krusial.
Gangguan penerbangan akibat abu vulkanik dapat memengaruhi jadwal kedatangan maupun keberangkatan.
Perubahan tersebut berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap berbagai layanan yang diterima jamaah umrah.
Sapuhi berharap gangguan penerbangan dapat segera berakhir sehingga operasional penerbangan umrah kembali berjalan normal.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT