Editor
KOMPAS.com - Amalan shalat dhuha yang dikerjakan di pagi hari kerap dikaitkan dengan bentuk ibadah atau ikhtiar untuk membuka pintu rezeki.
Sebagian umat muslim bahkan menganggapnya sebagai salah satu amalan yang dilakukan semata-mata demi untuk berharap rezeki duniawi berupa harta atau kekayaan.
Namun, benarkah shalat dhuha adalah ibadah yang secara khusus ditujukan untuk meminta atau mendatangkan rezeki?
Baca juga: Doa Setelah Shalat Dhuha: Arab, Latin, dan Artinya
Pemahaman terkait shalat dhuha dan ikhtiar untuk membuka pintu rezeki dapat dirunut dari pengertian dan hakikat shalat itu sendiri.
Dilansir dari laman Muhammadiyah, shalat dhuha adalah shalat sunnah yang dikerjakan pada permulaan siang, yaitu pada waktu naiknya matahari sampai matahari berkulminasi yaitu berada di tengah.
Baca juga: 5 Keutamaan Shalat Dhuha dalam Hadis Rasulullah SAW, dari Ampunan Dosa hingga Istana di Surga
Hal ini berdasarkan hadis Nabi SAW yaitu: “Nabi saw telah mewasiatkan aku agar melaksanakan shalat dhuha dua raka’at. Dan ‘Itban bin Malik berkata: Aku pernah bersama Rasulullah saw dan Abu Bakar ra di waktu pagi hari hingga siang mulai meninggi, lalu kami berbaris di belakangnya kemudian shalat dua raka’at.” [HR al-Bukhari]
Secara etimologi, shalat berarti doa, sedangkan doa merupakan keinginan yang ditujukan kepada Allah swt.
Sementara, secara terminologi, sholat adalah ucapan dan perbuatan dalam bentuk tertentu yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam.
Pengertian tersebut menunjukkan bahwa hakikat doa tidak terlepas dari shalat. Dalam bacaan dan gerakan shalat terdapat permohonan kepada Allah sekaligus sikap merendahkan diri di hadapan-Nya dengan mengakui keagungan Allah.
Baik shalat fardhu maupun shalat sunat pada hakikatnya bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Kedekatan seorang hamba kepada Allah juga berkaitan dengan terkabulnya doa, sebagaimana firman Allah: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.” [QS. al-Baqarah (2): 186]
Berdasarkan keterangan tersebut, tidak ada sholat yang secara khusus ditujukan untuk meminta rezeki, termasuk sholat dhuha.
Meski demikian, hal tersebut tidak mengurangi kedudukan shalat dhuha sebagai ibadah sunnah yang sangat dianjurkan oleh Nabi SAW.
Doa sholat dhuha yang sudah umum dibaca oleh masyarakat muslim tidak ditemukan di dalam kitab-kitab hadis maupun kitab-kitab fikih.
Majelis Tarjih Muhammadiyah tidak menemukan hadis yang menerangkan dan mengajarkan lafal-lafal atau doa-doa tertentu setelah selesai menunaikan shalat dhuha.
Sejauh yang ditemukan, lafadz doa tersebut terdapat dalam kitab Syarah Minhaj dan I’anatut-Thalibin.
Meskipun doa tersebut tidak berasal dari Nabi SAW, bukan berarti umat Islam tidak boleh membacanya setelah menunaikan shalat dhuha.
Hal yang tidak boleh adalah meyakini bahwa doa tersebut berasal dari Nabi SAW dan harus dibaca setelah sholat dhuha.
Dengan demikian, membaca doa setelah shalat dhuha tetap dapat dilakukan selama tidak meyakini bahwa lafaz tertentu merupakan doa yang secara khusus diajarkan Nabi saw untuk dibaca setelah shalat dhuha.
Dalam ushul fiqih dikenal lafaz amar atau perintah, yaitu tuntutan yang mengandung beban hukum untuk dikerjakan.
Setiap lafaz amar menunjuk kepada dan menuntut suatu maksud tertentu, dengan salah satu bentuk tuntutannya adalah doa.
Amar yang diucapkan seorang hamba kepada Tuhannya tentu tidak dapat dimaknai sebagai amar dalam pengertian perintah.
Oleh karena itu, amar yang terdapat pada lafaz “Wa in kana haraman fa thahhirhu … ” merupakan amar yang bermakna permohonan atau doa.
Dengan demikian, permohonan rezeki yang terdapat dalam doa setelah shalat dhuha tidak menjadikan shalat dhuha sebagai shalat khusus untuk mencari rezeki.
Namun, shalat dhuha tetap merupakan ibadah sunnah, sedangkan doa yang dibaca setelahnya dapat menjadi bentuk permohonan seorang hamba kepada Allah.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT