Editor
SURABAYA, KOMPAS.com — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terpilih KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin berjanji tidak akan melupakan PWNU Jawa Timur meski nantinya lebih banyak berkegiatan di Jakarta.
Gus Kikin mengatakan, pencalonannya sebagai Ketua Umum PBNU dalam Muktamar Ke-35 NU merupakan penugasan dari PWNU Jawa Timur.
“Saya bersyukur muktamar berjalan lancar dan keputusan PWNU Jatim menugasi saya juga sukses. Namun, saya tidak akan melupakan Jawa Timur meski akan lebih banyak menghabiskan waktu di Jakarta,” kata Gus Kikin dalam Tasyakuran dan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kantor PWNU Jawa Timur, Surabaya, Selasa (8/9/2026).
Baca juga: Gus Kikin Targetkan Kepengurusan PBNU 2026-2031 Rampung 30 Hari usai Muktamar
Di hadapan jajaran pengurus PWNU Jawa Timur, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, itu berjanji tetap meluangkan waktu untuk mengunjungi kantor PWNU Jawa Timur.
“Saya akan tetap mengupayakan mampir, mungkin satu bulan sekali pada hari Selasa,” ujarnya dikutip dari NU Online.
Kantor PWNU Jawa Timur berada di Jalan Masjid Al-Akbar Timur Nomor 9, Gayungan, Kota Surabaya.
Wakil Rais PWNU Jawa Timur KH Abdul Matin Djawahir turut menyampaikan rasa syukur atas kelancaran Muktamar Ke-35 NU yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
Ia juga bersyukur karena Ketua PWNU Jawa Timur dapat mengemban amanah baru sebagai Ketua Umum PBNU.
Menurut Abdul Matin, salah satu capaian penting dalam muktamar tersebut adalah penggunaan mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU.
“Bukan hanya terpilihnya Gus Kikin, tetapi perjuangan PWNU Jawa Timur agar pemilihan pimpinan PBNU, baik Rais Aam maupun Ketua Umum PBNU, melalui AHWA juga berhasil,” kata Abdul Matin.
Ia membandingkannya dengan Muktamar NU 2015 yang menerapkan mekanisme AHWA hanya untuk memilih Rais Aam.
Baca juga: Ketum PBNU Gus Kikin Pulang ke Tebuireng, Disambut Ribuan Santri dan Lantunan Ya Lal Wathan
Abdul Matin menjelaskan, penerapan mekanisme AHWA memungkinkan proses pemilihan pimpinan NU berlangsung melalui musyawarah untuk mencapai mufakat.
Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Bejagung, Tuban, tersebut, mekanisme itu juga menegaskan kedudukan Rais Aam sebagai mandataris tertinggi dalam muktamar.
“Ini merupakan upaya memperkuat supremasi syuriyah dalam kepemimpinan NU dan itu, alhamdulillah, berhasil,” ujarnya.
Mekanisme AHWA memberikan mandat kepada sejumlah kiai yang dipilih peserta muktamar untuk bermusyawarah dan menentukan pemimpin organisasi. Cara tersebut digunakan untuk mengedepankan tradisi musyawarah dalam proses regenerasi kepemimpinan NU.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT