KOMPAS.com - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dr. Agus Taufiqurrahman mengajak generasi muda untuk tidak membatasi cita-cita profesi, tetapi menjadikan Islam sebagai fondasi dalam setiap langkah kehidupan.
Menurutnya, seorang Muslim dapat menjadi dokter, guru, peneliti, pengusaha, seniman, maupun profesi lainnya selama terus mengenal Islam dengan baik dan menjadikannya pedoman untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Pesan tersebut disampaikan Agus dalam pembinaan kader Muhammadiyah.
Baca juga: Haedar Nashir Ungkap Alasan Muhammadiyah Tidak Memiliki Dewan Syuro
Ia menegaskan, Islam tidak mengarahkan umat pada satu jenis pekerjaan tertentu, melainkan membentuk manusia yang memiliki ilmu, akhlak, dan tanggung jawab dalam profesi yang dijalani.
“Jadilah apa saja, tetapi kenalilah Islam dengan baik sehingga menjadi lebih baik,” ujar Agus.
Menurutnya, kemajuan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh banyaknya tenaga profesional, tetapi juga oleh hadirnya insan yang memiliki integritas dan menjadikan nilai-nilai agama sebagai kompas moral dalam bekerja.
Agus menjelaskan, sering kali anak muda memandang agama dan karier sebagai dua pilihan yang berbeda. Padahal dalam pandangan Islam, profesi merupakan bagian dari ikhtiar untuk memberi manfaat kepada sesama manusia.
Ia mengatakan, seorang dokter dapat mengamalkan ajaran Islam melalui pelayanan yang penuh kasih kepada pasien.
Seorang guru menjalankan dakwah dengan mencerdaskan generasi, sementara pelaku usaha menghadirkan nilai keislaman melalui kejujuran dan keadilan dalam aktivitas ekonomi.
Karena itu, menurut Agus, ukuran keberhasilan seorang Muslim bukan terletak pada gelar atau jabatan, melainkan pada seberapa besar manfaat yang dihadirkan melalui pekerjaannya.
Setiap profesi memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi jalan ibadah apabila dijalankan dengan niat yang benar dan akhlak yang baik.
Ia menambahkan bahwa Muhammadiyah sejak awal berdiri membangun pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dan pemberdayaan masyarakat sebagai bukti bahwa ajaran Islam hadir untuk memajukan kehidupan secara menyeluruh.
Baca juga: Dari Yogyakarta Menjangkau Dunia, Jejak Panjang Persebaran Muhammadiyah sejak 1912
Dalam pembinaannya, Agus juga menekankan pentingnya pendidikan yang tidak hanya menghasilkan lulusan siap kerja, tetapi juga melahirkan manusia yang memiliki karakter kuat.
Menurutnya, ilmu pengetahuan harus berjalan beriringan dengan pembinaan akhlak agar seseorang mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan nilai.
Ia mengajak kader Muhammadiyah untuk terus belajar sepanjang hayat, menguasai sains dan teknologi, sekaligus memperdalam pemahaman agama.
Dengan demikian, generasi muda tidak hanya menjadi tenaga profesional yang kompeten, tetapi juga mampu menjadi pemimpin yang berintegritas.
Agus menilai tantangan masa kini bukan sekadar persaingan dunia kerja, melainkan bagaimana menjaga kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial di tengah perkembangan teknologi dan perubahan masyarakat yang semakin cepat.
Agus mengingatkan bahwa Al-Qur'an menghubungkan keimanan dengan amal saleh sebagai dua unsur yang tidak dapat dipisahkan.
Keberhasilan seorang Muslim bukan hanya diukur dari pencapaian duniawi, tetapi juga dari kontribusi nyata yang diberikan kepada lingkungan sekitarnya.
Merujuk firman Allah SWT dalam Surah An-Nahl ayat 97 sebagai landasan bahwa kehidupan yang baik diberikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Man ‘amila ṣāliḥam min żakarin au unṡā wa huwa mu’minun falanuḥyiyannahu ḥayātan ṭayyibah, wa lanajziyannahum ajrahum bi’aḥsani mā kānū ya‘malūn.
Artinya: “Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.”
Ayat tersebut menegaskan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh kehidupan yang baik melalui iman dan amal saleh, tanpa dibedakan oleh latar belakang maupun profesi yang dipilih.
Agus menilai cita-cita menjadi profesional merupakan sesuatu yang positif selama diarahkan untuk kemaslahatan.
Ia mendorong generasi muda agar tidak sekadar mengejar prestise pekerjaan, tetapi bertanya bagaimana profesi tersebut dapat memberi manfaat bagi masyarakat.
Baginya, seorang arsitek dapat membangun ruang yang layak bagi kehidupan, peneliti menghasilkan inovasi yang menyelesaikan persoalan, sementara petani menghadirkan ketahanan pangan bagi banyak orang.
Semua pekerjaan memiliki nilai yang sama mulianya ketika dilakukan dengan amanah.
Ia juga mengingatkan bahwa mengenal Islam tidak berhenti pada pengetahuan tentang ibadah ritual. Pemahaman agama harus membentuk cara berpikir, mengambil keputusan, hingga bersikap etis dalam kehidupan profesional.
Karena itu, pesan “jadilah apa saja” bukan sekadar dorongan memilih profesi, melainkan ajakan untuk menjadikan setiap pekerjaan sebagai ruang beribadah, menebar manfaat, dan terus mengenal Islam agar menjadi pribadi yang lebih baik.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT