Editor
KOMPAS.com - Ahmad Zainudin (25), warga Tlogomulyo, Pedurungan, Kota Semarang, tampil dalam cabang tilawah disabilitas netra pada Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 di Semarang.
Bagi Ahmad, keikutsertaan tersebut menjadi pengalaman pertamanya mengikuti MTQ tingkat nasional setelah bertahun-tahun mempelajari dan menghafalkan Al-Qu'ran dengan mengandalkan pendengaran.
Baca juga: Pameran Kaligrafi Internasional Jadi Bagian dari MTQ Nasional XXXI, Tampilkan Karya dari 50 Negara
Sebelum memasuki ruangan khusus juri, Ahmad sempat bersholawat untuk mengurangi rasa grogi.
Tanpa memegang mushaf sebagai panduan utama, dia kemudian menarik napas panjang dan melantunkan Surah Ali Imran ayat 189 yang menjadi bacaannya dalam perlombaan pada Minggu (13/9/2026).
"Kalau kesulitan insyaallah alhamdulillah enggak ada, lancar saja," kata Ahmad seusai tampil.
Baca juga: Sejarah MTQ di Indonesia, dari Lomba Tilawah hingga Ajang Nasional
Ahmad merupakan penyandang tunanetra sejak lahir. Penglihatannya saat ini diperkirakan hanya tersisa sekitar 5 sampai 6 persen.
Untuk berjalan di tempat yang sudah dikenalnya, Ahmad masih dapat melakukannya sendiri setelah menghafal jalurnya. Namun, ketika berada di lokasi yang belum dikenalnya, dia membutuhkan bantuan teman atau pendamping.
Kondisi tersebut tidak menghalanginya untuk mempelajari Al-Qu'ran. Justru dari keterbatasan penglihatan itu, Ahmad menemukan metode belajar dengan memaksimalkan pendengaran dan ingatannya.
Perjalanan Ahmad menjadi penghafal Al-Qu'ran tidak dimulai dengan mudah. Ketika pertama kali belajar, dia mengaku kesulitan membaca Al-Qu'ran karena tidak dapat mengandalkan halaman mushaf seperti orang dengan penglihatan normal.
Kesulitan tersebut sempat membuat Ahmad hampir menyerah. Dia bahkan pernah berpikir untuk berhenti berusaha dan menjalani kehidupan tanpa memikirkan keterbatasannya.
"Sampai-sampai saya dulu itu mau frustrasi. Sampai saya berpikir, saya sudah begini, saya mau nakal saja lah, enggak apa-apa," kalakar Ahmad saat mengingat awal dia belajar.
Pandangan Ahmad kemudian berubah setelah bertemu seseorang di Jawa Timur. Orang yang disebutnya seorang kakek itu memberikan teguran singkat tentang kemampuan yang sebenarnya masih dimiliki Ahmad.
"Waktu itu saya di Jatim, ada teman saya, dia cerita yang negur saya itu orang tua kakek-kakek. Dia bilang kamu dikasih telinga untuk mendengar. Kamu dikasih pikiran. Kamu dikasih mulut. Kamu dikasih hati."
Orang tersebut kemudian pergi, tetapi nasihat itu terus teringat oleh Ahmad. Dia mulai menyadari bahwa pendengaran dapat digunakan sebagai cara untuk mempelajari Al-Qu'ran.
Jika tidak dapat membaca dengan mengandalkan penglihatan, Ahmad memilih mendengarkan bacaan Al-Qu'ran berulang kali. Bacaan tersebut kemudian disimpan dalam ingatannya.
"Manfaatnya telinga itu untuk mendengar. Terus manfaatnya pikiran itu untuk mengingat-ingat dan manfaatnya hati itu untuk menyimpan," katanya.
Sejak saat itu, Ahmad membangun metode belajarnya sendiri. Dia mendengar bacaan Al-Qu'ran, mengingatnya melalui pikiran, lalu menanamkannya dalam hati.
Cara tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanannya menghafalkan Al-Qu'ran.
Ahmad mulai serius mempelajari Al-Qu'ran ketika berusia 16 tahun. Pada 2017, dia masuk Pondok Pesantren Al Khairot di Jepara untuk belajar sekaligus menghafalkan Al-Qu'ran.
Dia mengaku beruntung karena bertemu dengan guru-guru yang bersedia membimbingnya. Dengan metode mengandalkan pendengaran, Ahmad membutuhkan waktu sekitar tiga tahun untuk menyelesaikan hafalan 30 juz.
Dalam sehari, Ahmad biasanya menghafalkan sekitar satu lembar. Dia mendengarkan bacaan yang hendak dihafalkan secara berulang, kemudian menyimpannya dalam ingatan.
Selain mendengarkan bacaan dari orang lain, Ahmad juga memanfaatkan rekaman bacaan Syekh Mishary Rasyid untuk membantu proses menghafalnya.
Bagi Ahmad, pendengaran menjadi semacam "mata" dalam proses menghafal. Bacaan yang masuk melalui telinga terus diulang dalam pikirannya hingga benar-benar melekat.
Ketika ada bagian hafalan yang terlupa, Ahmad dapat memanfaatkan mushaf Braille milik temannya untuk menemukan kembali bacaan yang dibutuhkan.
"Saya sering pinjam teman, karena mushaf Braille ini lumayan mahal. Saat ini proses saya menabung," ujarnya.
Hafal 30 juz bukan menjadi akhir perjalanan Ahmad bersama Al-Qu'ran. Setelah menyelesaikan hafalannya, dia kemudian tertarik mendalami seni membaca atau tilawah Al-Qu'ran.
Untuk mempersiapkan diri mengikuti perlombaan, Ahmad menjalani latihan secara lebih serius selama sekitar satu tahun. Latihan tersebut mencakup teknik pernapasan, menjaga suara agar tidak serak, hingga melatih cengkok saat membaca Al-Qu'ran.
"Persiapannya satu tahun. Penuh dengan teknik pernapasan, teknik untuk menghilangkan suara serak, untuk melancarkan cengkok," ujarnya.
Menurut Ahmad, mengajarkan Al-Qu'ran kepada penyandang tunanetra juga membutuhkan kesabaran dari seorang guru. Peserta tunanetra memiliki cara belajar yang berbeda, terutama karena pendengaran menjadi salah satu sarana utama untuk mengenali dan mengingat bacaan.
"Ustaz yang mengajar tunanetra itu memang harus benar-benar sabar, benar-benar ikhlas," katanya.
Ahmad bersyukur karena mendapatkan guru yang bersedia membimbingnya dengan tulus dalam proses belajar Al-Qu'ran dan mengembangkan kemampuan tilawahnya.
Kemampuan Ahmad dalam tilawah kemudian membawanya mengikuti berbagai ajang Musabaqah Tilawatil Quran. Pengalamannya dimulai dari tingkat Kecamatan Kalinyamatan, sebelum berlanjut ke MTQ tingkat Kabupaten Jepara.
Pada 2018, Ahmad mengikuti STQ di Donohudan. Setelah itu, perjalanannya berlanjut ke tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Pada 2022, Ahmad meraih juara harapan satu dalam ajang MTQ tingkat Provinsi Jawa Tengah. Setahun kemudian, dia kembali mengikuti ajang serupa yang digelar di Pati dan berhasil meraih juara dua.
Pada 2025, Ahmad mengikuti MTQ tingkat Provinsi Jawa Tengah di Tegal dan kembali meraih juara dua.
Rangkaian pengalaman tersebut akhirnya mengantarkan Ahmad ke panggung MTQ Nasional 2026. Ajang di Semarang menjadi pengalaman pertamanya bertanding di tingkat nasional dan mempertemukannya dengan peserta terbaik dari berbagai daerah di Indonesia.
Meski telah memiliki pengalaman dan prestasi di tingkat daerah, Ahmad tidak menjadikan gelar juara sebagai tujuan utama dalam keikutsertaannya di MTQ Nasional 2026.
Dia justru ingin memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperdalam ilmu tilawah. MTQ Nasional mempertemukannya dengan pembina dan peserta yang memiliki pengalaman lebih luas dalam bidang tersebut.
Beberapa pembina yang disebut Ahmad antara lain Ustaz Yasir Arafat, Kiai Sofwan Hadi, Ustaz Mursyid Qori dan Kiai Fathullah Al-Wasi.
"Harapan saya di tahun ini bukan niat mencari juara. Saya niatnya untuk mempelajari tilawah Al-Qu'ran itu lebih dalam," katanya.
Selain belajar, Ahmad menikmati kesempatan bertemu dengan orang-orang yang sama-sama menekuni Al-Qu'ran.
Menurutnya, berada di tengah para pembaca dan penghafal Al-Qu'ran memberikan pengalaman tersendiri karena dia merasa berada bersama orang-orang yang memiliki "frekuensi" yang sama.
Kegiatan Ahmad bersama Al-Qu'ran tidak berhenti ketika perlombaan selesai. Dalam kesehariannya, dia kerap mendapat undangan untuk mengaji di tengah masyarakat.
Undangan tersebut membawanya mengisi kegiatan mengaji di sejumlah wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sebelum tampil membaca Al-Qu'ran, Ahmad juga memiliki kebiasaan bersholawat untuk mempersiapkan diri.
Bagi Ahmad, hubungan dengan Al-Qu'ran bukan sekadar tentang perlombaan. Ketertarikannya terhadap tilawah sudah muncul sejak pertama kali mendengar lantunan seorang qari.
Bacaan tersebut meninggalkan kesan mendalam dan membuatnya merasakan ketenangan.
"Saya pertama kali mendengar qori itu terenyuh. Ada sensasi yang membuat hati saya tenang dan damai," ujarnya.
Kini, Ahmad berharap kemampuan tilawahnya terus berkembang dan hafalan 30 juz yang dimilikinya tetap terjaga.
"Saya merasakan bahagia ketika sudah menghafal semua, dan mudah-mudahan hafalan saya ini bisa sampai dunia dan akhirat," kata Ahmad.
Artikel ini telah tayang di TribunJateng.com dengan judul “Sosok Ahmad Zainudin, Tunanetra yang Hafal 30 Juz Tampil di MTQ Nasional Semarang”.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.