Editor
KOMPAS.com - Bahagia dan nikmat kerap dianggap sebagai hal yang sama karena keduanya dapat membuat seseorang merasa senang.
Namun, dalam pandangan Islam, bahagia dan nikmat adalah dua hal yang berbeda.
Baca juga: Sudah Menikmati Banyak Hal tetapi Belum Bahagia, Mengapa?
Dilansir dari laman muhammadiyah.or.id, Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Rahmadi Wibowo, menjelaskan perihal perbedaan bahagia dan dalam pandangan Islam.
Menurutnya, bahagia atau saadah merupakan kondisi batin yang ditandai ketenangan jiwa, ketentraman hati, dan kelapangan dada.
Baca juga: 4 Tanda Kebahagiaan dalam Islam Menurut hadits, Ada Tetangga Baik hingga Pasangan Salih
Sementara itu, nikmat merupakan kesenangan yang dapat dirasakan melalui panca indra dan umumnya berlangsung dalam waktu lebih singkat.
“Kalau kebahagiaan pada umumnya dirasakan di dalam diri, batin itu panjang dan lama,” ungkap Rahmadi pada Ahad (13/9/2026) dalam Kajian Ahad Pagi di Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta.
Menurutnya, kenikmatan memiliki durasi yang lebih pendek. Salah satu contohnya adalah rasa enak yang dirasakan lidah ketika seseorang sedang makan. Sensasi tersebut umumnya hanya terasa selama aktivitas makan berlangsung, kemudian berkurang setelahnya.
Hal serupa dapat terjadi pada sesuatu yang dinikmati melalui mata. Objek yang menyenangkan secara visual biasanya tidak memberikan rasa yang sama dalam waktu panjang karena manusia dapat mengalami kejenuhan atau menemukan objek baru yang dianggap lebih menarik.
Rahmadi menjelaskan, kebahagiaan dalam Islam tidak cukup diukur dari kenikmatan yang dapat ditangkap oleh pancaindra. Kebahagiaan justru berkaitan dengan kondisi batin yang dapat bertahan lebih lama.
Karena itu, dalam urusan rumah tangga, seseorang tidak seharusnya hanya mengukur hubungan dari kenikmatan yang bersifat fisik dan terindra. Hubungan rumah tangga juga perlu dibangun melalui kedekatan batin dan hubungan yang baik antarpasangan.
Rahmadi Wibowo menambahkan, konsep sakinah ma waddah wa rahmah dalam relasi rumah tangga juga perlu melibatkan aspek batin. Kehidupan rumah tangga tidak cukup dibangun hanya berdasarkan satu aspek fisik.
Pakar Hadis UAD ini menjelaskan bahwa dalam terma bahasa Arab, bahagia disebut saadah. Menurutnya, kebahagiaan bagi seorang muslim memiliki tiga tanda, yaitu ketenangan jiwa atau jiwa yang tenang, hati yang tenteram, dan dada yang lapang.
“Semua itu dihasilkan dari keistikamahan perilaku baik. Baik berbuat baik, dan adanya kedekatan kepada Allah,” tuturnya.
Dengan demikian, kebahagiaan tidak hanya berkaitan dengan keadaan yang menyenangkan secara lahiriah. Perilaku baik yang dilakukan secara istiqamah serta kedekatan kepada Allah menjadi bagian yang membentuk ketenangan dalam diri seorang muslim.
Mengutip akhir surat Al Baqarah ayat 262, Rahmadi menjelaskan bahwa ketiadaan rasa takut dan sedih dalam hati berkaitan dengan tuntunan Islam agar umatnya terus memiliki harapan yang baik.
Banyak ulama menjelaskan bahwa puncak harapan baik yang harus dimiliki setiap muslim adalah kembali ke surga dan mendapat ampunan dari Allah SWT.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.