Penulis
KOMPAS.com — Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga memberikan tuntunan tentang bagaimana seseorang berkomunikasi dan memperlakukan sesamanya.
Dalam kehidupan sehari-hari, ucapan terkadang dianggap sebagai sesuatu yang sepele. Padahal, perkataan dapat menyakiti hati, merendahkan martabat, bahkan menimbulkan permusuhan.
Karena itu, Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga lisan. Seorang Muslim diperintahkan berkata baik dan dilarang mengucapkan perkataan kasar, mencela, mencaci, atau menghina orang lain.
Baca juga: Surah Al-Hujurat: Larangan Menghina dan Makna Khairun Minhum
Larangan menghina secara tegas disebutkan dalam Al-Qur'an, salah satunya dalam Surat Al-Hujurat ayat 11.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, mereka itulah orang-orang yang zalim." (QS Al-Hujurat: 11)
Ayat tersebut mengandung larangan terhadap beberapa bentuk perilaku yang dapat merendahkan orang lain, mulai dari mengolok-olok, mencela, hingga memberikan panggilan atau julukan yang buruk.
Islam bahkan mengingatkan bahwa seseorang yang dihina belum tentu lebih rendah daripada orang yang menghina. Bisa jadi orang yang menjadi sasaran ejekan justru memiliki kedudukan yang lebih baik di sisi Allah SWT.
Islam tidak hanya melarang perkataan buruk, tetapi juga memerintahkan umatnya mengucapkan perkataan yang baik.
Allah SWT berfirman:
وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ
Artinya:
"Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, 'Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar).' Sungguh, setan itu (selalu) menimbulkan perselisihan di antara mereka." (QS Al-Isra: 53)
Ayat ini menunjukkan bahwa perkataan memiliki dampak besar terhadap hubungan antarmanusia. Perkataan yang buruk dapat menjadi pintu perselisihan, sedangkan perkataan yang baik dapat menjaga hubungan dan meredam konflik.
Nabi Muhammad SAW juga memberikan perhatian besar terhadap persoalan lisan.
Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya:
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam." (HR Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut memberikan prinsip sederhana tetapi sangat penting: apabila sebuah perkataan tidak membawa kebaikan, seorang Muslim dianjurkan untuk memilih diam.
Diam bukan berarti tidak peduli. Dalam banyak keadaan, diam justru menjadi bentuk kehati-hatian agar seseorang tidak mengucapkan sesuatu yang dapat menyakiti atau merugikan orang lain.
Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa seorang Muslim tidak seharusnya memiliki kebiasaan mencela, melaknat, berkata keji, atau berkata kasar.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ، وَلَا اللَّعَّانِ، وَلَا الْفَاحِشِ، وَلَا الْبَذِيءِ
Artinya:
"Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, suka melaknat, berkata keji, dan berkata kasar." (HR Tirmidzi)
Hadis ini memperlihatkan bahwa menjaga lisan merupakan bagian dari akhlak seorang mukmin.
Keimanan seseorang tidak hanya tercermin dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam cara dia berbicara dan memperlakukan orang lain.
Salah satu akar dari kebiasaan menghina adalah merasa diri lebih tinggi daripada orang lain.
Padahal, manusia tidak mengetahui secara pasti kedudukan seseorang di hadapan Allah SWT.
Allah berfirman dalam Surat Al-Hujurat ayat 13:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Artinya:
"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (QS Al-Hujurat: 13)
Ayat tersebut menegaskan bahwa ukuran kemuliaan di sisi Allah bukanlah harta, jabatan, popularitas, rupa, suku, ataupun status sosial, melainkan ketakwaan.
Karena itu, merendahkan orang lain merupakan sikap yang patut dihindari. Seseorang bisa saja terlihat memiliki banyak kekurangan di mata manusia, tetapi memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah.
Perkataan kasar tidak selalu berbentuk makian secara langsung. Menghina fisik, mengejek keluarga, merendahkan pekerjaan seseorang, memberikan julukan yang tidak disukai, mempermalukan orang di depan umum, hingga menyebarkan ucapan yang merendahkan juga dapat menjadi bentuk perilaku yang bertentangan dengan akhlak Islam.
Terlebih di era media sosial, perkataan dapat menyebar jauh lebih cepat. Sebuah komentar yang ditulis dalam hitungan detik dapat dibaca oleh ribuan bahkan jutaan orang.
Karena itu, seorang Muslim perlu mempertimbangkan sebelum menulis atau mengucapkan sesuatu: apakah perkataan tersebut benar, bermanfaat, dan disampaikan dengan cara yang baik?
Allah SWT berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Artinya:
"Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)." (QS Qaf: 18)
Ayat ini mengingatkan bahwa perkataan manusia tidak berlalu begitu saja. Setiap ucapan berada dalam pengetahuan dan pencatatan Allah SWT.
Islam tidak melarang seseorang menyampaikan kritik atau mengoreksi kesalahan. Namun, kritik tidak harus disampaikan dengan hinaan, cacian, atau kata-kata kasar.
Perbedaan pendapat juga tidak menjadi alasan untuk merendahkan martabat orang lain.
Dalam menyampaikan nasihat, Al-Qur'an mengajarkan pentingnya perkataan yang baik. Bahkan ketika menghadapi orang yang memiliki kesalahan besar, Allah SWT memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun berbicara dengan cara yang lembut kepada Fir'aun.
Allah berfirman:
فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ
Artinya:
"Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut." (QS Taha: 44)
Jika kepada Fir'aun saja Nabi Musa dan Nabi Harun diperintahkan menggunakan perkataan yang lembut, maka seorang Muslim tentu semakin dituntut menjaga tutur kata ketika berinteraksi dengan sesama.
Pada akhirnya, menjaga ucapan bukan sekadar persoalan etika sosial, tetapi bagian dari akhlak Islam.
Baca juga: Menghina Fisik dalam Pandangan Islam
Seorang Muslim hendaknya membiasakan diri berbicara dengan jujur, sopan, lembut, dan bermanfaat. Ketika marah, ia perlu menahan diri agar kemarahan tidak berubah menjadi cacian. Ketika berbeda pendapat, ia tetap menghormati orang lain. Ketika melihat kesalahan, ia dapat mengingatkan tanpa merendahkan.
Sebab, sebuah perkataan mungkin hanya keluar dalam beberapa detik, tetapi luka yang ditimbulkannya bisa bertahan jauh lebih lama.
Karena itu, sebelum berbicara, seorang Muslim dapat mengingat pesan Rasulullah SAW: berkata baik atau diam.
Menjaga lisan berarti menjaga kehormatan orang lain, menjaga hubungan sesama manusia, sekaligus menjaga diri dari perkataan yang kelak dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.