
WORKSHOP untuk pesantren rintisan tengah berjalan. Bulan ini sudah masuk batch 4. Total sudah 2000 lebih. Sejauh ini, peminatnya terus membludak.
Saya mulai dari Jawa Barat lalu melompat ke Jawa Timur saat Muktamar ke-35 NU kemarin di Jombang, kemudian Jawa Tengah besok minggu 20 September 2026 dan seterusnya untuk provinsi lain. Jika tidak ada aral melintang, workshop pesantren rintisan ini akan kami adakan di Aston hotel.
Ini agak berbeda dengan workshop pesantren transformatif yang seluruhnya kami adakan di Joglo Agung Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2.
Imam Jazuli Foundation menargetkan sampai 10.000 pengasuh pesantren rintisan yang memenuhi syarat untuk mengikuti workshop ini.
Siapakah yang bisa mengikuti workshop ini?
Pertama, workshop ini untuk pengasuh pesantren yang jumlah santrinya kurang dari 100. Kedua, workshop ini untuk sekolah yang ingin mengintegrasikan sistem pesantren di dalamnya. Ketiga, workshop ini untuk mereka yang memiliki aset material dan non material untuk membangun pesantren.
Baca juga: Workshop Pesantren Ungkap Rahasia Beasiswa Luar Negeri dan PTN
Workshop pesantren rintisan ini sebetulnya lanjutan dari workshop pesantren transformatif yang baru saja selesai. Selama tiga bulan, sejak Juni hingga Agustus, Imam Jazuli Foundation menyelenggarakan workshop untuk sebanyak 5.000 pengasuh pesantren di Indonesia, meliputi Jawa dan luar Jawa.
Tujuan utama workshop adalah mengajak dan membekali pesantren yang sudah berjalan agar dapat merespons perubahan dengan cepat dan tepat secara transformatif. Hasil akhir yang diharapkan dari workshop ini adalah peningkatan kuantitas dan kualitas pendidikan pesantren.
Dalam jangka panjang, saya punya mimpi dari pesantren-pesantren ini lahir kader yang akhlaknya luhur dan memiliki kompetensi yang dibutuhkan pembangunan Indonesia. Stigma santri tukang doa harus digugat. Dan pembuktian bahwa santri dapat berperan di wilayah strategis pembangunan tak bisa ditunda.
Selama berinteraksi dengan para kiai yang santrinya 100-3000, yang mengikuti workshop, saya terinspirasi untuk menyampaikan problem dan peluang yang perlu dipahami sejak dini dalam merintis pesantren.
Ditambah dengan bekal pengalaman saya merintis pesantren Bina Insan Mulia, akhirnya saya mantap untuk memulai workshop pesantren rintisan.
Saya mulai merintis Bina Insan Mulia tahun 2013. Jumlah santrinya dimulai dari puluhan, ratusan, dan sekarang mencapai 5000 lebih dengan 10 lembaga pendidikan di dalamnya. Mulai dari SD, SMP, SMA, SMK, Aliyah, dan MTs.
Saya bisa memahami bahwa dalam menerapkan langkah langkah perubahan transformatif, kesuksesan seorang pengasuh tidak semata ditentukan oleh motivasi dan harapan.
Para pengasuh butuh strategi panduan dan keahlian. Inipun masih belum kuat tanpa dukungan power yang otoritatif dalam memutuskan dan mengeksekusi. Di titik inilah saya melihat ada hambatan serius bagi kesuksesan transformasi.
Pertama, banyak pesantren yang tidak mandiri secara kepemimpinan. Keputusan harus diambil secara kolektif. Satu orang saja tidak setuju, keputusan tidak bisa dieksekusi. Model kepemimpinan demikian kerap menghambat .
Kedua, pesantren-pesantren warisan juga kerap menghadapi hambatan transformasi ketika banyak figur yang ingin eksis namun gagal disatukan dalam visi, misi, strategi, dan platform yang utuh.
Artinya, aspek kepemimpinan dan manajemen memainkan peranan sentral. Dari sisi ini, saya melihat ada peluang untuk pesantren rintisan untuk menghasilkan langkah yang lebih bagus ke depan.
Karena masih dalam tahap merintis, maka problem yang akan muncul akibat pembagian power dapat dihindari, dihentikan, atau dapat dicari solusinya dari awal. Untuk topik ini, saya lebih banyak cerita pengalaman pribadi dan orang lain yang pernah melewati.
Saya menargetkan jumlah dua kali lipat dibanding workshop untuk pesantren transformatif, karena memang jumlah pesantren rintisan ini memang lebih banyak.
Harapan dan target saya, ketika 10.000 pesantren rintisan ini berhasil untuk melakukan adaptasi, maka kepercayaan masyarakat terhadap pesantren semakin kuat.
Hari ini, kepercayaan masyarakat masih rendah. Dari sekitar 54 juta lebih penduduk Indonesia berusia sekolah, ternyata hanya sekitar 2,7 juta yang masuk pesantren. Artinya, peluang pesantren masih sangat luas dan untuk merebutnya dibutuhkan perjuangan yang tidak semudah membalik tangan.
Di workshop yang berjalan 4-5 jam, saya akan berbagi terkait hal-hal fundamental yang dibutuhkan pesantren agar dapat merebut kepercayaan dengan cepat.
Itu harus dimulai dari tatanan kelembagaan yang benar dari aspek legal dan organisasional. Selanjutnya, saya akan berbagi pengalaman terkait strategi memilih guru, kepala sekolah, atau pengasuh.
Baca juga: Sex Education untuk Perjuangan Pesantren, Kenapa Itu Penting?
Saya juga akan berbagi strategi menentukan prioritas dalam mendirikan sekolah, menyiasati keterbatasan saat merintis dan membangun brand. Selain itu, saya juga akan berbagi pengalaman bagaimana meyakinkan santri dan wali santri saat di tahapan merintis.
Untuk memperkaya dan memperkuat materi yang saya sampaikan. Saya mengajak sejumlah pakar. Antara lain Kiai Anwar Iskandar Ketum MUI, Gus Ipang untuk branding, Gus Miftah, Basnang Said dari Dirjen Pesantren, dan laiin-lain.
Intinya, workshop pesantren rintisan ini memgajak dan membekali para pengasuh agar bisa adaptif terhadap perubahan sehingga pesantren berkembang dan kepercayaan masyarakat semakin kuat karena ada bukti nyata. Wallahu a'alam bishowab.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.