Editor
JAKARTA, KOMPAS.com — Lulusan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 4 Jakarta, Azizah Jihan Madina, meraih 14 letter of acceptance (LoA) dari sejumlah perguruan tinggi di luar negeri.
Dari belasan tawaran tersebut, Azizah memilih melanjutkan studi sarjana Hubungan Internasional di University of Toronto, Kanada.
Studinya didanai melalui Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) Kementerian Agama.
Azizah memilih jurusan tersebut untuk mempersiapkan diri mengejar cita-citanya menjadi diplomat.
Baca juga: Kisah Adzra, Siswi Madrasah yang Lari 3 Km Setiap Hari demi Jadi Paskibraka Nasional
Ke-14 LoA itu berasal dari Chinese University of Hong Kong Shenzhen, University of Canterbury, North Park University, Graceland University, University of Otago, Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT), Adelaide University, University of Western Australia, University of Alberta, Monash University, Touro University, University of Auckland, University of Toronto St. George, dan University of Toronto Mississauga.
Beberapa universitas turut menawarkan beasiswa kepada Azizah.
North Park University memberikan International Student Grant sebesar 22.000 dollar AS, University of Otago menawarkan Global Scholarship senilai 15.000 dollar Selandia Baru, sedangkan University of Alberta memberikan beasiswa 8.000 dollar Kanada.
Azizah mengatakan, pencapaian tersebut diperoleh melalui persiapan panjang, mulai dari mengikuti IELTS, melengkapi dokumen, menyusun dan mengirimkan aplikasi, hingga menunggu hasil penerimaan dari setiap universitas.
“Yang pasti harus planning dengan matang. Dari akhir kelas 11, saya membuat rencana yang detail tentang berbagai kampus dan beasiswa yang ingin saya daftar, mulai dari negara, jurusan, kualitas universitas, persyaratan, lingkungan, prospek kerja, dan lain-lain,” ujar Azizah di Jakarta, Jumat (18/9/2026).
Selain mempersiapkan dokumen, Azizah menjaga nilai rapornya tetap berada di atas rata-rata 91. Ia juga memperoleh skor IELTS lebih dari 7.
Menurut dia, capaian akademik dan kemampuan bahasa Inggris menjadi faktor penting untuk memperbesar peluang diterima di perguruan tinggi luar negeri.
Baca juga: Prabowo Targetkan Renovasi Sekolah dan Pesantren, 2.120 Madrasah Diusulkan Direvitalisasi
Keinginan melanjutkan pendidikan ke luar negeri baru muncul ketika Azizah duduk di kelas XI akhir.
Sebelumnya, orangtuanya belum memberikan izin karena mempertimbangkan biaya dan kehidupan di negara lain yang belum familier bagi keluarga.
Namun, setelah berdiskusi dan mendapat dorongan dari guru-guru Cambridge di MAN 4 Jakarta, orangtuanya memberikan izin dengan syarat Azizah memperoleh beasiswa penuh.
Dukungan sekolah kemudian membantu Azizah mempersiapkan rencana studinya.
Guru-gurunya mendorong Azizah mengikuti organisasi, kepanitiaan, dan kompetisi, tetapi tetap mengingatkannya untuk menjaga prestasi akademik.
“Guru-guru saya di MAN 4 Jakarta sangat mendukung untuk menekuni bidang yang saya suka, seperti organisasi, kepanitiaan, dan lomba. Namun, mereka terus mengingatkan saya kepada tujuan utama untuk meraih kampus impian dan menyokong saya secara akademis,” ujarnya.
Semasa sekolah, Azizah pernah menjadi Duta Inisiator Muda Moderasi Beragama 2024 yang diselenggarakan Direktorat KSKK Madrasah Kementerian Agama.
Pada 25–31 Oktober 2024, ia juga mewakili MAN 4 Jakarta dalam Workshop Moderasi Beragama bagi Pelajar Lintas Negara MABIMS yang melibatkan peserta dari Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
Di bidang kompetisi, Azizah dua kali meraih juara kedua lomba debat bahasa Indonesia tingkat nasional, masing-masing di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa pada 2023 dan Universitas Pradita pada 2024.
Ia juga meraih juara ketiga lomba menyanyi bahasa Mandarin di Universitas Al Azhar Indonesia pada 2025.
Azizah aktif mengikuti sejumlah forum Model United Nations (MUN), seperti HIMUN Universitas Indonesia, MISJMUN, dan BINTAROMUN. Kemampuan bahasa Mandarinnya ditunjukkan melalui skor 200 dari 200 dalam ujian Hanyu Shuiping Kaoshi (HSK) tingkat 1.
Di bidang organisasi, ia pernah menjadi Wakil Ketua Cambridge Club dan Sekretaris Seksi 5 OSIS MAN 4 Jakarta.
Sebelum memperoleh beasiswa untuk kuliah di Kanada, Azizah telah diterima di Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) pada Mei 2026.
Namun, ia memutuskan mengundurkan diri setelah lolos seleksi Beasiswa Indonesia Bangkit untuk melanjutkan studi di University of Toronto.
Azizah memilih University of Toronto karena jurusan Hubungan Internasional dinilai sejalan dengan cita-citanya menjadi diplomat. Kuliah di luar negeri juga diharapkan memberinya perspektif, pengalaman, dan jejaring internasional.
“Pertimbangan utama saya memilih University of Toronto adalah karena cita-cita saya sebagai diplomat selinear dengan jurusan International Relations yang mengharuskan saya membangun perspektif, paparan, dan koneksi internasional,” tutur dia dalam rilisnya, Sabtu (19/9/2026).
Menurut Azizah, lingkungan akademik di University of Toronto akan mendukungnya mempelajari berbagai persoalan lokal dan global.
Pengetahuan tersebut ingin digunakannya untuk berkontribusi dalam perlindungan pekerja migran Indonesia.
“University of Toronto di Kanada menjadi pilihan saya di antara 14 LoA lainnya karena berbagai kesempatan yang tersedia di negara, kota, dan kampus,” kata Azizah.
“Lingkungan akademisnya akan sangat mendukung studi saya untuk menelaah berbagai permasalahan dan isu lokal maupun global. Ini juga akan menunjang rencana kontribusi saya berkenaan dengan perlindungan pekerja migran Indonesia,” lanjutnya.
Azizah berencana menjadi diplomat setelah menyelesaikan pendidikan. Namun, ia juga menyiapkan pilihan karier sebagai analis atau pembuat kebijakan publik yang berfokus pada kesejahteraan pekerja migran Indonesia.
Pengalaman sebagai Duta Inisiator Muda Moderasi Beragama akan menjadi bekal Azizah ketika berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai latar belakang di Kanada.
Ia ingin membawa nilai inklusivitas dengan menghargai keragaman dan perbedaan di lingkungan internasional.
Nilai lainnya adalah kemampuan beradaptasi dan melihat persoalan dari sudut pandang orang lain.
“Di dunia yang dinamis ini, penting bagi pemuda-pemudi Muslim untuk bersikap supel dan nonetnosentris, yaitu tidak melihat dunia dari kacamata pribadi, melainkan memosisikan diri dari perspektif orang lain,” ujarnya.
Dalam kesehariannya, Azizah menerapkan skala prioritas dan menggunakan alat pencatat perkembangan atau tracker untuk mengatur kegiatan akademik maupun organisasi.
“Satu hal yang mungkin membedakan saya dengan orang lain adalah sistem untuk mengorganisasi kegiatan sehari-hari. Saya menerapkan skala prioritas dan menggunakan tracker untuk memastikan semua kewajiban dan tujuan saya berjalan beriringan,” kata Azizah.
Azizah berharap dapat membawa pulang pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya untuk berkontribusi bagi Indonesia, khususnya dalam meningkatkan perlindungan dan kesejahteraan pekerja migran.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.