Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
KH. Imam Jazuli, Lc. MA
Akademisi dan Pengasuh Ponpes Bina Insan Mulia Cirebon

Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.

Dari Nol Menuju 10.000 Pesantren Rintisan yang Adaptif

Kompas.com, 19 September 2026, 09:33 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

WORKSHOP untuk pesantren rintisan tengah berjalan. Bulan ini sudah masuk batch 4. Total sudah 2000 lebih. Sejauh ini, peminatnya terus membludak.

Saya mulai dari Jawa Barat lalu melompat ke Jawa Timur saat Muktamar ke-35 NU kemarin di Jombang, kemudian Jawa Tengah besok minggu 20 September 2026 dan seterusnya untuk provinsi lain. Jika tidak ada aral melintang, workshop pesantren rintisan ini akan kami adakan di Aston hotel.

Ini agak berbeda dengan workshop pesantren transformatif yang seluruhnya kami adakan di Joglo Agung Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2.

Imam Jazuli Foundation menargetkan sampai 10.000 pengasuh pesantren rintisan yang memenuhi syarat untuk mengikuti workshop ini.

Siapakah yang bisa mengikuti workshop ini?

Pertama, workshop ini untuk pengasuh pesantren yang jumlah santrinya kurang dari 100. Kedua, workshop ini untuk sekolah yang ingin mengintegrasikan sistem pesantren di dalamnya. Ketiga, workshop ini untuk mereka yang memiliki aset material dan non material untuk membangun pesantren.

Baca juga: Workshop Pesantren Ungkap Rahasia Beasiswa Luar Negeri dan PTN

Lanjutan dari Workshop Pesantren Transformatif

Workshop pesantren rintisan ini sebetulnya lanjutan dari workshop pesantren transformatif yang baru saja selesai. Selama tiga bulan, sejak Juni hingga Agustus, Imam Jazuli Foundation menyelenggarakan workshop untuk sebanyak 5.000 pengasuh pesantren di Indonesia, meliputi Jawa dan luar Jawa.

Tujuan utama workshop adalah mengajak dan membekali pesantren yang sudah berjalan agar dapat merespons perubahan dengan cepat dan tepat secara transformatif. Hasil akhir yang diharapkan dari workshop ini adalah peningkatan kuantitas dan kualitas pendidikan pesantren.

Dalam jangka panjang, saya punya mimpi dari pesantren-pesantren ini lahir kader yang akhlaknya luhur dan memiliki kompetensi yang dibutuhkan pembangunan Indonesia. Stigma santri tukang doa harus digugat. Dan pembuktian bahwa santri dapat berperan di wilayah strategis pembangunan tak bisa ditunda.

Selama berinteraksi dengan para kiai yang santrinya 100-3000, yang mengikuti workshop, saya terinspirasi untuk menyampaikan problem dan peluang yang perlu dipahami sejak dini dalam merintis pesantren.

Ditambah dengan bekal pengalaman saya merintis pesantren Bina Insan Mulia, akhirnya saya mantap untuk memulai workshop pesantren rintisan.

Saya mulai merintis Bina Insan Mulia tahun 2013. Jumlah santrinya dimulai dari puluhan, ratusan, dan sekarang mencapai 5000 lebih dengan 10 lembaga pendidikan di dalamnya. Mulai dari SD, SMP, SMA, SMK, Aliyah, dan MTs.

Saya bisa memahami bahwa dalam menerapkan langkah langkah perubahan transformatif, kesuksesan seorang pengasuh tidak semata ditentukan oleh motivasi dan harapan.

Para pengasuh butuh strategi panduan dan keahlian. Inipun masih belum kuat tanpa dukungan power yang otoritatif dalam memutuskan dan mengeksekusi. Di titik inilah saya melihat ada hambatan serius bagi kesuksesan transformasi.

Pertama, banyak pesantren yang tidak mandiri secara kepemimpinan. Keputusan harus diambil secara kolektif. Satu orang saja tidak setuju, keputusan tidak bisa dieksekusi. Model kepemimpinan demikian kerap menghambat .

Kedua, pesantren-pesantren warisan juga kerap menghadapi hambatan transformasi ketika banyak figur yang ingin eksis namun gagal disatukan dalam visi, misi, strategi, dan platform yang utuh.

Artinya, aspek kepemimpinan dan manajemen memainkan peranan sentral. Dari sisi ini, saya melihat ada peluang untuk pesantren rintisan untuk menghasilkan langkah yang lebih bagus ke depan.

Pesantren Menjadi Adaptif

Karena masih dalam tahap merintis, maka problem yang akan muncul akibat pembagian power dapat dihindari, dihentikan, atau dapat dicari solusinya dari awal. Untuk topik ini, saya lebih banyak cerita pengalaman pribadi dan orang lain yang pernah melewati.

Saya menargetkan jumlah dua kali lipat dibanding workshop untuk pesantren transformatif, karena memang jumlah pesantren rintisan ini memang lebih banyak.

Harapan dan target saya, ketika 10.000 pesantren rintisan ini berhasil untuk melakukan adaptasi, maka kepercayaan masyarakat terhadap pesantren semakin kuat.

Hari ini, kepercayaan masyarakat masih rendah. Dari sekitar 54 juta lebih penduduk Indonesia berusia sekolah, ternyata hanya sekitar 2,7 juta yang masuk pesantren. Artinya, peluang pesantren masih sangat luas dan untuk merebutnya dibutuhkan perjuangan yang tidak semudah membalik tangan.

Di workshop yang berjalan 4-5 jam, saya akan berbagi terkait hal-hal fundamental yang dibutuhkan pesantren agar dapat merebut kepercayaan dengan cepat.

Itu harus dimulai dari tatanan kelembagaan yang benar dari aspek legal dan organisasional. Selanjutnya, saya akan berbagi pengalaman terkait strategi memilih guru, kepala sekolah, atau pengasuh.

Baca juga: Sex Education untuk Perjuangan Pesantren, Kenapa Itu Penting?

Saya juga akan berbagi strategi menentukan prioritas dalam mendirikan sekolah, menyiasati keterbatasan saat merintis dan membangun brand. Selain itu, saya juga akan berbagi pengalaman bagaimana meyakinkan santri dan wali santri saat di tahapan merintis.

Untuk memperkaya dan memperkuat materi yang saya sampaikan. Saya mengajak sejumlah pakar. Antara lain Kiai Anwar Iskandar Ketum MUI, Gus Ipang untuk branding, Gus Miftah, Basnang Said dari Dirjen Pesantren, dan laiin-lain.

Intinya, workshop pesantren rintisan ini memgajak dan membekali para pengasuh agar bisa adaptif terhadap perubahan sehingga pesantren berkembang dan kepercayaan masyarakat semakin kuat karena ada bukti nyata. Wallahu a'alam bishowab.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Muhammadiyah: Qiwamah Bukan Kekuasaan, tetapi Tanggung Jawab
Muhammadiyah: Qiwamah Bukan Kekuasaan, tetapi Tanggung Jawab
Aktual
Dari Nol Menuju 10.000 Pesantren Rintisan yang Adaptif
Dari Nol Menuju 10.000 Pesantren Rintisan yang Adaptif
Aktual
H20 2026 Dihadiri 48 Negara, BPJPH Dorong Ekosistem Halal Global Makin Terhubung
H20 2026 Dihadiri 48 Negara, BPJPH Dorong Ekosistem Halal Global Makin Terhubung
Aktual
Hukum Istri Meminta Suami Tinggal Terpisah Sementara untuk Introspeksi
Hukum Istri Meminta Suami Tinggal Terpisah Sementara untuk Introspeksi
Aktual
Dari Australia hingga Jepang, BPJPH Teken 39 Kerja Sama Ekosistem Jaminan Produk Halal
Dari Australia hingga Jepang, BPJPH Teken 39 Kerja Sama Ekosistem Jaminan Produk Halal
Aktual
Mengapa Rasulullah Mendahulukan Sisi Kanan dalam Perkara Mulia?
Mengapa Rasulullah Mendahulukan Sisi Kanan dalam Perkara Mulia?
Aktual
Kisah Azizah, Lulusan Madrasah yang Raih 14 LoA Kampus Luar Negeri
Kisah Azizah, Lulusan Madrasah yang Raih 14 LoA Kampus Luar Negeri
Aktual
Kemenag Batasi Penggunaan Ponsel di Sekolah, Ini Aturan Lengkapnya
Kemenag Batasi Penggunaan Ponsel di Sekolah, Ini Aturan Lengkapnya
Aktual
Hukum Menunda Mandi Junub hingga Waktu Subuh, Bolehkah?
Hukum Menunda Mandi Junub hingga Waktu Subuh, Bolehkah?
Aktual
KHGT Muhammadiyah:1 Ramadhan 1448 H Jatuh pada 8 Februari 2027
KHGT Muhammadiyah:1 Ramadhan 1448 H Jatuh pada 8 Februari 2027
Aktual
100 Tahun Gontor, Puluhan Ribu Santri dan Alumni Sujud Syukur di Masjid Jami Gontor
100 Tahun Gontor, Puluhan Ribu Santri dan Alumni Sujud Syukur di Masjid Jami Gontor
Aktual
Puluhan Ribu Santri dan Alumni Lakukan Sujud Syukur di Peringatan 100 Tahun Gontor
Puluhan Ribu Santri dan Alumni Lakukan Sujud Syukur di Peringatan 100 Tahun Gontor
Aktual
Kemenag Papua: Kerukunan Umat Beragama Jadi Kunci Jaga Perdamaian di Tanah Papua
Kemenag Papua: Kerukunan Umat Beragama Jadi Kunci Jaga Perdamaian di Tanah Papua
Aktual
Tak Hanya di Sekolah, Kemenag Minta Orang Tua Batasi Penggunaan Gawai Anak Paling Lama 2 Jam Sehari
Tak Hanya di Sekolah, Kemenag Minta Orang Tua Batasi Penggunaan Gawai Anak Paling Lama 2 Jam Sehari
Aktual
Kemenag Batasi Penggunaan Gawai di Sekolah, Ini Aturan untuk Murid dan Guru
Kemenag Batasi Penggunaan Gawai di Sekolah, Ini Aturan untuk Murid dan Guru
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar