Penulis
KOMPAS.com — Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH M Cholil Nafis mengingatkan umat Islam agar tidak terlena dengan berbagai nikmat yang diberikan Allah SWT.
Menurut Kiai Cholil, nikmat Allah SWT sangat luas dan tidak akan pernah mampu dihitung manusia. Namun, nikmat tersebut dapat hilang ketika manusia terjebak dalam sifat kufur dan zalim.
“Nikmat kalau kita hitung tidak akan pernah bisa terhitung. Tetapi manusia banyak yang kufur dan zalim. Penyebab hilangnya nikmat itu adalah kekufuran, serta kezaliman saat kita tidak bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya,” ujar Kiai Cholil Nafis dilansir dari situs MUI Digital dan dikonfirmasi ulang, Minggu (20/9/2026).
Baca juga: MUI Minta Menkeu Suahasil Jadikan Zakat Pengurang Pajak Langsung
Ulama kelahiran Madura, 1 Juni 1975, itu menjelaskan, kezaliman dan kekufuran terkadang muncul dalam kehidupan sehari-hari tanpa disadari.
Salah satunya ketika seseorang menganggap kekayaan, kejayaan, jabatan, atau prestasi yang diperolehnya semata-mata merupakan hasil kepintaran dan kerja keras dirinya sendiri.
Padahal, dalam pandangan Islam, seluruh kemampuan yang dimiliki manusia pada hakikatnya merupakan bagian dari nikmat dan karunia Allah SWT.
Kiai Cholil yang juga pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah mengingatkan bahwa nikmat Allah SWT tidak sebatas kekayaan dan materi.
Menurut dia, nikmat yang sering kali luput disyukuri justru merupakan hal-hal mendasar dalam kehidupan, seperti iman, Islam, keluarga yang saleh, kesehatan, serta kesempatan untuk menjalani kehidupan dengan baik.
Ketika manusia tidak menyadari nilai nikmat tersebut, kata dia, terkadang Allah memberikan teguran agar manusia kembali menyadari dan mensyukurinya.
“Kadang-kadang kita perlu 'dijewer' oleh Allah untuk mensyukuri nikmat-Nya. Kita diberikan rasa tidak nyaman atau tidak enak makan, agar kita kembali bisa menikmati dan menghargai nikmatnya makan serta sehat,” kata dia.
Karena itu, rasa sakit atau ketidaknyamanan yang dialami seseorang dapat menjadi momentum untuk melakukan introspeksi dan kembali menyadari berbagai karunia yang selama ini dimiliki.
Dalam Islam, bersyukur tidak cukup hanya dengan mengucapkan alhamdulillah. Rasa syukur juga diwujudkan dengan menggunakan nikmat sesuai dengan tujuan yang diridai Allah SWT.
Seseorang yang diberi harta, misalnya, tidak hanya dituntut mengakui bahwa harta tersebut berasal dari Allah, tetapi juga menggunakannya untuk hal-hal yang baik.
Demikian pula dengan ilmu, kesehatan, kekuasaan, jabatan, maupun kemampuan yang dimiliki. Semuanya merupakan amanah yang akan dipertanggungjawabkan.
Al-Qur'an mengingatkan tentang janji Allah kepada orang-orang yang bersyukur:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat berat.” (QS Ibrahim: 7)
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa syukur memiliki kedudukan penting dalam kehidupan seorang Muslim.
Sebaliknya, mengingkari nikmat atau kufur nikmat merupakan sikap yang harus dihindari.
Kiai Cholil juga mengimbau umat Islam menjauhi sifat sombong dan merasa puas diri atas pencapaian yang telah diperoleh.
Kesuksesan seharusnya tidak membuat seseorang melupakan Allah SWT maupun merendahkan orang lain.
Sebab, kemampuan manusia untuk bekerja, berpikir, berusaha, dan meraih prestasi juga merupakan bagian dari nikmat yang diberikan Allah SWT.
Karena itu, semakin banyak nikmat yang diterima, semestinya semakin besar pula rasa syukur yang tumbuh dalam diri seseorang.
Kiai Cholil mengajak masyarakat untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan membiasakan diri menghargai setiap nikmat, termasuk nikmat yang dianggap kecil.
Nikmat kesehatan, waktu luang, keluarga, makanan, kesempatan beribadah, hingga ketenangan hati merupakan karunia yang sering kali baru terasa nilainya ketika seseorang kehilangannya.
Kiai Cholil yang juga Ketua Badan Pengurus DSN MUI dan CEO Amanah Zakat tersebut menekankan pentingnya menggunakan setiap nikmat pada jalan yang diridai Allah SWT.
Dengan demikian, syukur tidak berhenti sebagai ungkapan lisan, tetapi diwujudkan melalui tindakan.
Harta digunakan untuk membantu sesama, ilmu digunakan untuk memberikan manfaat, kesehatan digunakan untuk beribadah dan berbuat baik, sementara jabatan dan kekuasaan digunakan untuk menegakkan keadilan.
Pada saat yang sama, manusia perlu menghindari sikap merasa paling berjasa atas segala pencapaian yang diperoleh.
Baca juga: MUI Kritik Karnaval Maulid Horor di Pekalongan: Itu Bukan Ajaran Rasulullah
Sebab, kesadaran bahwa semua nikmat berasal dari Allah akan membuat seseorang lebih rendah hati, tidak mudah sombong, serta lebih berhati-hati dalam menggunakan apa yang telah diberikan kepadanya.
Pesan tersebut pada akhirnya mengajak setiap Muslim untuk melihat kembali kehidupan sehari-hari: bukan hanya bertanya “Apa yang belum saya miliki?”, tetapi juga menyadari “Berapa banyak nikmat Allah yang sudah saya terima dan belum saya syukuri?”
Dengan memperbanyak syukur, menjauhi kufur nikmat dan kezaliman, serta menggunakan karunia Allah untuk kebaikan, nikmat yang dimiliki diharapkan tidak hanya membawa kesenangan, tetapi juga keberkahan.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.