Editor
KOMPAS.com - Sheikh Ibrahim Al Madani, muazin Masjidil Haram, Mekkah, meninggal dunia pada Senin (21/9/2026).
Kabar wafatnya mendapat banyak ucapan belasungkawa setelah rekaman azan dan takbirnya kembali beredar luas di media sosial.
Baca juga: Sheikh Ibrahim Al Madani, Muazin Masjidil Haram, Wafat Setelah Kumandangkan Adzan Subuh
Salah satu rekaman tersebut diunggah oleh akun X @insharifain dan hingga Senin sore WIB telah dilihat oleh 48 ribu orang, dan disukai oleh 3 ribu pengguna.
Dilansir dari Gulf News, Sheikh Ibrahim Al Madani merupakan salah satu dari 24 muazin utama di Masjidil Haram.
Sebanyak enam muazin bertugas secara bergiliran setiap hari untuk mengumandangkan azan lima waktu, termasuk azan pertama untuk shalat Subuh.
Baca juga: Muazin Masjid Nabawi Syekh Faisal Nauman Wafat, Mengabdi 25 Tahun Kumandangkan Azan
Sheikh Al Madani dikenal terutama melalui lantunan azan Subuh dan bacaan takbirnya.
Ia juga menjalankan tugas tabligh, yakni menyampaikan kembali takbir dan ucapan imam melalui mikrofon dari tempat khusus muazin agar dapat didengar jamaah di seluruh area Masjidil Haram.
Kabar meninggalnya Sheikh Al Madani kemudian memicu banyak ungkapan belasungkawa di media sosial.
Rekaman suara dan video yang memperlihatkan dirinya mengumandangkan azan serta takbir di Masjidil Haram turut dibagikan secara luas.
Tagar yang mencantumkan nama Sheikh Al Madani juga ramai digunakan setelah kabar wafatnya beredar.
Informasi tersebut beredar di kalangan petugas Dua Masjid Suci dan para pengikut perkembangan muazin di media sosial.
Dilansir dari Khaleej Times, Sheikh Ibrahim Al Madani lahir di Madinah pada 1976 dan tumbuh dalam keluarga yang religius. Ia mendapat pengaruh besar dari kakeknya yang merupakan penghafal Al-Qur'an.
Ia kemudian menempuh pendidikan di bidang studi Al-Qur'an dan memperoleh kualifikasi akademik di bidang tersebut.
Perjalanannya sebagai muazin telah dimulai sejak usia 15 tahun ketika ia mengumandangkan azan di sebuah masjid di lingkungan tempat tinggalnya di Madinah.
Sheikh Ibrahim kemudian menjalankan tugas sebagai muazin bersama tiga warga lain secara bergiliran hingga menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Ia sempat berhenti dari tugas tersebut karena menjalankan pekerjaan mengajar di luar Madinah.
Pada 1428 Hijriah atau 2007–2008, Sheikh Ibrahim kembali mendapat kesempatan mengumandangkan azan di Masjid Al-Maddah.
Ia menjalankan tugas itu hingga kemudian memperoleh kesempatan menjadi muazin di Masjidil Haram, Mekkah.
Ia secara resmi diangkat sebagai muazin Masjidil Haram pada 1439 Hijriah atau 2017–2018.
Latar belakang Sheikh Ibrahim yang tumbuh di Madinah turut membentuk gaya azannya. Ia sangat dipengaruhi tradisi dan karakteristik azan khas Madinah.
Di sisi lain, Sheikh Ibrahim juga mengenal gaya azan khas Mekkah melalui kunjungannya ke kota tersebut bersama ayahnya.
Dalam salah satu kunjungan, ia bertemu Sheikh Abdul Latif Mulla, mantan muazin Masjidil Haram sekaligus sahabat kakeknya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.