Editor
BANDUNG, KOMPAS.com — Wakaf kerap dibayangkan sebagai tanah yang digunakan untuk membangun masjid, madrasah, atau makam.
Padahal, aset wakaf juga dapat dikelola untuk menghasilkan manfaat secara berkelanjutan.
Konsep inilah yang disebut melatarbelakangi pengembangan Basra Gym, tempat olahraga untuk keluarga muslim di Bandung Timur.
Penanggung jawab utama Basra Gym, Ghozalvan Farabi, mengatakan konsep bisnis tempat olahraga tersebut berkaitan dengan wakaf produktif.
Baca juga: Mengintip Basra, Gym Keluarga Muslim di Bandung, Privasi Jadi Perhatian
Badan Wakaf Indonesia (BWI) menjelaskan, wakaf produktif merupakan pengelolaan harta wakaf agar menghasilkan surplus secara berkelanjutan.
Pokok harta dijaga, sedangkan hasil pengelolaannya disalurkan sesuai tujuan wakaf. Karena itu, manfaat wakaf tidak terbatas pada penggunaan langsung sebuah tanah atau bangunan.
Surplus dari pengelolaan aset wakaf, misalnya, dapat dimanfaatkan untuk membiayai kebutuhan pendidikan atau layanan kesehatan bagi masyarakat yang membutuhkan.
Dalam wakaf produktif, kegiatan usaha merupakan cara untuk mengembangkan manfaat aset.
Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf mengatur bahwa harta wakaf dikelola dan dikembangkan oleh nazhir sesuai dengan tujuan, fungsi, dan peruntukannya, serta berdasarkan prinsip syariah.
Pengelolaan produktif dapat mencakup kegiatan usaha dan investasi.
Baca juga: Dokter Ungkap Cara Jaga Kesehatan Tulang Belakang untuk Menunjang Ibadah dan Aktivitas
Ghozalvan mengatakan, Basra Gym dikembangkan untuk keluarga muslim yang ingin berolahraga dengan memperhatikan privasi.
Menurut dia, sebagian calon anggota merasa kurang nyaman di pusat kebugaran umum, sementara orangtua dengan anak kecil juga membutuhkan tempat yang memungkinkan mereka tetap berolahraga.
“Jadi satu keluarga itu bisa nge-gym sama-sama,” ujarnya.
Selain area latihan, Basra Gym menyediakan area bermain dan penitipan anak, kafe, serta kelas untuk kelompok usia dan kebutuhan yang berbeda.
Pengelola juga mengadakan kajian rutin bulanan yang dapat diikuti anggota maupun masyarakat umum.
“Sudah ada beberapa yang minta buka di lokasi lain dan kota lain. Insya Allah ke depan kita akan buka dengan konsep (wakaf produktif) yang sama,” tutup dia.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.